Sekilas permintaan dari suku Cina WNI untuk benar-benar diperlakukan
adil sesuai UUD 1945 dan ajaran agama kita masing-masing. Jika manusia
sama dihadapan Tuhan, maka secara kenegaraan seharusnya setiap WNI harus
sama/setingkat didalam hukum dan pemerintahan. Melalui persamaan dan
kesederajatan, maka kesatuanpun akan lebih kokoh tanpa ada yang merasa
orang asing dinegerinya sendiri.

salam anti-diskriminasi

SUARA PEMBARUAN DAILY


Hentikan Politik Diskriminatif Ala
Orde Baru

Jakarta, Pembaruan

Etnis Cina di Indonesia telah didiskreditkan rezim Orde Baru,
dimanfaatkan
penguasa menjadi sapi perahan, tapi sekaligus jadi kambing hitam dari
sejumlah
krisis. Politik diskriminatif dan dikotomi mayoritas-minoritas harus
diakhiri.

Pemerintah yang sekarang maupun yang akan datang jangan mengulang
kesalahan-kesalahan Orde Baru. Partai-partai politik diharapkan tidak
''menjual'' isu
rasial dalam kampanyenya, yang justru akan memecah belah bangsa.

Hal itu diungkapkan para pembicara dan sejumlah peserta diskusi bedah
buku Hoakiau
di Indonesia karangan Pramudya Ananta Toer, di Kampus Unika Atma Jaya
Jakarta,
Sabtu (15/5). Acara ini diselenggarakan Semanggi Peduli dan Kelompok
Diskusi
Informal Psikologi.

Hadir sebagai pembicara, pengamat politik dan sosial Siauw Tiong Djin,
aktivis Suara Ibu
Peduli (SIP) Karlina Leksono-Supeli, aktivis Aliansi Jurnalis Independen
(AJI) Stanley,
serta Amir dari Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM).

Siauw Tiong Djin memaparkan, penguasa Orla dan Orba telah memberi stigma
yang
diskriminatif terhadap etnis Cina dalam kehidupan sehari-hari. Selain
itu, banyak
peraturan dan kebijaksanaan yang menyudutkan etnis Cina sehingga
menempatkan
mereka pada posisi seperti orang asing di negeri sendiri.

Padahal, menurut Siauw, etnis Cina sudah ada di Indonesia sejak ratusan
tahun lalu,
bahkan mayoritas sudah tidak ada hubungan sama sekali dengan daerah asal
nenek
moyang mereka. Mereka sudah merasa Indonesia sebagai negaranya, seperti
juga
suku-suku atau etnis-etnis lain di Indonesia.

Senada dengan itu, Stanley mengatakan, perlakuan diskriminatif dan isu
rasial sengaja
diciptakan para politisi dan pejabat Orde Baru untuk memecah belah
rakyat agar mudah
diadu-domba dan menjadi sangat tergantung pada pemerintah dan militer.
Konflik-konflik
yang terjadi, termasuk anti Cina, selalu menguntungkan penguasa rezim
Orba.

''Kekejaman terhadap etnis tertentu, termasuk kepada etnis Cina saat
kerusuhan Mei
1998, tidak pernah dituntaskan. Wajar jika mereka ingin mengungsi karena
takut, seperti
sebagian etnis Cina yang akan ke luar negeri saat kampanye pemilu.
Jaminan keamanan
tidak ada. Berbagai kerusuhan menjadi bukti tak terjaminnya keamanan,''
ujarnya.

Slogan

Karlina Leksono mengatakan, sepanjang masa Orde Baru, ketidakadilan
terjadi di
mana-mana. Ketidakadilan ditutup-tutupi dengan slogan-slogan seperti
kesatuan dalam
kebinekaan, kerakyatan, musyawarah, gotong-royong, kemanusiaan,
keberadaban, dan
banyak nilai-nilai agung lainnya. Hal ini jangan sampai diulang oleh
pemerintah yang baru.

''Ketidakadilan yang dialami hampir seluruh masyarakat kita, bukan hanya
menyebabkan
luruhnya rasa ikut menjadi bagian dari Indonesia yang utuh. Tapi
membelahnya menjadi
mereka yang dinilai lebih beruntung dan yang tidak beruntung, mereka
yang menikmati
Indonesia dan mereka yang tidak menikmati,'' ujarnya.

Ketidakadilan menyeluruh menyebabkan masyarakat terbagi atas
kelompok-kelompok
yang selalu merasa didiskriminasi walau dalam bentuk berbeda-beda.
Ketidakberdayaan
melawan ketidakadilan struktural sebagai musuh masyarakat yang
sesungguhnya, akan
memunculkan pencarian ''musuh'' yang mungkin dilawan, musuh yang tidak
memiliki
kekuasaan.

Menurut Karlina, hampir semua konflik horisontal berdarah yang terjadi
dalam setahun
terakhir ini berangkat dari keberhasilan mereka yang berkepentingan
untuk menarik
gagasan mengenai ''yang lain'' itu ke titik ekstrim. Termasuk tragedi
Mei tahun lalu ketika
orang-orang Cina-Indonesia dijadikan sasaran penyerangan massa.

Segelintir

Arifin, peserta diskusi yang juga dosen Universitas Atma Jaya
mengatakan, hanya
segelintir etnis Cina yang memang masuk golongan konglomerat dan
berkolusi dengan
birokrasi. Lebih banyak jumlah etnis Cina yang hidup biasa-biasa saja,
bahkan sebagian
masih hidup di bawah garis kemiskinan.

''Walaupun banyak yang menganggap etnis Cina sebagai minoritas dan
menguasai
mayoritas ekonomi Indonesia, namun orang-orang terkaya di Indonesia
adalah Soeharto,
keluarga dan kroninya. Perbankan nasional rusak antara lain karena
pejabat dan
anak-anak pejabat meminjam uang dengan memaksa dan tak mau
mengembalikan. Tapi
yang jadi kambing hitam tetap orang Cina,'' ujarnya.

Sementara itu, seorang mahasiswi Atma Jaya yang kebetulan keturunan Cina
menyatakan
terima kasih kepada Karlina Leksono dari SIP serta tim relawan lainnya
yang telah
berjuang membela kaum yang lemah termasuk etnis Cina yang menjadi korban
kekejian
Mei 1998.

''Pada kerusuhan Mei, etnis Cina diperlakukan seperti binatang. Kami
tidak mengerti
apa-apa. Sampai saat ini saya bergaul dengan teman-teman sesama bangsa
Indonesia. Di
kampus tidak ada perbedaan etnis. Tapi pemerintah sengaja
mengkotak-kotakkan dan
menyudutkan etnis Cina,'' ujarnya. (S-26)


Last modified: 5/16/99

Kirim email ke