Salah satu syarat terpenting dari dihentikannya kerusuhan-kerusuhan di tanah air adalah "tindakan tegas" dari Aparat keamanan tanpa pilih kasih. Sebab, pada prinsipnya seharusnya semua sama di mata hukum. Permasalahannya, rasanya hampir setiap yang berbau kerusuhan dan mengandung kata provokator, "OTAK PROVOKATORNYA" (eh, jangankan Bossnya, suruhannya saja) selalu lolos. Kita tunggu saja (kita khan harus bersabar), bisa terpenuhi apa tidak janji Pak Wiranto di bawah.... Endra P.S. Sekalian, ada petunjuk sederhana dari Republika untuk mengindikasikan apakah suatu kerusuhan murni kriminal atau berbau politis. _____________________________________________________ http://www.jawapos.co.id ------------- dihapus ------------ Untuk menuntaskan kasus ini, Wiranto juga memerintahkan kepolisian untuk membongkar jaringan-jaringan ini. Jaringan-jaringan seperti ini sangat kita sesalkan mengapa ada di Indonesia, katanya. Soalnya, kalau tidak dibongkar, mereka bisa saja beraksi lagi di kemudian hari. Ketika ditanya seberapa jauh perkembangan kasus ini, Wiranto menjelaskan, untuk soal pengeboman di Hayam Wuruk, beberapa tersangkanya telah diketahui. Meski demikian, tidak semua hasil pengusutan bisa dijelaskan kepada publik. Ada tata caranya. Saya minta masyarakat bersabar. ------------- dihapus ---------------------- _____________________________________________________ http://www.republika.co.id ------------- dihapus ---------------------- Lebih jauh, Noegroho menegaskan ledakan yang terjadi di lantai dasar masjid itu memang disebabkan bahan peledak. Tapi, katanya, bukan bersifat menghancurkan. Setelah melihat tiang-tiang di dalam lantai dasar masih utuh. Mengenai kaca pecah, menurutnya, bukan lantaran bom tapi getaran yang ditimbulkan oleh ledakan. Noegroho belum mau menjelaskan apakah ledakan ini mengandung unsur politis. Namun, sumber Republika di kepolisian mengatakan, ''Kalau ledakan ini tindakan kriminal murni, pasti akan segera diketahui pelakunya. Tapi kalau berlatar belakang politis, dipastikan pelakunya tidak akan diketahui. Kalaupun teridentifikasi pasti tidak akan dapat dibuktikan.'' Masih menurut sumber itu, sistematika kerja tim Gegana Polri saat ini sudah demikian maju dengan perlengkapan berteknologi canggih. Karenanya, tidak ada alasan untuk tidak dapat mendeteksi pelakunya. Dicontohkan, kasus peledakan di Candi Borobodur di Jawa Tengah pada awal tahun 1980-an saja, dapat dengan mudah ditemukan oleh pihak kepolisian. ''Padahal saat kejadian tahun 1980-an itu, polisi nyaris tidak memiliki bukti utama. Tapi, karena itu dilakukan pelaku kriminal murni, kami segera dapat mengungkap pelakunya,'' katanya. Demikian pula pelaku peledakan di Toserba Ramayana Jl Sabang Jakpus, dapat segera diketahui pihak kepolisian hanya dalam hitungan hari. Dugaan itu beralasan, lantaran informasi pertama dari aparat adalah pelaku dua orang mengendarai RX King warna merah, memakai ikat kepala, dan berjaket coklat. Namun berikutnya diinformasikan bahwa pelakunya mengendarai RX King warna biru, berjaket hijau, dan ikat kepala hijau. Diduga, simpang siurnya informasi ini adalah untuk mengelabui fakta yang sebenarnya. ---------------- dihapus --------------
