Rekan-Rekan Yth.
Berita dibawah ini saya kira layak menjadi input
bagi kita semua didalam menyikapi pandangan kita
masing-masing terhadap Partai baru yang akan kita
dukung pada Pemilu (kalau jadi) bulan Juni nanti.

Salam,
bRidWaN

---------------------------------------------------------
Sekjen PAN, Faisal Basri:
Beberapa Parpol Baru Jelmaan Kekuatan Orba

Semarang, Bernas
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Amanat Nasional (PAN),
Faisal Basri MA tampaknya hendak kembali membuka kontroversi
baru dalam wacana politik dengan menegaskan tentang adanya
beberapa partai politik (Parpol) baru merupakan partai
jelmaan kekuatan Orde Baru (Orba).

Parpol-parpol itu, bersama empat kekuatan lain, yakni pen-
dukung Soeharto, para preman, para kroni Soeharto serta BUMN,
terus bergerilya guna mempertahankan status quo, kata Faisal
Basri kepada wartawan selepas berbicara dalam "Dialog Visi
Parpol Islam Menuju Masyarakat Madani" yang diadakan UKM
Rohis Islam Undip Semarang di auditorium kampus Undip
Pleburan, Semarang, Sabtu (9/1).

Dalam upayanya itu, lima kekuatan itu bergerak lebih cepat,
terarah dan sistematis, dengan dukungan dana sangat besar.
Mereka juga terus memonitor perkembangan politik guna
mengambil peluang dan melakukan manuver.

Sayangnya Faisal Basri tak bersedia menyebut partai jelmaan
Orba yang dimaksudkannya itu. Ia cuma mengambil perumpamaan,
dari 29 Parpol peserta Pemilu di Kamboja, 20 di antaranya
partai baru, yang merupakan jelmaan kekuatan lama di Kamboja.

"Kalau di Indonesia, untuk sementara kami sudah mengin-
dentifikasi dua-tiga partai. Kami yakin masih banyak partai
yang ada sekarang adalah partai jelmaan," tuturnya.

Karena itulah Faisal Basri mengajak seluruh Parpol pendukung
reforamsi untuk menjalin persatuan guna menjadikan kekuatan
itu sebagai musuh bersama yang harus segera dilenyapkan.

"Jangan sampai kita tercabik-cabik. Kalau itu yang terjadi,
mereka yang akan menang dan kekuatan lama berkuasa kembali,"
ujarnya.

Apa dalam pemerintahan transisi ada kekuatan pro status quo?
Ekonom dari UI Jakarta itu mengatakan, ada beberapa orang
dalam pemerintahan sekarang yang proreformasi seperti Menkeh
Prof Dr Muladi SH, dan belakangan Mendagri Syarwan Hamid
yang berani melawan FKP DPR tentang hak politik pegawai
negeri sipil (PNS).

"Mungkin ia (Syarwan Hamid) ingin membayar dosanya dulu.
Selebihnya banyak pendukung status quo, termasuk Habibie
yang merupakan presiden bermasalah yang tidak bisa
menyelesaikan masalah," tegasnya.

Bukan melunak

Sementara soal pertemuan Ketua Umum DPP PAN, Dr Amien Rais MA
dengan Ketua PBNU, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beberapa hari
lalu, Faisal Basri menilainya bukan berarti sikap Amien Rais
melunak atau lebih akomodatif dalam hal dialog nasional yang
antara lain menghadirkan mantan Presiden Soeharto.

"Amien tetap tidak setuju bila mantan Presiden Soeharto di-
libatkan dalam dialog untuk memecahkan persoalan bangsa.
"Pertemuan itu bukan soal melunak atau lebih akomodatif.
Tetapi merupakan suatu sikap untuk saling mempercayai satu
sama lain. Itu kan bagian silaturahmi yang mereka lakukan.
Itu hanya riak-riak kecil di an- tara perjalanan politik
yang demikian panjang," ujar Faisal Basri.

Pertemuan itu juga dinilai dinamika yang mempertemukan
dua ekstrem dalam menciptakan konvergensi, demi
kepentingan bangsa.
"Tetapi bukan berarti Pak Amien tidak konsekuen lagi dengan
sikapnya. Ia tetap konsekuen. Pak Amien tetap tidak setuju
bila Soeharto terlibat dalam dialog nasional. Soeharto bisa
saja terlibat jika untuk pengusutan harta kekayaannya dan
pertanggungjawaban atas dosa-dosanya," katanya.

Kata Faisal Basri, PAN tidak pernah mengagendakan adanya
pertemuan kedua tokoh tersebut. Kalau tidak ada persoalan
penting yang perlu dibicarakan, pertemuan itu tidak ada
gunanya.

Dialog nasional bukan satu-satunya jalan untuk
menyelesaikan masalah bangsa ini. Banyak alternatif lain.
Bagi PAN, jalan yang dianggap bisa menyelesaikan
persoalan dengan tuntas adalah Pemilu yang Jurdil.

"Untuk ini perlu diciptakan konstruksi agar Pemilu Jurdil.
Kita harus bekerja sama menciptakan kondisi itu," tuturnya.

Soal sikap Amien Rais yang dinilai lebih lunak terhadap
Habibie dibanding Soeharto, Faisal Basri menjelaskan,
pada dasarnya sikap Amien kepada kedua orang itu sama.
Tapi "kadar dosa" Habibie lebih sedikit dibanding
Soeharto yang berlumur darah.

Tapi ia segera mengatakan, "Walau anggapan itu tidak
seluruhnya benar, kita harus juga menyadari walau
satu pabrik, jenis produknya kan tidak sama semua.
Kalau sekadar pertemuan dengan Habibie, itu memang
kerap terjadi".

Apakah karena Amien Rais dan Habibie sama-sama berasal
dari ICMI? "Tidak ada itu," ujar Faisal Basri. (jj)

Kirim email ke