Lewat penasihat hukumnya, Suharto mati-matian menyerukan bahwa tidak ada
kekayaan di luar negeri atas namanya.
Ini merupakan indikasi kuat untuk pihak yang berwenang melakukan pelacakan,
bahwa harta Suharto tidak didaftar memakai nama Suharto. Secara tidak
langsung, Suharto mengaku kalau hartanya itu didaftar bukan dengan namanya.
Jadi, kita harus mencari orang-orang yang dibayar Suharto untuk dipakai
namanya sebagai pemilik rekening.
Jauh sebelum ini, saya sudah mendapat berita adanya seorang pegawai rendahan
di suatu negara maju yang ditangkap oleh aparat keamanan negara tersebut.
Alasan penangkapan adalah bahwa sang pegawai rendahan itu memiliki rekening
di bank dengan jumlah yang sangat aduhai untuk seorang seperti beliau.
Laporan pajaknya tidak satu "irama" dengan jumlah rekeningnya. Ternyata
beliau hanya sekedar orang yang dipinjam tandatangannya oleh Suharto.
Untuk yang kelas lebih kakap, Suharto gondog kepada Habibie. Sewaktu Suharto
"berobat" ke Jerman, Habibie menjadi saksi kunci dalm proses pengambilan
specimen tandatangan para pemegang joint account dan beneficiary. Ini
sebabnya sekarang Suharto kelabakan karena Habibie mengetahui "kartu mati"
Suharto. Suharto kira Habibie ini bisa dipegang, ternyata malah Habibie yang
memainkan kartu itu. Akhirnya mereka berdua (Suharto dan Habibie) malah
saling mengancam akan membocorkan rahasia-rahasia antar mereka berdua.
TampanDeh - eh maksudnya - repot, deh.
Rgds,
Alex
Rgds,
Alex