MAHASISWA TETAP AKAN BOIKOT PEMILU

Jika kerusuhan terus terjadi, maka pemilu bisa diambil alih Perserikatan
Bangsa Bangsa (PBB). Jika hal itu terjadi, maka ini akan merupakan
penghinaan bagi pemerintahan Habibie.

Laporan Syahrir dari Jakarta.

Mahasiswa yang tergabung dalam Forum Salemba menyerukan kepada seluruh
Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk menanggalkan sekaligus mengembalikan
seragam Korprinya. Seruan tersebut merupakan sikap mahasiswa terhadap
Golkar yang ngotot untuk dapat mengikutsertakan secara aktif PNS dalam
partai politik. Golkar nampaknya tak memilih iktikad baik untuk
mempersiapkan sebuah pemilu yang demokratis. Dan itu berarti sebuah
panggilan bagi kami untuk terus menyuarakan semangat demokratisasi bagi
negeri ini, kata Agus Haryadi, koordinator Forum Salemba kepada pers di
Jakarta kemarin.

Sebagai awal dari seruan tersebut, sebanyak 50 dosen Universitas Indonesia
Rabu ini di halaman Kampus FK UI Salemba bersama sejumlah pegawai negeri
sipil lain akan melepaskan baju seragam Korpri mereka. Baju-baju tersebut
selanjutnya dikumpulkan secara massal oleh mahasiswa dan diberikan kepada
rakyat.

Sementara itu pengamat politik UI, Arbi Sanit, mengatakan tak tertutup
kemungkinan pemilu 1999 akan diambil alih PBB, jika terlahir
kelompok-kelompok baru anti pemilu sebagaimana yang dilakukan mahasiswa
belakangan ini. Meski demikian pemilu harus tetap dilaksanakan, karena tak
ada cara lain untuk memberikan pembaruan kepada bangsa Indonesia yang
sedang tercabik-cabik di semua lini kehidupannya. Arbi Sanit menunjuk
cara-cara yang dilakukan mahasiswa dengan berbagai kelompoknya seperti
Forkot untuk menentang pelaksanaan pemilu atau penciptaan pembaruan bagi
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.
Sebelumnya Sekretaris Balitbang PDI Perjuangan Wijanarko Puspoyo memberikan
peringatan kepada DPR agar hasil pembahasan RUU Politik tidak hanya
menguntungkan Golkar. Sebab, dengan demikian menimbulkan kerusuhan yang
berkepanjangan. Kekhawatiran serupa juga dikemukakan Komite Independen
Pemantau Pemilu.

Ancaman para mahasiswa untuk memboikot pemilu 1999 tampaknya bukan sekedar
gertak sambal. Sembilan organ mahasiswa yang tergabung dalam Komite
Mahasiswa Bersatu menyatakan menolak pelaksanaan pemilu 7 Juni mendatang,
karena mereka anggap tidak sah dan tidak aspiratif. Pemilu mendatang
dirancang oleh pemerintah yang tidak punya legimitasi di mata
masyarakat. Karena itu kami anggap tidak sah dan tidak aspiratif. Kami juga
melihat masyarakat belum siap menghadapi pemilu tersebut, kata Sumamiharja,
wakil mahasiswa Keluarga Besar Mahasiswa Universitas Indonesia.

Walaupn baru disahkan 28 Januari mendatang, tapi mahasiswa melihat RUU
Pemilu tidak akan merekomendasikan penyelanggaraan pemilu yang demokratis
dan akomodatif terhadap setiap keinginan masyarakat. Karena RUU ini juga
rancangan dari orang yang itu-itu juga.

RANESI

Kirim email ke