On Fri, 23 Apr 1999 Ciptadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Wah, ini pasti sudah terlambat sekali:
>
> Menurut pendapat saya, Hasan Basri dan Izzma berbicara dua hal yang
> berbeda. Yang pertama, merujuk pada realitas antropologis (sistem
simbol) dan sosiologis (relasi-relasi sosial), sementara Izzma
> berbicara dalam kerangka, teks, iman, dan sampai taraf tertentu (yang
> mungkin tidak Izzma sendiri sadari): mistis.
>
> Memang dalam kenyataannya, sistem simbol dan relasi-relasi sosial kita
> sangat bias gender: perempuan selalu dalam posisi dikelasduakan.
> Sayangnya, agama yang semustinya menjadi pembebas, sering justru
> diperalat untuk mempertahankan sistem yang bias gender ini.
>
> Tapi apakah secara instrinsik agama (dalam hal ini, Islam) memang
> mencoba menyingkirkan wanita dari peran utama? Sampai disini, kita
> menghadapi salah satu yang paling pelik dari studi agama, yaitu
> penafsiran. Pendek kata, setiap Muslim punya tafsirnya sendiri-sendiri
> tentang bagaimana posisi wanita dalam peradaban. Paragraf-paragraf
> berikut mungkin menggambarkan posisi teoritik saya tentang perempuan
> dalam Islam.
>
> Islam membolehkan seorang pria menikahi empat perempuan, dan tidak
> sebaliknya. Memang benar. Tapi harus dilihat konteks dimana ayat ini
> lahir, dong. Di Arab waktu itu, seorang laki-laki yang menikahi
> belasan perempuan itu sama wajarnya dengan kuda makan rumput.
> Pembatasan hanya sampai empat itu cukup revolusioner. Di samping itu
> juga harus dilihat spirit Islam. Spirit Islam itu monogami.
> Nabi mensinyalir bahwa berbuat adil bagi laki-laki yang mempunyai
> beberapa istri itu hampir tidak mungkin dilakukan, padahal beliau juga
> berkata bahwa seandainya kau tak dapat berbuat adil, jangan nikahi
> lebih dari satu perempuan. Ini khan bahasa halusnya Nabi untuk sebuah
> masyarakat yang belum siap bagi perkawinan monogami.Rasulullah
> menikahi Khadijah sepanjang hayat istrinya. Selama itu dia tak pernah
> menikah lagi.Disamping itu juga harus dipahami makna sosialnya:
> melinmdungi perempuan korban masyarakat, janda yang suaminya gugur
> dalam peperangan, dll. Dan kebanyakan perkawinan Nabi setelah Khadijah
> memang memiliki fungsi sosial.
>
> Begitu juga dengan pembagian waris dan kesaksian dalam peradilan
> dimana dua saksi perempuan sama harganya dengan satu saksi laki-laki.
> Memahami ayat ini juga harus melihat konteks dimana dan kapan ia
> turun. Begitu satu masyarakat sesuai dan sudah siap: suatu masyarakat
> dimana suami itu bukan satu-satunya sokoguru ekonomi keluarga dan
> dimana perempuan-perempuannya menjadi sama terdidiknya dengan
> laki-laki, pembagian waris dan saksi adalah 1:1.
>
> Umar pernah sangat mengeluh kepada Nabi: "Gara-gara ajaranmu, ya
> Rasul, istri-istri kami menjadi berani membantah kata-kata kami.."
>
> Saya tidak percaya tidak ada nabi perempuan. Tidak ada satu ayatpun
> yang secara gamblang membenarkan pernyataan tersebut. Kalau pun ada
> itu pasti kata ulama-ulama masa lalu. Percayalah, bahkan seorang ulama
> sekalipun belum tentu berhasil keluar dari bias gender satu masyarakat
> tempat ulama tersebut belajar dan berkreasi.Juga tidak ada satu ayat
> pun dalam Qur'an yang mengisahkan bahwa perempuan dibuat dari tulang
> rusuk laki-laki. Keyakinan yang terakhir ini, menurut banyak studi
> sejarah, berasal dari tradisi Kristen-Romawi. Dari mana orang-orang
> Kristen mengadopsi keyakinan ini, banyak menduga: pengaruh dari
> masyarakat hellenis yang memang suka mitologi.
>
> Kepemimpinan laki-laki terhadap perempuan juga harus dipandang sebagai
> beban dan tanggungjawab, bukan privilege. Perempuan sudah dihadapkan
> pada banyak masalah sehubungan dengan takdir biologis mereka, kalau
> kepada mereka masih harus dibebankan kewajiban memimpin terhadap
> laki-laki, rasanya Tuhan jadi keterlaluan.
>
> Dalam diri Tuhan itu ada sifat-sifat maskulin dan feminin, itu semua
> coba diformulasikan menjadi nama-nama Tuhan: Allatif (mahalembut),
> Aljamal (mahaindah), dan arrahim (mahapengasih, nama Allah yang paling
> sering kita sebut, bahkan kemudian dijadikan nama organ tubuh
> perempuan tempat pembenihan dan pertumbuhan manusia) adalah contoh
> dari sifat-sifat feminin. Sifat maskulin misalnya: Almulk (yang
> berkuasa), aljalal (yangperkasa), dll. Kesempurnaan ilahi ada dalam
> pertemuan kedua sifat ini dalam perimbangan yang sempurna.
>
> Pada diri laki-laki, terdapat baik sifat maskulin maupun feminin, juga
> pada diri perempuan. Secara umum bedanya adalah: laki-laki itu jauh
> lebih mudah mengembangkan dan mengartikulasikan sifat-sifat maskulin
> dalam dirinya ketimbang sifat-sifat feminin yang ia miliki. Demikian
> pula sebaliknya: perempuan jauh lebih mudah menumbuhkan sifat-sifat
> feminin tinimbang sifat-sifat maskulin dalam dirinya. (Tetapi banyak
> juga perempuan-perempuan yang jauh lebih tangguh dibanding laki-laki
> dalam menghadapi kesulitan hidup).
> Disitulah indahnya penciptaan laki-laki dan perempuan: masing-masing
> menemukan separuh dari dirinya "yang hilang" dalam pasangan jenisnya.
> Laki-laki menemukan sifat femininnya yang hilang dalam diri perempuan,
> dan sebaliknya, perempuan menemukan sifat maskulin yang sudah ia
> lupakan pada diri laki-laki. Karenanya, dalam Islam (atau semua agama
> lain) pernikahan itu selalu punya makna spiritiual: pertemuan dari dua
> orang yang saling melengkapi yang mengingatkan keduanya pada "alam
> yang sempurna dari masa lalu", alam sebelum Adam dan Hawa terusir dari
> Surrga; yang mengingatkan pada sifat-sifat Tuhan yang seharusnya
> mengejawantah secara sempurna dalam kehidupan.
> Al Quran menggambarkan bahwa perempuan atau laki-laki itu ibarat
> pakaian yang saling menghiasi bagi tiap-tiap lawanjenisnya.
>
> Semua yang ditulis oleh Hasan Basri dibawah pada dasarnya adalah
> kritik sosio-antropologis. sampai taraf tertentu bisa jadi ia benar.
> Adalah tugas bagi orang-orang yang mengaku beriman untuk benar-benar
> merealisasi tugas pembebasan dari agama. Karena sampai taraf tertentu,
> agama kadang-kadang dimanfaatkan untuk mempertahankan dominasi
> laki-laki terhadap perempuan.
>
> Tapi Basri juga berlebih-lebihan saat ia mengatakan bahwa
> dinegara-negara sekular perempuan dianggap sebagai manusia. Mungkin
> benar kalau yang ia maaksud adalah: hak-hak sipil. Tapi tengoklah
> fenomena dimana perempuan tak dianggap tak lebih dari seonggok daging
> yang menjadi objek habis-habisan dari kapitalisme, dan segala
> estetisme yang bersifat kalakilakian, dan juga pornografi.
> Kalau Anda tinggal di Indonesia, Anda dapat menyaksikan satu acara
> yang sekkarang menghiasi hampir semua TV-Swasta: yakni Informercial
> melalui TV. Kebanyakan produk yang dijual disitu adalah produk
> perawatan tubuh wanita: dari alis, rambut, muka, bentuk mulut, ketiak,
> betis, pantat, sampai ke alat-alat genital. Seakan-akan tubuh wanita
> itu terdiri dari kumpulan perangkat-perangkat yang rusak atau tidak
> sempurna yang butuh diperbaiki dengan bantuan semua alat kecantikan
> tersebut. Melalui konspirasi kapitalisme global yang asalnya dari
> negara-negara sekuler yang dicintai Basri tadi, wanita dibuat yakin,
> bahwa mereka hanya dapat menjadi makhluk yang sempurna jika semua
> bagian tubuhnya sudah dipermak menggunakan alat-alat kecantikan
> tersebut. Dengan kata lain: mereka akan jadi manusia sempurna setelah
> mereka memuaskan nafsu "estetika laki-laki" yang menyesatkan tersebut.
> Basri tentunya sudah pernah berjalan-jalan ke Eropa, dan sangat
> mungkin ia menyempatkan diri datang ke red-area dan melihat bagaimana
> perempuan-perempuan itu dipertontonkan melalui etalase, seakan-akan
> mereka makhluk tak bernyawa dan tak punya perasaan. Tubuh yang
> dimuliakan Tuhan itu dijadikan objek murahan -- segumpal daging hangat
> yang menawarkan kenikmatan -- bagi laki-laki, setiap laki-laki, yang
> sanggup membayar. Islam sebenarnya sangat sadar dengan potensi
> pengobjekan tubuh perempuan ini, dan kemudian menyarankan (baca:
> menyarankan) perempuan-perempuannya mengenakan jilbab. (Ada banyak
> tafsir tentang jilbab, saya tak berniat mendiskusikannya sekarang).
>
> Well, lets make it simple. Bagaimana kalau kesejajaran perempuan
> laki-laki ini dipraktikkan dalam kejadian-kejadian sederhana
> sehari-hari, saja; nggak usah diperdebatkan secara rumit.
> Jangan-jangan Basri sendiri kelak menikahi seorang perempuan yang
> menjadi ibu rumah tangga. Mereka melakukan pembagian tugas: Basri
> bekerja mencari nafkah, sementara istrinya melakukan tugas-tugas
> domestik. Itu masih OK..
> Anehnya, saat akhir pekan tiba, Basri berlibur santai dirumah, bangun
> siang hari, lalu membaca buku dan majalah kesukaannya. Sementara
> istrinya tak berlibur: ia masih harus tetap memasak, mencuci piring
> dan membersihkan rumah...
>
> Gimana?
>
>
> Ciptadi
>
>