Point penting. Karena caleglah yang lebih efektif dalam menyuarakan suara
rakyat. Kalau caleg pandainya cuma mengumpulkan massa, membentuk partai
politik ataupun hanya ahli agama saja, kemudian bertugas di komite yang
bukan bidangnya, maka tugasnya sebagai penyambung lidah rakyat tidak akan
berjalan efektif.
Caleg (MPR/DPR), serta anggota lembaga tinggi lainnya (MA, Bepeka dan DPA),
sebaiknya dikenal rakyat dan kecakapannya diuji oleh rakyat. Dengan demikian
Presiden mendapat mitra yang tepat untuk melaksanakan semua tugasnya. Jika
Presiden tanpa sadar berbelok ataupun berputar dari tujuannya untuk
menyejahterakan rakyat, maka anggota lembaga tinggi negara inilah yang mampu
mengembalikan kejalan yang benar, bukannya malah ikut tambah membelokkan dan
ikut mengantungi beberapa milyar :)
dan ini juga akan menambah gengsi dan kredibilitas anggota lembaga tinggi
negara dari image yang kurang populer menjadi tokoh masyarakat yang
benar-benar terhormat dan didukung rakyat.
peace.

Budi Haryanto wrote:

> Dengan sistem pemilu memilih partai dan partai ngusulin calegnya sebagai
> anggota DPR/MPR yang kemudian mereka memilih presiden, seharusnya para
> CALEG ini harus di adu debat juga dong (supaya para anggota dewan tsb
> tidak hanya menjadi tukang tidur saja di gedung megah mereka).
>
> Khan justru mereka-mereka ini yang nantinya (mestinya) mewakili rakyat
> untuk memilih presiden yang berbobot. Lha kalau para CALEG ini sendiri
> nggak pernah ketahuan bobotnya, gimana bisa dipercaya milih seornang
> presiden yang berbobot.
>
> Sayang ya, daftar para caleg ini sudah pada masuk ke KPU. Lolos gitu
> saja tanpa kita-kita tahu kredibilitasnya. Jadi, pasrah sajalah kalau
> nantinya ada seorang presiden yang dipilih oleh para wakil rakyat yang
> sebagian besar rakyat sendiri tidak pernah tahu kemampuannya, tidak
> kenal, dan tidak pernah memilihnya sendiri.
>
> Salam,
> Budi
> (rakyat jelata yang terus-terusan dipaksa 'pasrah' oleh sistem)

Kirim email ke