>From: Kantei <[EMAIL PROTECTED]>
>Reply-To: [EMAIL PROTECTED]
>To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
>
>
>Berhubung mau peringatan hari Kartini, kita ikut trend yoo,
>ngomongin masalah perempuan.
Yw: Setujuuuuuu...... (Udah lama nggak ngomong soalnya,
habis gimana, ya... pilek, sih ;-).
>Kartini itu sendiri tidak mewakili seluruh Indonesia,
Yw: Memang tidak. Kartini itu juga tidak mewakili rakyat.
Juga tidak mewakili perempuan (baik gadis, janda,
ibu, istri, dlsb, yg lekat dg perempuan). Itu cuma
simbol (atas suatu konsep).
>melainkan hanya etnis jawa yg terjajah Belanda dan
>ber"globalisasi" dengan budaya Barat.
Yw: Bahkan juga tidak mewakili etnis jawa.
Jawa itu, secara garis besar terdiri dari:
- Kelompok yg memegang teguh adat (jawa)
(dan ini pun bervariasi sesuai dg varian
adat jawa yg ada)
- Kelompok yg agamis (Islam, dll)
- Kelompok lain-lain.
Kartini itu dari kelompok pertama.
>Kenapa yg diperingati Indonesia cuma hari Kartini?
Yw: Karena kalo harus diperingati juga hari Mince,
hari Giyem, hari Ina, Tina, Titin, Euis,
Cut Sintal, Lili Marpaung, Ni Made Centil,
Kokom, Totok, Wahyo, Dono, Brewok, dll...
Nggak sempat kerja yg lain dong kite... :-)
>Karena Indonesia dipersatukan oleh paham nasionalisme yg
>timbul akibat penjajahan Belanda.
Yw: Itu dulu. Sekarang ini dipersatukan oleh paham
'nasionalisme' yg timbul akibat 'penjajahan'
Amerika Serikat.
Secara konsepsi hampir mirip, tapi simbol-simbolnya
beda. Bukan lagi bambu runcing, dlsb, tapi ya,
mungkin bambu tumpul, rupiah, BUMN, dlsb.
>Apa dong lebihnya Kartini?
Yw: Jidatnya. (lebih nonong ;-).
>Dia punya jejak: tulisannya.
Yw: Gitu-gitu aja...
>Dengan sekedar tulisan, seseorang mungkin bisa disebut
>cendekiawan, tetapi tanpa realisasi, ilmu itu sia-sia.
Yw: Ilmu itu berubah jadi filosofi.
>Kalau mengenai masalah emansipasi sih kurasa semua sudah paham
>(apa nggak???) bahwa perempuan memang berbeda dengan laki-laki
>tapi bukan berarti di bawah laki-laki.
Yw: Memang beda. Setuju. Bukan di bawah?
Mana bawah mana atas itu nggak jelas.
Masalahnya: di Indonesia saja, perempuan jumlahnya
katakanlah 100 juta, dan laki-laki 100 juta.
Siapa di atas siapa, itu udah rumit banget misalnya
masing-masing ada 100 saja, apalagi jutaan begitu.
Jadi ya, soal itu tidak bisa dibahas kecuali
oleh anak kecil...... (yg jenius!).
>Tapi sekarang masih banyak wanita yg tertindas cuma karena
>mereka memang gak tau hak-haknya yg sebenarnya.
Yw: Laki-laki juga banyak. Jadi ini umum.
Menurut saya, lebih tepatnya: mereka (baik laki
maupun perempuan) yg 'gak tahu hak-haknya (dan/atau
tidak berdaya mengklaim) banyak yg 'tertindas'.
Bukan cuma di Ina, tapi everywhere.
Ini udah hukum alam.
Nah, karena itu, seyogyanya, terjadi pemberdayaan.
Caranya? Ya, orang harus harus 'dicerahkan',
sehingga tahu apa haknya (later on, mungkin mereka
bisa cari jalan sendiri utk mengklaim haknya, kalo
dicuri orang. Kalopun tidak semua, ya many of them lah).
Cara sistematis 'pencerahan', ya pendidikan.
Karena kita tahu, yg 'tertindas' itu, kebanyakan
yg kurang makan sekolahan.
>Masalahnya sih kupikir "cuma" pada pendidikan, baik terhadap
>kaum wanita maupun prianya. Nah yg "cuma" itulah yg repot.
Yw: Bukan cuma, tapi fundamen-nya di situ.
Mau bikin bangunan 'tinggi', tanpa fundamen, atau
fundamennya payah, ya jadinya, nggak akan berdiri tegak,
tapi mungkin jadi miring, kayak menara pisa itu.
Eh, tapi menara pisa itu jadi jauh lebih berharga
justru karena fundamennya cacat, ya... ;-)
>Kembali lagi ke hari Kartini, aku dengar banyak yg protes kalau
>anak SD mesti pakai baju daerah buat memperingatinya... yah
Yw: Lebih banyak yg protes lagi, kalo setiap hari kartini
anak-anak SMU mesti tidak pake baju untuk memperingatinya. ;-)
>rasanya memang nggak nyambung, tapi aku sendiri mikir kapan lagi
>dong pakai baju daerah? Wisudaan aja orang-orang sekarang pakai
>gaya western kan.
Yw: Kapan lagi pake baju daerah? Rasanya wrong question.
Sama aja: kapan lagi pake baju astronot, kalo kita pingin
ke bulan nggak boleh... Apa urusannya. ;-)
>Liat aja orang di Jepang sini udah bergaya barat sekali, dan
>belum tentu mereka sekali setahun pakai kimono. Terkadang memang
>baju daerah kesannya merepotkan, mesti disanggul dan dikosmetik
>tapi kan itu bukan suatu peraturan yg mati, bisa dimodifikasi
>dengan leluasa, asal nafasnya masih tradisional. (atau apa gak
>boleh ya? maaf bagi para pemangku adat)
Yw: Sbg orang yg nggak tahu adat, ya yg merepotkan
buang aja, nggak usah dipake. Pusing-pusing amat.
Baju daerah punah, kalo memang alam menghendaki
demikian, ya .... be it, sayonara.
>Aku agak penasaran dengan pandangan orang tentang dandanan cewek.
>Misalnya yg ekstrimnya, purdah toh secara fisik masih modis,
>warna-warni, dan kalo gak salah kain cadarnya sedemikian rupa
>sehingga membuat cewe bisa memandang sekelilingnya tanpa perlu
>khawatir dilihat orang?
Yw: Sekali-kali, cewek pake baju badut oke juga, kalo
emang orangnya oke. Ya, yg nggak melanggar adab sopan
santun, whatever,... bisa aja.
>Tapi cewek kan punya hak buat memperlihatkan wajahnya, kecuali
>kalau merekanya yg emang gak mau, bukan karena dipaksa.
Yw: Memang begitu. Nggak ada masalah kok kayaknya.
>Lain lagi dgn cewek Jepang, mereka justru banggaaaa sekali---
>atau sudah merasa itu adalah norma tak tertulis untuk sengaja
>menonjolkan charming point mereka lewat fashion.
Yw: Nggak semua juga.
>Nah terus ada juga yg anti mempercantik diri dgn kosmetik,
>karena menganggap itu hanya untuk menarik perhatian. Wuih aliim,
>tapi ujung-ujungnya malah jadi merusak pemandangan.
>Semua yg ekstrim pasti salah. Nah untuk menempatkan diri di
>antaranya, sulit ya.
Yw: Satu dua ada yg ekstrim. Ada ekstrim kiri, ada ekstrim
kanan, biasa, lah.
>Nah kok cewek yg dipermasalahkan soal kosmetik?
Yw: Ya, kalo ada cewek yg dipermasalahkan sehari-hari
urusan celana dalam (pria). Itu mungkin karena kurang
kerjaan aja. ;-)
>Soalnya memang ceweklah yg pantas berlipstik, cowok nggak.
>Eh cowo jepang sih pada berkosmetik loh. (^_^)
Yw: Cowk jepang yg kemayu, kan maksudnya? ;-)