Saya setuju dengan Mas Budi ini. Sebenarnya data statistik memegang
peranan yang sangat penting dalam pengelolaan negeri ini.
Masalahnya, bisakah kita percaya dengan data statistik yang ada? Apakah
kita sendiri telah mengisi isian data statistik sesuai dengan keadaan
sebenarnya?
peace.
Budi Haryanto wrote:
>
> Rekan-rekan yth.,
>
> Saya sebenarnya meragukan perkiraan jumlah penduduk miskin ini, terutama
> sumber datanya. Karena, justru database ini yang saya lihat sebagai
> kelemahan pemerintah selama ini. Pemerintah daerah tidak pernah mendata
> dan tidak pernah tahu jumlah penduduknya yang miskin (karena inipun
> perlu pelaksanaan dan dana tersendiri). Standar untuk menghitung
> keluarga prasejahtera dll., yang dikeluarkan BKKBN beberapa tahun ini,
> belum sepenuhnya dimengerti aparat daerah. Sementara itu pemerintah
> pusat, yang sangat bergantung dengan data dari daerah, dengan gagahnya
> ngomong tentang data yang bias tsb. Ironisnya, omongan inilah yang jadi
> santapan lezat para 'kuli tinta'.
>
> Kelemahan lain dari pemerintah adalah kerjasama lintas sektor, baik di
> tingkat pusat maupun di daerah. Hampir semua departemen bekerja
> sendiri-sendiri mengejar target programnya.
>
> Contoh menarik dari kelemahan-kelemahan tsb adalah kasus bantuan beras.
> Begitu datang bantuan beras dari Jepang (atau dari manapun) yang
> ditangani bulog, maka peninglah para aparat dalam menyalurkannya.
> Hubungan bulog dengan pemerintah daerah hanya terbiasa dengan penyediaan
> jatah beras para PNS yang sudah jelas datanya. Sedangkan untuk
> masyarakat miskin pemerintah daerah tidak punya datanya. Lalu, kemana
> beras bantuan ini mau disalurkan? Belum lagi, ini juga merupakan beban
> tambahan bagi bulog yang sudah barang tentu konsekuensinya adalah
> tambahan insentif dan transportasi, penyimpanan, dsb. Dana supportnya
> darimana? Kalau dianggarkanpun akan makan waktu lama, sedangkan dana
> taktis sudah compang-camping. Sementara itu wartawan, LSM, dan
> orang-orang mulai teriak-teriak karena tahu beras tsb hanya numpuk di
> gudang-gudang bulog. Nah, klop-lah kepeningan para aparat pemerintah ini
> karena lemahnya sistem dan hubungan lintas sektor-nya.
>
> Lalu, kalau fenomena ini benar atau hampir benar, apa yang harus kita
> lakukan sebagai bagian dari bangsa Indonesia? Bisa nggak sih kita 'share
> ideas' untuk sekali saja membantu memberikan jalan keluar kepada
> pemerintah, sebagai bagian dari berbagai kritikan yang selama ini sudah
> dilakukan oleh kebanyakan dari kita?
>
> Salam,
>
> Budi
>
> Indra Adrisudiro wrote:
> >
> > On Sat, 16 Jan 1999 07:54:34 +0700, BRidwan wrote:
> > --------------------------------------------------
> > |> Rekan Rekan,
> > |>
> > |> Sadarkah kita semua bahwa jumlah Penduduk Miskin
> > |> di Indonesia dari waktu ke waktu terus bertambah ?
> > |>
> > |> Menurut inforamsi, jumlah Penduduk Miskin pada
> > |> pertengahan tahun 1998 adalah sebesar 80 juta orang,
> > |> dan hingga bulan januari 1999 telah naik 50 juta
> > |> menjadi total seluruhnya sebesar 130 juta Orang !
> > |> (kira-kira 20 juta Households).
> > |>
> > |> Kira kira langkah apa yang akan diambil Pemerintah
> > |> dakam menanggulangi masalah ini, selain dari acara
> > |> acara pembagian sembako ?
> >
> > IA: Seperti biasa, pidato dan ceramah sana-sini,
> > planning project ini-itu, tapi nggak pernah
> > dilaksanain.
> >
> > Seandainya pun dilaksanain, jadinya kayak kasus
> > beras bantuan Jepang dan Singapura. Numpuk di
> > gudang dengan seribu satu macam alasan.
> >
> > Jangan berharap banyak dari pemerintahan yang
> > sekarang. Kecewa nantinya.