-----Original Message-----
From: Mohammad Rosadi <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wednesday, April 21, 1999 10:12 AM
Subject: [Pelita] Wawancara dengan Sekjen PK


>                  Jika Kalah dalam Pemilu
>              Partai Keadilan Siap Kerja Sama dengan
>                      Pemerintah  Legal

Orde baru itu polanya adalah legalitas, bukan
legitimasi....atau..."Top-down"lho...
:-)

>BERDIRINYA Partai Keadilan (PK) berawal dari aktivitas dakwah kampus.
>Maka,wajar jika kesan pertama yang ditangkap masyarakat terhadap PK
>bersifat eksklusif.
>
>"Eksklusifitas bagi partai baru adalah hal yang wajar. Kami menerima
>kenyataan ini secara positif. Sebab, sifat homogen ini justru menjadi
>faktor perekat bagi soliditas kerja partai," demikian ungkap Anis
>Matta, Sekjen Partai Keadilan.
Apakah eksklusifitasnya selama 20 tahun ?di negara Indonesia yang heterogen
ini.  Karena PK itu peng-kaderannya sudah selama 20 tahun kabarnya kan.
>Soliditas kerja yang didukung dengan kesamaan visi dan dari mayoritas
>anggota ini,tambah anis, bisa sangat mendukung kelancaran pengembangan
>infrasturktur partai,struktur partai, jangkauan kegiatan partai, serta
>jangkauan wilayahnya. Dikatakannya,soliditas kerja partai ini
>memberikan hasil yang cukup baik.
>
> Kini, Partai Keadilan memiliki DPD I di seluruh provinsi, kecuali
>Timor Timur, serta 230-an DPC yang memiliki sekretariat masing-masing.
>Oleh karena embrio pembentukan PK adalah aktivitas dakwah, maaka
>partai ini memiliki perhatian yang lebih terhadap masalah-masalah
>sosial yang ditujukan untuk pembangunan bangsa. "Karena awalpendirian
>partai ini dimotivasi dengan kerja-kerja sosial, maka sebenarnya
>obsesi kami,para pendiri partai, adalah bagaimana bisa bekerja
>maksimal membangun bangsa ini," ujar Anis Matta, seraya menambahkan,
>"ini bisa kami lakukan ketika kami berpartai ataupun tidak. Tetapi
>karena pertimbangan strategis, maka kami berpikir, perbaikan
>kehidupan sosial bisa lebih efektif dengan memasuki segmen politik
>praktis."
>
>PK tidak memandang kemenangan atau kekalahan sebagai masalah partai.
>Karena menurut Anis, membangun bangsa ini bisa dilakukan dengan atau
>tanpa pemilu, dengan atau tanpa memegang tampuk kekuasaan. Karena
>sebelum berpartai pun kami bekerja bagi negara melelui kerja-kerja
>sosial. Setelah berpartai pun kerja sosial tidak akan berhenti, karena
>kami memposisikan diri sebagai pelayan masyarakat.
 Jelas...yang menang Pemilu itu untuk rakyat bukan untuk golongantertentu
kan..
>Yang menarik dari partai ini, selain memiliki platform program yang
>dibuat jika bisa menang dalam pemilu, PK juga memiliki rencana program
>jika sama sekali tidak memperoleh kursi dalam pemilu 1999. Agaknya PK
>ingin menepis anggapan sementara orang bahwa partai-partai besar tidak
>siap untuk kalah. Ini menunjukkan kedewasaan serta sportivitas PK
>dalam berpolitik.
>
>Jika tidak bisa mendapatkan kursi sama sekali, PK akan bekerja sama
>dengan pemerintahan  legal yang menang dalam pemilu. Sebagai partai
>yang berada diluar pemerintahan legal, PK akan menjadi partai oposisi.
>Namun, PK memiliki pandangan sendiri terhadap posisi partai oposisi.
>
>"Kami tidak memandang oposisi sebagai fungsi perlawanan, melainkan
>sebagai fungsi kontrol. Kecuali, pemerintahan legal melakukan tindakan
>melawan hukum." PK, menurut Anis, akan mendukung program pemerintahan
>yang baik dan mencegah pemerintah melakukan penyimpangan-penyimpangan.
>Jadi, tidak semata mengontrol penyimpangan pemerintahan, tetapi tidak
>mau mendukung program yang baik. Intinya, PK akan tetap mendukung
>pemerintahan legal jika kalah dalam pemilu, sejauh pemerintahan legal
>itu tidak melawan hukum.
>
>Menurut Anis, jika kalah dalam pemilu, PK siap memeberikan kontribusi
>kepada pemerintahan legal nanti. Misalnya, dengan mengadakan kerja
>sama antara departemen ekonomi dan departemen pendidikan PK dengan
>pemerintahan. "Jadi, yang kami bangun adalah kemitraan politik dengan
>pemerintahan pemenang pemilu, bukannya perlawanan," ujarnya.
>
>AFTA sangat mungkin tertunda Platform PK pada sektor ekonomi adalah
>melanjutkan proses pembangunan yang dilakukan pemerintahan orde baru
>selama ini, diiringi langkah-langkah menghadapi krisis yang
>signifikan. Di antaranya, pertama, dengan mengembalikan harta-harta
>negara yang ada di tangan para koruptor. Kedua, perluasan otonomi bagi
>tiap daerah, seperti yang dilakukan pemerintah saat ini terhadap Timor
>Timur. Otonomi luas ini diharapkan bisa memicu dinamika pembangunan
>daerah. Ketiga, pemberlakuan uang ketat. Yaitu, dengan restrukturisasi
>perbankan serta restrukturisasi pemerintahan. "Kami melihat harus
>ada perampingan besar-besaran pada departemen-departemen yang tidak
>efektif.
>
>Karena pengeluaran operasional pemerintahan selama ini terlalu boros.
>Misalnya, disebutkan Anis, Departemen Penerangan, Departemen Agama,
>Kementrian Urusan Wanita. Pasti akan ada masalah yang menyangkut
>pengurangan jumlah PNS yang mencapai ribuan pada departemen-departemen
>itu. Tetapi, bagaimanapun peliknya  masalah itu, perampingan ini harus
>tetap dilakukan. Karena, pemborosan operasional pemerintahan ini
>semakin menggerogoti perekonomian Indonesia secara makro.
>Pengeluaran operasional pemerintahan tidak berbanding lurus dengan
>produktivitas departemen itu sendiri," jelas Anis.
>
>Disamping perampingan, PK juga memandang perlunya optimalisasi bagi
>departemen strategis yang selama ini kurang dapat perhatian. Misalnya,
>Departemen Pertanian. Dikatakannya, Indonesia adalah negara agraris,
>namun ironisnya departemen ini justru tidak populer. "Di Amerika,
>contohnya, jumlah masyarakat agrarisnya cuma tiga persen.
>Tetapi hasil pertaniannya tidak hanya bisa dinikmati seluruh
>masyarakat, melainkan juga oleh negara lain melalui ekspor. Sebaliknya
>di Indonesia, yang masyarakat agrarisnya mencapai tujuh puluh persen,
>harus mengimpor beras untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia
>sendiri," ucap Anis dengan masygul.
>
>Melihat berbagia krisis disebagian besar negara-negara ASEAN, Anis
>khawatir konsesus ASEAN Free Trade Area (AFTA) 2003 akan terlaksana.
>Karena,menurutnya, proses recovery krisis ekonomi maupun politik di
>negara-negara ASEAN, khususnya Indonesia, tidak akan selesai dalam dua
>atau tiga tahun. Tetapi memerlukann waktu lebih lama. Kesepakatan AFTA
>ini menyangkut banyak negara. Kondisi Indonesia, sebagai pasar
>terbesar di ASEAN sangat mempengaruhi pasar negara lain.
>Ini berarti juga menghambat pelaksanaan AFTA 2003.
>
>"Kesepakatan ini sangat mungkin tertunda. Terlalu banyak krisis yang
>harus diperbaiki dan memerlukan waktu yang lama. Bukan hanya dari segi
>ekonomi, tetapi juga infrastruktur, stabilitas politik, serta
>fluktuasi mata uang Indonesia yang sangat tidak stabil. Hal ini tidak
>memungkinkan terlaksananya AFTA tepat pada waktunya," tandas
>Anis Matta.
>
>Oleh karena itu, PK tidak memfokuskan program ekonominya pada kesiapan
>menghadapi AFTA. PK ingin memperbaiki sektor ekonomi secara makro
>terlebih dahulu. Karena, ini dinilai lebih signifikan untuk saat ini,
>dalam rangka mengentaskan Indonesia dari krisis ekonomi yang
>berkepanjangan.
>
>Caleg PK dari daerah
>
>Menanggapi polemik yang belum kunjung reda dikalangan elite politik,
>anis berpendapat, masalahnya sebenarnya berakar pada tingkat
>kedewasaann yang kurang. Menurutnya, jika perasaan benar sendiri
>dihilangkan serta memiliki kemampuan bergaul dengan segala
>kelompok dan golongan, polemik itu bisa diminimalisasi.
>
>"Saya melihat masalah bangsa Indonesia saat ini ada pada tingkat
>elitenya. Seolah-olah obsesinya terhadap kekuasaan melebihi obsesinya
>terhadap karya peradaban demi memajukan bangsa ini. Kita memerlukan
>kedewasaan elite politik yang mau mengakui kemampuan dirinya apa
>adanya, dan mengakui kemampuan orang lain secara jujur," ujar
>Anis.
>
>Dengan semangat memajukan bangsa Indonnesia, PK ingin benar-benar
>melakukan pemilihan yang berbasis di daerah. Yaitu dengan menyerahkan
>sepenuhnya kepada DPD PK untuk menentukan siapa-siapa calon yang
>dianggap mewakili masyarakat setempat..
>Annis mengatakan, calon legeslatif DPRD I dan DPRD II akan diputuskan
>sendiri oleh DPD I dan DPD II,  pusat tidak akan campur tangan.
>
>"Yang jelas, dari 200 calon legeslatif yang akan diajukan PK, hanya
>lima puluh orang yang berasal dari PK. Sebagian besar berasal dari
>tokoh-tokoh masyarakat setempat," kata Anis. Mungkin ini menggambarkan
>keinginan kuat dari PK yang ingin benar-benar mengakomodasi semua
>golongan masyarakat Indonesia.
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>______________________________________________________
>Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com

Kirim email ke