Terima kasih atas responsnya bung Harry. Saya setju dan memang sependapat dengan anda soal RUU Politik. Itulah sebabnya saya rada "deg deg-an", karena saya merasa sebahagian kelompok masih menginginkan 'status quo', dan mereka akan berjuang semaksimal mungkin dengan segala cara dan daya. Sebenarnya sangat logis, apa yang diharapkan dari pembahasan RUU Politik yang dilakukan oleh DPR hasil Pemilu-Pemiluan ? Semoga Tuhan berserta kita. Amin. Salam, bRidWaN At 12:11 13/01/99 -0600, HARRY A AZIS wrote: >Bung Bridwan, >Saya kira tergantung asumsinya. Asumsi saya, kita yang ada di >Permias ini relatif cukup jeli berpikir dan membaca situasi, >jadi tidak gampanglah dipengaruhi, apalagi sampai terperosok. >Hanya mereka2 yang selalu menganggap "enteng" pembaca, biasanya >dapat terlihat dari kutipan kata2nya yang cenderung sembarangan >atau bakan tidak mencerminkan orang yang beradab (kalau orang >Jakarta bilang "seenak udelnye"), yang memubazirkan kata-kata >tanpa perlu berpikir dulu. >Saya mohon maaf, kalau ada yang tersinggung. Tapi saya membaca >ada satu dua orang yang seperti ini. Tapi, biarlah bukankah >kita memang tidak harus sama apalagi "menyama-nyamakan" diri. >Karena inilah demokrasi itu. Saya sendiri cenderung untuk selalu >membiasanya diri memilih kata2 yang sopan, yang ramah, betapapun >tidak setujunya saya atas suatu pendapat. Karena, menurut saya, >dengan jalan ini kita (paling tidak saya sendiri) berharap >memperoleh "hikmah" dari suatu diskusi atau dari suatu perbedaan >pendapat. > >Bukankah begitu Bung BRidwan? > >Soal RUU Politik, saya sendiri termasuk yang ragu. Saya termasuk >yang setuju PNS itu netral. Pemimpin partai yang mempunyai sikap >seperti ini (PNS harus netral) harusnya konsisten dengan sikapnya. >Saya lihat ada tiga ketua partai yang masih PNS (bahkan sekjen >yang dua partai juga PNS), padahal kalau tidak salah sikap >partai mereka adalah PNS netral. Saya sebut saja nama2nya >biar diskusi kita terbuka yaitu: Amien Rais dan Faisal Basir >(Ketua dan sekjen PAN), Yusril (Ketua PBB), Nur dan Anis (Ketua >dan sekjen PK). Di Golkar banyak PNS, tetapi menjadi tidak relevan >ketika saya ketahui bahwa mereka setuju PNS boleh berpolitik. >Jadi, bagi saya, mereka yang bersikap PNS netral tapi dirinya >sendiri masih PNS (walau mungkin mereka yang mencari2 alasan >non-aktif, cuti dls) adalah contoh pemimpin yang konsistensi >sikap dan kata2nya harus dipertanyakan. > >Jadi,(omong kosong!, sepertti omong kosong yang banyak kita >dengar selama Orba), kita dapat memberikan pendidikan politik >kepada rakyat (seperti slogan politi Partai Keadilan, misalnya), >kalau para pemimpinpartai itu sendiri tidak konsisten antara sikap >dan kata2nya. Tentu dapat dikatakan tidak berwatak pemimpin, >bila baru mau keluar dari PNS setelah di RUUnya. RUU politik harus >mampu membentuk budaya politik yang beradab. Budaya politik yang >"biadab" akan selalu tumbuh dan terpelihara begitu banyak para >pemimpin politik berlomba2 untuk menjadi "best actor", >bukan "real person". > >Banyak soal lain yang juga saya lihat: soal sistem distrik Vs >proporsional (lucunya banyak juga partai baru setuju dengan >proporsional), soal ABRI, soal "money politics (pengawasannya >yang kurang jelas) dan terutama soal Luber Jurdil itu, yang sudah >banyak didiskusikan di Permias ini. >Soal ini inipun, pada akhirnya kembali - seperti selalu diucapkan >oleh Bung Hatta - tergantung kepada semangat para pelakunya. >Maaf kepanjangan. > >Wassalam, >Harry Azhar Azis > >----------------------- >On Wed, 13 Jan 1999, bRidWaN wrote: > >> Saya setuju saja tidak membatasi diskusi apapun, >> tetapi saya agak risih kalau kita sudah mulai >> berdebat masalah 'agama'. >> >> Ngomong-ngomong saya koq agak-agak deg-deg an >> menunggu hasil tgl 28 Januari re: UU Politik. >> >> Salam, >> bRidWaN >> >> At 12:24 11/01/99 -0600, HARRY A AZIS wrote: >> > Karena itu, menurut saya, diskusi apapun atau kampanye >> > apapun dari siapapun di list seperti Permias ini tidak >> > perlu dibatasi2 atau dikuatir kuatirkan. Karena saya >> > termasuk yang percaya, hampir semua diantara kita jeli >> > kalau melihat sesuatu, seperti Bung BRidwan. Kita >> > tampaknya sudah terlatih untuk tidak hanya membaca >> > sesuatu sebagai "taken for granted"(kulit mukanya saja). >> > >> > Mereka yang tulisannya "tidak ingin ditertawai" sebaiknya >> > berpikir sebelum menulis. Hehe... seperti iklan ki Manteb >> > saja, teliti sebelum membeli....:) >> > >> > Wassalam, >> > Harry Azhar Azis >> >> >> >On Sun, 10 Jan 1999, bRidWaN wrote: >> > >> >> Wah bung Harry, >> >> Sebetulnya saya hanya ikut-ikutan mengomentari >> >> Partai Keadilan di-Permias@ ini. >> >> Ternyata anda yang lebih jeli lagi.....:) >> >> >> >> Salaam, >> >> bRidWaN >> >> >> >> At 10:56 09/01/99 -0600, HARRY A AZIS wrote: >> >> > Salam, >> >> > Rupanya Bridwan cukup jeli membaca penomena politik, >> >> > tidak cukup membaca "kulit muka"nya saja. Walau setelah membaca >> >> > "isi", soal interpretasi bisa saja tetap berbeda di antara >> >> > para pembacanya. >> >> > >> >> > Wassalam, >> >> > Harry Azhar Azis >> > >> > >> > >
