Setelah akhir Januari 1999 yang lalu Presiden B.J.Habibie mengeluarkan opsi otonomi seluas-luasnya atau merdeka kepada propinsi Timor Timur ,yang tercinta , hingga kemudian mulai memicu konflik di Timor Timur hingga sekarang. Bulan Februari 1999, Presiden B.J. Habibie juga menerima utusan dari Irian Jaya, dengan permainan politik pemerintah lagi, yang terdiri dari 16 orang pro-kemerdekaan dan 3 orang pro-integrasi dan presiden meminta supaya pernyataan mereka untuk dipertimbangkan masak - masak. Permainan ini  akan menjadi "mesiu" konflik yang akan terjadi di Irian Jaya ( Saya tidak tahu apakah sudah terjadi atau belum ). Apakah 19 orang dari Irian Jaya yang datang menemui presiden di istana negara ini merupakan asli utusan dari rakyat Irian langsung atau utusan dari Irian yang telah "lulus seleksi" bapak - bapak bupati di Irian yang notabene sebagai pemerintah? Mungkin masing - masing unsur bangsa mempunyai opini yang berbeda.
    Orde Baru sampai sekarang masih "lenggang" berjalan dalam "kerajaannya" di pemerintahan Indonesia. Sikap pemerintah yang masih reaktif terhadap pernyataan rakyat , seperti sikap Xanana dalam tulisannya " Falintil Resumes Their Mission in Defence of The People of East Timor" yang dianggap pernyataan perang terhadap ABRI ( dikutip dari TEMPO" Genderang Perang Ditabuh Xanana?", edisi 13-19 April 1999). Walaupun Pemilu Juni 1999 berjalan tanpa ada gangguan yang berarti, tetapi Orde Baru masih duduk dengan angkuhnya di pemerintahan Indonesia bukan berarti sudah selesai karena Orde Baru sekarang ini masih menghargai propinsi di Indonesia ini dengan uang / kekayaan propinsi tersebut dan selalu saja mencari "kambing - hitam". 
    Saya tidak menghiraukan pernyataan pak H.M Soeharto, melalui pers Jepang, bahwa beliau meragukan kelangsungan PEMILU 1999 melihat kondisi sosial bangsa Indonesia. Karena pernyataan itu hanya semata -mata mengalihkan perhatian bangsa bahwa PEMILU 1999 ini sangat penting, saya setuju, tetapi membutakan mata Bangsa Indonesia terhadap kekuatan Orde Baru yang ada. Meskipun Pemilu Juni 1999 tidak berjalan sesuai dengan yang Kita harapkan, sebagai elemen Negara Kesatuan Indonesia, tetapi jika semua rakyat BERSATU dalam SATU kesatuan yaitu Negara KESATUAN Indonesia bahwa perbedaan yang ada di bangsa Indonesia bukan hambatan bangsa Indnonesia untuk berjuang menegakkan keadilan dan Kebenaran maka segenap Bangsa Indonesia sudah mulai berjalan di jalan menuju masa depan yang lebih baik. Beliau seagai rakyat hanya menyatakan keprihatinannya terhadap kelangsungan PEMILU Juni 1999 bukan pernyataan kepeduliannya terhadap saudara sebangsanya, bangsa Indonesia, di Ambon-Sambas-Timor Timur- Irian Jaya- hingga Aceh yang terus menderita dengan pola - pola Orde Baru sekarang. Sayang....
 
Salam

Kirim email ke