Rekan Rekan Yth,
Pembahasan RUU Politik semakin seru saja, terutama
di-2 minggu terakhir. Seperti diduga sebelumnya,
ada kelompok yang ingin mempertahankan kekuasaannya
dengan cara apapun.
Selain masalah ABRI, PNS, Sistim Proporsional,
masih ada titik-titik rawan yang menurut saya perlu
mendapat perhatian.
Titik rawan tsb adalah yang selama ini dijadikan
ajang kecurangan dalam setiap kali pemilu era Orde
Baru itu adalah saat pendaftaran pemilih, pengiriman
surat pemanggilan, pelaksanaan pencoblosan di TPS
(tempat pemungutan suara), penghitungan suara,
pembuatan berita acara, pengiriman kotak suara dari
TPS ke kecamatan. Begitu juga dengan peranan Saksi.
Semua itu harus kita cermati dengan sungguh-sungguh
kalau kita tidak mau kecolongan lagi.
Mengambil pengalaman pelaksanaan Pemilu 1955 yang
demokratis, Pemilu 1999 hendaknya diselenggarakan
oleh Partai-partai sendiri sehingga masing-masing
partai bisa saling mengawasi. Peran Pemerintah
tetap dibutuhkan sebagai penyelenggara Pemilu,
namun haknya terbatas pada urusan administrasi
dan fasilitator saja.
Begitu juga peran Tim Pengawas Independen, baik
dari dalam negeri maupun dari luar negeri, harus
diperjelas.
12 hari lagi tanggal yang ditetapkan sebagai
waktu Pengesahan UU Politik.
People Do Change !
Semoga Orang Orang Lama yang berada di DPR serta
yang berada dalam circle Kekuasaan masih terbuka
hati nurani-nya untuk berjuang demi 200 ratusan
juta orang Indonesia yang menunggu nasibnya.
Salam,
bRidWaN
At 10:41 13/01/99 +0700, bRidWaN wrote:
|> Dengan hormat,
|> 2 Minggu lagi tonggak sejarah akan mencatat,
|> apakah Kita akan mengalami masa baru yang
|> "menjanjikan" atau "mencekam".
|>
|> Saya masih berharap, agar para anggota Dewan masih
|> mempunyai nurani yang bersih untuk berbuat sesuatu
|> yang baik bagi Negara-nya, meskipun mereka
|> diangkat melalui suatu proses yang tidak benar.
|>
|> Saya menghimbau kepada semua pihak agar pada saat
|> ini memfokuskan diri pada pembahasan RUU Politik,
|> yang justru saat ini sedang hangat-hangatnya
|> di-'goyang' oleh segelintir oknum untuk memenuhi
|> kepentingan golongannya.
|>
|> Salaam,
|> bRidWaN
>At 08:44 11/01/99 +0700, bRidWaN wrote:
>>Sekali lagi tentang RUU Pemilu !
>>Tanggal 28 Januari 1999 tinggal beberapa hari lagi.
>>Tanda-tanda yang kurang enak sudah mulai kelihatan.
>>Apalagi melihat sikap Golkar yang cukup keras kepala
>>didalam memaksakan kehendaknya.
>>Masih ingat tulisan " KITA KEHILANGAN MOMENTUM" pada
>>bulan Mei yang lalu. Inilah salah satu akibatnya.
>>Seharusnya MPR/DPR hasil Pemilu (Pemilu-Pemilu-an?)
>>waktu itu dibubarkan saja, dan digantikan oleh tokoh-
>>tokoh baru yang bebas KKN (bukan Orang-Orang Lama!).
>>Persis seperti jamannya permulaan Orde baru, dimana
>>anggota MPR(S) diangkat oleh Pak Harto dengan bebas.
>>
>>Apakah mungkin DPR hasil Pemilu 1997 yang didominasi
>>Golkar sebagai Mayoritas Tunggal ingin mengalah begitu
>>saja dalam Pemilu 1999 ? Rasanya agak tidak mungkin !
>>
>>Mereka (dengan segala cara) akan berusaha untuk tetap
>>mempertahankan 'status-quo' melalui rekayasa politik
>>dimulai dengan meng-goalkan UU Politik versi mereka.
>>Sangat logic, bukan ?
>>
>>Rasanya bulan Januari ini akan menjadi bulan penentuan
>>apakah Pemilu 1999 akan tetap dilaksanakan, atau malah
>>akan terjadi hal-hal lain yang tidak kita ketahui ?
>>
>>Semoga yang terbaiklah yang terjadi. Amin.
>>
>>Salam,
>>bRidWaN
>>
>>
>> At 09:33 08/01/99 +0700, bRidWaN wrote:
>> <> Rekan-Rekan,
>> <> RUU Politik pengesahannya tinggal 3 minggu lagi.
>> <> Inilah saat yang paling 'BERSEJARAH' bagi bangsa kita.
>> <> Apakah akan mengikuti alur Reformasi demi perubahan
>> <> masa depan, ataukah akan mempertahankan 'status-quo'.
>> <>
>> <> Seandainya ada waktu, simaklah :
>> <> http://www.kompas.com/kompas-cetak/9901/08/NASIONAL/uupo07.htm
>> <> yang berjudul : UU Politik tidak Netral,
>> <> Pemilu Jurdil Jadi Tanda Tanya
>> <> edisi Jumat 8 Januari 1999.
>> <>
>> <> Salam,
>> <> BRIDWAN
>>
>>
>> >At 18:23 21/11/98 +0700, bridwan wrote:
>> > |>Rekan-Rekan Yth.,
>> > |>Pemilu telah didengung-dengungkan oleh Pemerintah,
>> > |>dan didukung oleh seluruh lapisan Pendukung-nya.
>> > |>
>> > |>Pemilu yang bagaimana yang mereka maksudkan ?
>> > |>Yang telah dijadikan TAP-MPR bulan November 1998 ?
>> > |>Mungkin ya, tetapi itu akan sangat bergantung kepada
>> > |>UU-Politik yang terdiri dari UU Pemilu, UU Parpol,
>> > |>dan UU Susunan/Kedudukan MPR/DPR.
>> > |>Saat ini RUU tersebut sedang digodok oleh para Tokoh yang
>> > |>dianggap dekat dengan Pemerintah, sehingga mungkin akan
>> > |>timbul kecemasan mengenai apa dan bagaimana RUU tersebut
>> > |>dipersiapkan dan dibahas oleh mereka.
>> > |>
>> > |>Apakah wajar jika adanya rasa 'cemas' tersebut ?
>> > |>Tentunya iya, karena yang membahas RUU itu adalah anggota
>> > |>DPR hasil Pemilu Orde Baru.
>> > |>Kedekatan ABRI dengan Golkar, diyakini sementara pihak
>> > |>sebagai kemenangan awal Golkar.
>> > |>
>> > |>Nah, bagaimana dengan Utusan Daerah dan Utusan Golongan
>> > |>yang berjumlah sekitar 150 kursi ?
>> > |>
>> > |>Kalau tidak salah, Utusan Daerah akan dipilih dari setiap
>> > |>DPRD dan Utusan Golongan akan diusulkan oleh DPR dengan
>> > |>seizin Presiden.
>> > |>
>> > |>Kalau DPRD yang dimaksud adalah hasil Pemilu lalu, dan Utusan
>> > |>Golongan haruslah disetujui Presiden, maka paling tidak orang
>> > |>akan berkesimpulan bahwa 150 kursi tersebut sudah berada
>> > |>ditangan Golkar. Artinya 21,43 % akan aman pada saat ini.
>> > |>
>> > |>Yang tinggal hanyalah bagaimana mendapatkan 28,72% dari
>> > |>total kursi yang tersedia untuk menjadikan Golkar sebagai
>> > |>mayoritas dalam MPR mendatang.
>> > |>Angka 28,72% tersebut masih ada kemungkinan turun, apabila
>> > |>akan terjadi konspirasi dengan jatah ABRI. Sehingga apabila
>> > |>jatah tersebut benar 55 kursi (7,86%), maka sisa yang masih
>> > |>harus diperjuangkan Golkar adalah kira2 sebesar 20,86% lagi.
>> > |>
>> > |>Artinya kemenangan Golkar sebagai Mayoritas dalam MPR 1999
>> > |>bukanlah hal yang mustahil untuk diperoleh kembali.
>> > |>
>> > |>Tentunya Analisa ini belum tentu benar, oleh sebab itu
>> > |>saya mohon koreksi dari Rekan-rekan Permias@.
>> > |>
>> > |>Salam,
>> > |>BRIDWAN