On Wed, 13 Jan 1999 11:35:36 +0700, Efron Dwi Poyo wrote:
---------------------------------------------------------
|> Kebetulan rumah saya berdekatan dengan mesjid. Setiap 17
|> Ramadhan selalu ada ceramah dalam rangka Nuzulul Quran.
|> Dalam ceramah tersebut selalu ada ejekan bahkan hujatan
|> terhadap Yesus Kristus. Pertanyaan saya mengapa orang-orang
|> itu tidak ditangkap karena menghujat agama lain? Memang
|> ceramah itu untuk lingkungan terbatas. Namun corong mesjid
|> bisa terdengar sedikitnya dalam radius 500 m. Lain halnya
|> dengan Theo Syafei. Ia berceramah di lingkungan tertutup
|> namun tidak ada corong pengeras suara yang melongok ke
|> luar gedung.
... deleted ...
IA: Membaca tulisan Bung Efron, saya teringat saat saya
"dibombardir" pertanyaan yang sama oleh rekan-rekan
seangkatan yang non-muslim beberapa bulan yll. (selepas
tragedi Mei 1998).
Seorang rekan saya bertanya, kenapa banyak khutbah Jumat
di mesjid-mesjid (khususnya yang berada di lingkungan
perumahan) menyajikan pengkhutbah yang kadang kala
(sengaja atau tidak) telah menghujat pemeluk agama lain
(usually mula-mula quote dari Al-Quran & Hadits, terus
ditambah-tambahi pendapat sendiri yang kadang kala malah
jadi ndak karuan) ? Udah gitu dipancarluaskan ke segala
penjuru dengan loud speaker lagi. Apa nggak ngajak berantem
namanya :-)
Untuk rekan-rekan muslim di milis ini: Bagaimana perasaan
anda seandainya anda adalah warga non-muslim yang mendengar
khutbah tsb. ? Masih mending kalau yang denger orang dewasa,
bagaimana kalau anak kecil ?
Saya pribadi berpendapat bahwa kalau khutbah atau ceramah tsb.
dilakukan di lokasi yang memungkinkan warga non-muslim
mendengarnya, ada baiknya tata letak sound systemnya diperbaiki.
Kalau target audience-nya adalah jamaah sholat Jumat, mungkin
cukup kalau ceramahnya/khutbahnya terdengar di dalam masjid
saja.
Mohon tanggapannya (mudah-mudahan pertanyaan di atas termasuk
"tanggapanable"), khususnya dari rekan-rekan muslim di sini.
Trims anyway!
:-)