Bung Frarev yth..,

Rasanya lebih tepat jika anda mengirimkan e-mail anda ini ke e-mail
address partai-partai yg anda sebutkan ini, karena saya kira bang
Nur Machmudi (Presiden PK) dan ibu Megawati (Ketua Umum PDI-P) tidak
menjadi anggota Milis Permias@..:). namun kalo boleh, saya mencoba
menanggapi email anda dibawah ini.

Sebagaimana halnya anda, saya pun sedih melihat iklim politik di
negara kita yang kian bergejolak, terutama sejak terjadinya bentrokan
antar pendukung parpol di berbagai daerah beberapa waktu belakangan
ini. Sangat disayangkan,alam kebebasan yg baru saja dinikmati oleh
bangsa Indonesia ini sering disalahgunakan oleh banyak pihak untuk
kepentingan diri dan kelompoknya semata. Tidak jarang kita dengar dan
saksikan peristiwa saling hujat dan saling hantam antar pribadi dan
antar kelompok, yg justru sangat merugikan bagi kita semua. Belum lagi
selesai krisis ekonomi yg dihadapi Indonesia, kini berbagai krisis
mulai dari krisis sosial hingga krisis politik mulai berdatangan.

Khusus untuk PDI-P, saya melihat partai ini paling punya potensi untuk
menimbulkan kerusuhan politik dibanding parpol lainnya di masa-masa
mendatang. Karena apa..?

Pertama, Perlakuan tidak adil yg diterima oleh kubu Megawati cs semasa
ORBA berkuasa dulu, sepertinya telah menimbulkan rasa sakit hati dan
"dendam kusumat" yg cukup mendalam di kalangan pemimpin dan pendukung
partai ini , yg kemudian mereka lampiaskan dalam bentuk unjuk kekuatan
(seperti pendirian posko-posko,dsb)dan penyerangan terhadap pendukung
partai lainnya (terutama kepada Golkar yg dianggap bertanggunjawab
atas "nasib" yg dialami Mega cs dimasa lalu).

Kedua,  harus diakui bahwa sebagian besar pendukung PDI-P berasal dari
kalangan rakyat bawah yg sangat rendah pendidikan dan taraf hidupnya.
Sebagian besar adalah pendukung dan pengagum fanatik bung Karno, dan
sebagian lagi adalah mereka-mereka yg bersimpati atas nasib yg dialami
ibu Megawati . Kedua-duanya ini lantas menjadi pendukung-pendukung
fanatik Megawati cs, yang siap sedia berkorban apa saja demi
pemimpinnya. Sikap kefanatikan ditambah tingkat pendidikan yg
rendah,akhirnya seringkali menjadikan para pendukung PDI-P berbuat
hal-hal yg tidak senonoh dan meresahkan masyarakat, demi membela
partainya, atau hanya untuk sekedar unjuk kekuatan semata.

Ketiga, Kurang adanya pengawasan dan pembinaan terhadap para kader dan
pendukung PDI-P di daerah-daerah, seringkali menjadikan para pendukung
partai ini leluasa untuk bertindak  saenak udelnya.

Keempat, faktor ibu Megawati yg harus diakui sangat lemah kualitas
kepemimpinannya. Beliau sepertinya tidak cepat tanggap thd
masalah-masalah yg dihadapi partainya dan terhadap masalah-masalah yg
dialami bangsa Indonesia. Ini terlihat dari jarang dan lambatnya
beliau mengeluarkan "statement-statement" atas berbagai kejadian -
kejadian yg ada. Sepertinya beliau tidak tau apa yg harus dilakukan
dan lebih banyak mengandalkan orang-orang seperti kwik kian gie dan
laksamana sukardi sebagai juru bicaranya, juga dukungan dari pak
Dur(Abdurrahman Wahid). Padahal jika ibu Megawati mau lebih sedikit
"aktif" mengendalikan para pendukungnya, boleh jadi "kejadian-kejadian
memalukan" yg dilakukan oleh massa PDI-P tidak sampai terjadi.

Kelima, Peran sebagian besar media massa yang terlalu membesar-
besarkan megawati dan para pendukungnya agaknya membuat kubu PDI-P
merasa berada di atas angin dalam pemilu mendatang. Kubu PDI-P
sepertinya yakin benar akan meraih kemenangan mutlak pada pemilu
mendatang. padahal banyak parpol besar lainnya yg tidak bisa
diremehkan begitu saja. Keyakinan menang yg terlalu berlebihan ini
bisa jadi akan berpotensi besar sebagai pemicu terjadinya kerusuhan
politik dimasa mendatang. Massa PDI-P yg sudah begitu yakin akan
menang, tentu akan sulit menerima jika partainya kalah dalam pemilu
mendatang.

Kelima faktor utama ini (masih banyak faktor lainnya) jika tidak
segera dibenahi, akan sangat merugikan nama baik PDI-P sendiri, dan
terlebih-lebih lagi akan membawa dampak yg kurang menguntungkan bagi
kehidupan demokrasi di Indonesia di masa mendatang.

Bung Frarev..,

Sebenarnya saya cukup heran juga nama PK dibawa-bawa di e-mail anda
ini. Setahu saya sebagian kader-kader dan simpatisan PK adalah para
intelektual muda(kebanyakan dari D3 s/d S3) yg lebih mengedepankan
etika,moral, dan intelektual mereka dalam berpolitik, ketimbang
menggunakan otot. Pergaulan selama bertahun-tahun dengan mereka
membuat saya sedikit banyak tau akan kepribadian mereka. Tidak pernah
tergambar kebringasan di wajah mereka, tutur katanya halus namun
tegas, penampilan mereka sangat rapi, dan wawasan berpikir mereka pun
sangat jauh ke depan, serta selalu menghindarkan kekerasan. Dan yg
membuat saya lebih salut lagi, PK  ternyata selama ini selalu berusaha
menjalin komunikasi yg baik dengan parpol-parpol lainnya (termasuk
dengan PDI-P). PK menganggap semua parpol yg ada adalah MITRA kerja
mereka yg dapat diajak kerjasama untuk membangun bangsa dan negara
Indonesia(jadi tidak melulu dianggap sebagai pesaing), karena boleh
jadi parpol-parpol tsb memiliki banyak kelebihan yg tidak dipunyai
oleh PK. Namun karena PK adalah partai Islam, banyak orang yg keburu
pesimis dan menganggap PK hanya akan menguntungkan golongan Islam
saja. Padahal jika orang-orang tsb mau terbuka,jujur dan sedikit
bersabar saja, bisa jadi mereka akan menemukan bahwa anggapan mereka
itu keliru.

Salam
Mohamad Rosadi
(mahasiswa juge..:)

Ps. Maaf ni kalo e-mail saya ini kepanjangan :-)









>From: Frarev Sitorus <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: Indonesian Students in the US <[EMAIL PROTECTED]>
>To: [EMAIL PROTECTED]
>Subject: Kader KUAT = visi dan misi tercapai
>Date: Thu, 8 Apr 1999 09:59:56 +0700
>
>Kepada Yth :
>Bapak dan Ibu Ketua Umum PK dan PDI Perjuangan
>calon pemimpin Bangsa INDONESIA
>
>salam
>Dengan hormat,
>
>Saya pada malam ini merasa sedih melihat iklim politik di negara Kita
yang
>tercinta ini berbarengan dengan kualitas pemerintah sekarang yang
"melorot".
>Sebelumnya, Saya minta maaf atas tulisan Saya yang tidak sopan karena
Saya
>tidak dapat melawan hati nurani Saya akan kecintaan dan cita - cita
Saya
>terhadap masa depan bangsa Kita.
>
>Surat kabar Republika edisi 03 April 1999 memuat berita tentang
"penyerangan
>PDI Perjuangan terhadap Golkar di Jawa Tengah" membuat impian Saya
dan
>mungkin teman - teman mahasiswa lainnya, yang mempunyai sense of
critic,
>"buyar" terhadap visi PDI Perjuangan yang dipimpin Mbak Megawati.
Analisa
>PDI Perjuangan terhadap masalah bangsa, segala bidang, selama ini
cukup baik
>karena mempunyai kualitas kader pemikir yang baik, tetapi mempunyai
>kelemahan karena masih lemahnya menentukan prioritas dalam partai,
yaitu
>peng-kaderan parpol di tingkat bawah.
>
>
>Kita lihat, rezim orde baru melakukan pembangunan di bidang industri
untuk
>meningkatkan perekonomian di Indonesia yang menyebabkan tingkat
pertumbuhan
>ekonomi meningkat tajam. Ketika "badai" ekonomi mencoba untuk
mengguncang
>ternyata struktur ekonomi yang telah dibangun Orde Baru selama ini
tidak
>dapat bertahan. Mengapa? Karena pemerintah ,  golongan elit di negara
>INDONESIA, melupakan peng-kaderan di tingkat bawahnya, yaitu
pengembangan
>SDM dalam pendidikan dan etika. Pemuda dan pemudi Indonesia yang
seharusnya
>sebagai tulang punggung Bangsa tidak dijadikan "Human Capital" bangsa
yang
>intelektual dan memiliki etika.
>
>Walaupun Parpol yang ada banyak mempunyai potensi, seperti PAN; PDI
>Perjuangan; PKB; PK, tetapi tidak mempunyai program peng-KADER-an
yang kokoh
>maka tidaklah mungkin meraih kader yang tinggi ilmu dan tinggi
pengabdian.
>Bangsa Indonesia akan meraih masa depan yang cemerlang jika dipimpin
oleh
>orang yang mem-prioritaskan kader-kadernya, putra-putri pertiwi, yang
tinggi
>ilmu, dalam intelektual, dan mempunyai etika dalam kehidupan
berbangsa dan
>bernegara menuju negara Indonesia yang ber-DEMOKRASI.
>
>Saya mohon maaf sekali lagi atas tulisan Saya di atas dan Saya mau
>mengusulkan kepada Bapak dan Ibu Ketum Parpol, PK dan PDI Perjuangan,
 untuk
>menekankan pengembangan SDM kader dari tingkat atas kepada tingkat
bawah,
>pemuda dan pemudinya, untuk dapat hidup ber-DEMOKRASI dan berbesar
hati
>sehingga mencerminkan potensi bangsa Indonesia di masa yang akan
datang dan
>menjadi "senjata" Parpol untuk meraih suara di PEMILU nanti atas
sikap
>kader - kadernya dari tingkat atas sampai tingkat bawah. Saya dan
mahasiswa
>lainnya pasti akan memilih Parpol yang memiliki Kadernya yang handal
dalam
>intelektual dan etika, bukan Parpol kaya dan "berotot". Pemimpin
adalah
>seorang yang dapat berada di depan, ditengah, dan dibelakang, bukan
hanya di
>depan atau di atas saja seperti rezim ORDE BARU.
>
>Terima kasih sebelumnya kepada Bapak dan Ibu Ketum PK dan PDI
Perjuangan
>atas perhatiannya dan mohon untuk membalas tulisan Saya yang tidak
sempurna
>ini supaya terjadi proses "pencerahan" bukan proses pembodohan.
>
>"JANGAN LUPAKAN KAMI, PEMUDA-PEMUDI, SEBAGAI TULANG PUNGGUNG BANGSA
YANG
>CINTA AKAN  PROSES PENGKADERAN DARI ENGKAU  (PARA PEMIMPIN
BANGSA)..."
>
>Salam sejahtera
>Demi Tuhan, Bangsa , dan Almamater
>
>
>FRAREV
>Mahasiswa ITB


______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke