Adakalanya kalangan industri pangan Amerika, yang begitu mapan dan didukung dengan risetnya yang sangat maju, merasa kecut menghadapi persaingan dari pihak luar. Hal ini diungkapkan Regina Hildwine dari US National Food Processors Association pada 23rd National Food Databank Conference di Washington DC tgl 16 April lalu.
Siapakah yang membuat AS kecut itu?
Ialah Codex Allimentarius, sebuah international food standard code, yang disusun oleh Codex Alimentarius Commision, sebuah komite gabungan FAO dan WHO (Prof. Winarno dari IPB pernah menjadi presiden-nya). Misi Codex adalah "to protect the health of the consumer and promote fair practices in food trade" . Hingga saat ini ada 150 negara berafiliasi dengan Codex.
Dalam bidang food database, misalnya AS harus menyesuaikan standarisasi klasisfikasi makanan mereka pada standard Codex. Standard Codex sendiri, sebenarnya tidak mengikat anggotanya. Artinya negara anggota tidak harus menggunkaan standard Codex di negara mereka masing-masing. Yang menjadi malasalah kemudian adalah, dalam perdagangan interantional, khususnya WTO mamakai standard codex sebagai acuan. Seandainya terjadi dispute/perselisihan antar negara, WTO akan memakai standard codex sebagai acuan. Sehingga banyak negara yang mengadopsi standard Codex dalam negeri mereka.
Amerika telah mengembangkan sistem food database yang sudah sangat maju. USDA(US Department of Agriculture) misalnya telah mengeluarkan NDSR (Nutrient Database Standard Reference) yang terbaru release 12 yang memuat daftar 5.976 jenis makanan dengan komposisi 81 zat gizi-nya. Food Composition Database adalah daftar lengkap nilai gizi makanan yang beredar di US dan dijadikan sebagai acuan (gold standard) bagi riset dan industri di US
Lalu, apa mengapa US kecut?
Satu contoh sederhana, beberapa waktu lalu Codex menetapkan standar
untuk butter. Dalam standard tersebut, kandungan lemak-nya bebeda dengan
stdandard US. Akibatnya, US harus memasukkan stdndard baru untuk
butter. Hasilnya...... kini ada regular butter US, Low fat butter
US, regular butter Codex dan low fat butter Codex. Kelihatanya ini masalah
sepele. Akan tetapi implikasi ke belakangnya sangat jauh (riplle effect).
US sekarang harus menambah dua lagi standard untuk butter dan dua satandard
baru untuk setiap item makanan yang menggunakan butter sebagai salah satu
bahannya. Bisa dihitung sendiri... berapa makanan yang pakai butter sbegai
bahannya? Kalikan dua, dan kalikan dengan 81 komponen gizi yang harus dihiutng
untuk dimasukkan ke dalam standard ini. Berapa pula biaya unutk analiasnya?
Ini baru untuk butter, masih banyak lagi hal-hali yang berpotensial untuk
dispute, misalnya kandungan fiber.
Belum lagi dalam hal labelling. Contohnya US mensyaratkan bahwa setiap jenis makanan yang diual harus mencantumkan kadar lemak (termasuk lemak jenuh, tak jenuh, kolestreol). sementara Codex hanya mensyaratkan lemak. Nah bagaimana sekarang USDA mencegah produk impor yang tak lnegkap label-nya itu? Jika terjadi dispute dan lari ke WTO maka kemungkinan besar US kalah.
Keresahan kalangan indutri US ini cukup beralasan. Karena dalam setiap pengambilan suara di Codex, US hanya memiliki satu suara. sementara negara-negara Eropa yang tergabung dalam European Union (15 anggota) biasanya kompak dalam voting. belum lagi dukungan negara-negara ketiga yang umumnya lebih menurut pada Codex (bahkan mengadopsi standard Codex sebagai standard nasional mereka). US merasa bahwa codex akan distir oleh UE dan negara-negara ketiga (mereka menyebutnya less developed countries), yang otomatis sangat mengganggu standar US yang sudah begitu mapan. Wajar AS merasa kecut....
Pungkas B. Ali
Troy, NY
--
wujudkan kepedulian kita http://www.isnet.org/~kbsi
