---Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kenapa ya... "kecanggihan teknologi" baru terpikirkan sekarang...,
> padahal begitu banyak berita-berita lain yang menghujat dan mencela
> seseorang  tanpa ada yang pernah berpikir tentang "kecanggihan
> teknologi"..???
-----
> >tidak bisa menilai sendiri isi ceramah atau teks ceramah itu.  Karena
> >itu saya tidak mau ikut-ikutan menilai ceramah itu.
---
> Kalo berita tentang pak Adi Sasono dan Pak Soemargono(KISDI) pasti
boleh
> ya dinilai..., malah penilaiannya LUAR BIASA hebatnya...:)
> Iya nih..., marilah kita semua berfikir kritis dalam menanggapi
> informasi di media massa...,selama yang diberitakan itu BUKAN
> KISDI,bp.Adi Sasono, Bp.Habibie,ICMI, dan ormas Islam yang lainnya.
> Kalo beritanya soal bp.Adi Sasono,bp.Habibie,Kisdi dan ormas Islam
yang
> lainnya......., ya TIDAK PERLU lah berfikir kritis, terima aja
beritanya
> mentah-mentah...nggak perlu diteliti lagi..., SIKAT SAJA mereka....:)
> Wassalam
> Mohamad Rosadi

Bung Rosadi yang baik..
Dalam hal ini, saya setuju pendapat anda. Lucu rasanya kalo kita punya
double standard seperti itu. Kalo soal Adi Sasono, atau
Prof.DR.Mubyarto yang mendukung ekonomi rakyat, tiba-tiba saja kita
jadi blingsatan & kebakaran jenggot. Semua info yang jelek2 ditelan
"mentah-mentah". Pokoknya, sikat teruuus...
AS langsung dituding racist - Neo NAZI-lah, Prof.MUBYARTO mungkin
disamakan Karl Marx.
Tapi begitu kasus Theo, orang bilang, "hati-hati", check & recheck,
meskipun beliau (TS) sampai saat ini belum membantah bahwa itu bukan
suaranya.
Mungkinkah karena AS dan Mubyarto itu orang yang serakah, yang
bermewah-mewah, yang sangat kaya, yang selama ini terkenal Soehartois
-- pokoknya segala yang "lebih jelek" dari Mayjend TS aja....:)).
Mayjen TS kan selama ini orang yang bersih, pembela rakyat kecil,
etc-etc. Gitu kali ya..yang bener, hehehee...
Mungkin kita nggak pernah terbayang, bagaimana nasib pedagang
kecil-asongan yang jumlahnya jutaan atau malah puluhan juta, yang
selama ini nyari duit 1000 perak aja perlu "kejar-kejaran" dengan
TIBUM. Boro-boro mau buka warung/toko, mau cari pinjeman kredit usaha
aja udah diusir SATPAM di Bank.
Atau mungkin begitu kali yang namanya demokrasi?
Cuma buat orang yang bisa pakai dasi, mobil mewah, dan sepatu
mengkilat. Buat apa sih rakyat kecil? Lha wong keringatnya aja baunya
minta ampun. Aduuuh, kasihan amat dikau wong cilik - wong cilik.
Mudah-mudahan hati kita belum mati. Keadilan, rasanya sesuatu yang
universal, bukan monopoli suatu agama. Sudah bersikap adilkah kita?

Salam,
~yo

_________________________________________________________
DO YOU YAHOO!?
Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com

Kirim email ke