Berikut dua artikel tentang koalisi PDIP, PAN dan PKB. Keputusan yang
sangat baik dan tidak egois, karena yang terpenting bukanlah suatu ketua
partai menjadi presiden, tetapi bagaimana reformasi untuk kepentingan
rakyat bisa dilaksanakan. Siapapun yang menjadi presiden perlu dilapis
oleh sistem yang mencegah agar tidak terjadi lagi kekuatan yang sangat
tersentral seperti yang sudah-sudah.
Untuk yang bisa dibeli dengan 'money politics' akan berpikir dua kali
dengan adanya koalisi ini. Pertama, uang panas itu menghantam rakyat.
Yang kedua, uang panas itu jika ketahuan akan menghantam diri sendiri
dan keluarga.
Insya Allah, Tuhan akan memilih pemimpin yang terbaik untuk bangsa kita.

peace.

 I.                                Selasa, 18 Mei 1999

                                 Mega, Amien, Gus Dur Sepakat
                                 Hadang "Status Quo"


Jakarta, Kompas

                                                                 Ketua
Umum Pengurus
                                                                 Besar
Nahdlatul Ulama
                                                                 (PBNU)
KH

Abdurrahman Wahid
                                                                 (Gus
Dur) yang juga
                                                                 pendiri
Partai

Kebangkitan Bangsa
                                                                 (PKB),
Ketua Umum
                                                                 DPP
Partai Amanat

Nasional (PAN) Amien
                                                                 Rais,
dan Ketua Umum
                                                                 DPP PDI
Perjuangan

Megawati Soekarnoputri
                                                                 sepakat
untuk
                                 menggalang kekuatan bersama untuk
menghadang kekuatan status
                                 quo.

                                 Kesepakatan itu tertuang dalam komunike
bersama yang
                                 ditandatangani ketiga tokoh itu, Senin
(17/5), di Jakarta. Sedangkan
                                 pernyataan komunike itu dibacakan Amien
Rais dan Gus Dur Selasa
                                 dini hari di kediaman Ketua DPP PKB
Alwi Shihab di Jl Paso No 22,
                                 Ciganjur. Megawati tidak dapat hadir
dalam jumpa pers tersebut
                                 karena pagi ini dia harus melakukan
kunjungan kerja ke daerah.

                                 Berikut ini "Pernyataan Kesepakatan
Bersama" yang ditandatangani
                                 ketiga tokoh tersebut.

                                 Menyongsong Pemilu Menuju Indonesia
Baru, terhitung mulai 19 Mei
                                 1999 bangsa Indonesia memasuki masa
kampanye. Pemilu
                                 merupakan suatu upaya demokratis dalam
mewujudkan kedaulatan
                                 dan aspirasi rakyat.

                                 Dalam transisi menuju demokrasi, yang
sedang dilaksanakan oleh
                                 bangsa Indonesia, pemilu ini merupakan
tahapan krusial untuk
                                 memulai babak baru dalam mewujudkan
sistem politik yang
                                 demokratis, dan menghasilkan
pemerintahan yang bertanggung
                                 jawab kepada rakyat Indonesia.

                                 Kami penandatangan pernyataan ini
berasal dari kekuatan politik
                                 yang berbeda dan memiliki pandangan
politik yang berbeda pula,
                                 namun kami menegaskan kebersamaan dan
kesepakatan
                                 pandangan sebagai berikut:

                                      1. Kami mengingatkan kepada
seluruh bangsa Indonesia
                                      bahwa proses reformasi belum
selesai. Kekuatan status quo
                                      yang tidak ingin melihat perubahan
masih ingin terus
                                      menghadang kekuatan kita. Kita
tidak boleh
                                      membuang-buang waktu lagi dan
membiarkan kekuatan
                                      tersebut mengulur waktu bagi
kepentingan sempit partai dan
                                      golongannya. Karena itu, kami
menyatakan bersatu padu
                                      dalam melanjutkan reformasi dan
menghadang kekuatan
                                      anti-reformasi. Kami juga mengajak
segenap bangsa untuk
                                      bersama-sama meneruskan reformasi
kehidupan berbangsa
                                      dan bernegara.

                                      Seluruh komponen bangsa harus
bersama-sama menciptakan
                                      Indonesia baru yang demokratis,
bertumpu pada kedaulatan
                                      rakyat, menjamin kebebasan
politik, mengutamakan
                                      kedaulatan hukum, dan menjamin
setiap warganya tanpa
                                      diskriminasi.

                                      2. Kami bertekad mewujudkan pemilu
dan sepenuhnya siap
                                      berperan dalam pemilu yang
demokratis jujur, adil, dan tanpa
                                      kekerasan. Dengan cara inilah,
pemilu tersebut akan
                                      menghasilkan pemerintahan yang
legitimate dan berwibawa,
                                      baik di mata rakyat pemilih maupun
dalam pandangan
                                      masyarakat dunia. Secara sportif,
kami siap menerima hasil
                                      pemilu yang demokratis.

                                      3. Kami menyadari bahwa pemilu
yang demikian merupakan
                                      tanggung jawab semua partai dan
pendukung reformasi.
                                      Karena itu, kami menyerukan kepada
semua pihak untuk
                                      bersama-sama kami mewujudkan
pemilu yang damai, tertib,
                                      jujur, adil, dan tanpa kekerasan.
Seruan ini kami tujukan
                                      kepada seluruh aktivis partai dan
pendukung kami, maupun
                                      jajaran birokrasi dan aparat
keamanan di semua tingkatan,
                                      serta kepada segenap bangsa
Indonesia.

                                      4. Kami berkeyakinan bahwa Pemilu
1999 akan dapat
                                      dijalankan dengan baik sehingga
pembentukan pemerintah
                                      yang legitimate melalui cara yang
demokratis itu dapat
                                      diwujudkan segera setelah
hasil-hasil pemilu disahkan. Maka
                                      kami mendesak agar peresmian
anggota DPR/MPR serta
                                      pemilihan presiden dan wakil
presiden dilakukan tiga bulan
                                      setelah hasil akhir pemilu
ditetapkan. Kami siap sepenuhnya
                                      untuk mewujudkan hal ini.

                                      5. Dengan memohon pertolongan dan
kekuatan dari Tuhan
                                      Yang Maha Esa, kami berketetapan
hati untuk menggalang
                                      dukungan segenap bangsa dalam
melanjutkan reformasi,
                                      melawan status quo, memenangkan
pemilu, dan membentuk
                                      pemerintahan baru yang demokratis.

                                 Dibahas sekjen

                                 Usai membacakan pernyataan itu,
menjawab pertanyaan wartawan
                                 tentang stembus accoord, Amien Rais
menyatakan bahwa soal-soal
                                 yang lebih teknis, termasuk soal itu,
akan dibahas oleh ketiga
                                 sekjen, yakni Sekjen PAN, Sekjen PKB,
dan Sekjen PDI
                                 Perjuangan.

                                 Di rumah Alwi Shihab, Ketua DPP PKB
itu, puluhan wartawan telah
                                 menunggu kehadiran tiga tokoh itu sejak
selepas magrib dengan
                                 harapan ketiganya dapat bertemu segera
setelah mengikuti acara
                                 debat calon presiden di Mercantile
Club, Jakarta.

                                 Sebelumnya, sempat diperoleh keterangan
bahwa pertemuan ketiga
                                 tokoh itu akan berlangsung di kediaman
Megawati di Jl Kebagusan,
                                 namun ternyata pertemuan itu
berlangsung di rumah Alwi Shihab.

                                 Selepas pukul 24.00, Gus Dur tiba di
rumah Alwi, lalu sekitar lima
                                 menit kemudian datang Amien Rais.
Setelah itu, wartawan
                                 memperoleh informasi bahwa Megawati
tidak bisa ikut hadir.

                                 Menurut Syaifullah Yusuf, caleg PDI
Perjuangan dari DKI Jakarta,
                                 Megawati memang tidak bisa hadir,
tetapi Mega sudah menyetujui
                                 seluruh isi komunike. Ketidakhadiran
itu, katanya, karena Megawati
                                 Selasa pagi ada acara di daerah.

                                 Namun dukungan terhadap komunike itu
sebelumnya sudah
                                 dinyatakan Megawati di Palu, Senin
siang. Megawati mengharapkan
                                 komunike bersama itu dapat
mengakomodasikan keinginan ketiga
                                 partai untuk menyamakan persepsi dalam
rangka perubahan, untuk
                                 menghadang status quo.

                                 "Jika sekiranya dalam komunike bersama
itu memang ada keinginan
                                 untuk menyamakan persepsi untuk
menghadang status quo, saya
                                 akan siap melakukannya," ungkap
Megawati menjawab Kompas di
                                 sela-sela kunjungannya ke Palu,
kemarin.

                                 Di Lapangan Vatulemo Palu, PDI
Perjuangan melakukan konsolidasi
                                 partai yang dihadiri tidak kurang
15.000 pendukung dan simpatisan
                                 partai berlambang kepala banteng dalam
lingkaran itu.
                                 (mba/drm/wis/bw/lam)
II.
Selasa, 18 Mei 1999

                                 Koalisi PDI Perjuangan, PKB, PAN Bisa
                                 Tumbangkan "Status Quo"

                                 Jakarta, Kompas

                                 Kesepakatan ke arah koalisi antara
Partai Demokrasi Indonesia (PDI)
                                 Perjuangan, Partai Amanat Nasional
(PAN) dan Partai Kebangkitan
                                 Bangsa (PKB) diharapkan akan menjadi
magnet atau poros yang
                                 bisa menarik partai-partai proreformasi
lainnya untuk bergabung
                                 melawan kekuatan status quo.

                                 Koalisi antara PDI Perjuangan, PAN, dan
PKB saja diperkirakan
                                 tidak akan mampu mencapai mayoritas
kursi di MPR karena masih
                                 ada 200 anggota MPR yang diangkat dari
utusan daerah, utusan
                                 golongan dan 38 kursi ABRI yang
sebagian akan memperkuat
                                 barisan status quo.

                                 Demikian dikemukakan pengamat politik
Heri Akhmadi, Dr Kusnanto
                                 Anggoro, dan AS Hikam kepada Kompas di
Jakarta, Senin (17/5)
                                 menanggapi lahirnya komunike bersama
tiga partai proreformasi dan
                                 terpilihnya Habibie sebagai calon
presiden tunggal dari Golkar.

                                 Hal senada juga dikemukakan secara
terpisah oleh pengamat politik
                                 dari Universitas Gadjah Mada Ichlasul
Amal, Koordinator Gerakan
                                 Keadilan dan Persatuan Bangsa Siswono
Yudohusodo, Ketua
                                 Eksponen '66 Jawa Barat Thomas Sitepu,
dan Ketua DPP PAN
                                 Sindhunata.

                                 Heri Akhmadi dan Sindhunata
berpendapat, keputusan Golkar
                                 memilih Habibie sebagai calon presiden
merupakan sesuatu yang
                                 tidak perlu dikhawatirkan. Keputusan
itu justru sangat baik untuk
                                 menunjukkan bahwa Habibie adalah bagian
utama kekuatan status
                                 quo.

                                 Hal itu akan membuat masyarakat lebih
mudah membedakan antara
                                 Golkar dan Habibie yang condong ke
status quo, dengan kekuatan
                                 tiga partai (PDI Perjuangan, PAN dan
PKB) yang mengarah ke masa
                                 depan.

                                 Habibie, kata Kusnanto, selama satu
tahun berkuasa tidak mampu
                                 membuktikan dirinya sebagai pemimpin
reformatif karena berbagai
                                 persoalan yang berkaitan dengan kolusi,
korupsi dan nepotisme
                                 (KKN) tidak bisa diselesaikannya.

                                 Komunike bersama PDI Perjuangan, PAN,
dan PKB, menurut
                                 Akhmadi, akan sangat bermanfaat untuk
menambah dukungan
                                 pemilih kepada ketiga partai itu,
karena dengan kerja sama itu akan
                                 mampu menarik calon pemilih yang selama
ini ragu-ragu. Komunike
                                 tersebut sekaligus akan membuat
perolehan suara Golkar bakal
                                 jeblok di Jawa dan Bali. Satu-satunya
jalan yang dapat dipakai
                                 Golkar untuk meraih dukungan di wilayah
ini hanyalah dengan
                                 menyuap (politik uang).

                                 Harapan serupa juga dilontarkan tiga
organisasi pemuda yang
                                 bernaung di bawah PAN, PKB, PDI
Perjuangan di Jabar, yang
                                 menyerukan tiga pucuk pimpinan mereka,
yakni Gus Dur, Amien
                                 Rais, Megawati untuk bergabung
menyingkirkan kekuatan status
                                 quo. "Tolong dengar suara kami, tolong
lihat kebersamaan kami,"
                                 kata Cecep Kholiludin, Ketua Garda
Bangsa Jabar.

                                 Utusan Golongan dan ABRI

                                 Suara Utusan Golongan dan ABRI, lanjut
Akhmadi, akan
                                 diperebutkan kedua kutub yang
berlawanan, yakni antara kekuatan
                                 proreformasi dan status quo. Karena
ABRI memperoleh jatah kursi
                                 10 persen di DPRD, paling tidak ABRI
akan memperoleh satu kursi
                                 tambahan di setiap propinsi.

                                 Berarti, jumlah kursi ABRI di MPR
paling tidak mencapai 65 suara.
                                 Jumlah itu sama besarnya dengan utusan
golongan sebanyak 65
                                 kursi. Dalam keadaan seperti ini
dikhawatirkan Habibie akan
                                 melakukan politik uang untuk memperoleh
dukungan mayoritas di
                                 MPR.

                                 Kusnanto mengemukakan, sekalipun PDI
Perjuangan, PAN, dan
                                 PKB berkoalisi, mereka tidak akan
mencapai separuh dari jumlah
                                 kursi MPR. Golkar bagaimanapun masih
merupakan kekuatan
                                 tangguh. Sejumlah partai kecil
kemungkinan besar akan memberikan
                                 dukungan kepada Golkar dan Habibie
supaya mereka tidak hilang
                                 dari peredaran.

                                 Menurut dia, kesepakatan antara tiga
partai hanya akan menggeser
                                 perimbangan antara partai status quo
dan pro-reformasi dengan tetap
                                 memberikan peluang yang besar kepada
Habibie untuk menang
                                 dalam pemilihan presiden. Karena itu,
masih diperlukan gelombang
                                 reformasi tahap kedua dengan tekanan
publik terhadap Sidang
                                 Umum MPR.

                                 Keharusan sejarah

                                 Pengamat politik LIPI, AS Hikam
mengatakan, koalisi menjadi
                                 keharusan bagi partai pro-reformasi
untuk bisa memenangkan
                                 pemilu. Sebab, untuk bisa mengalahkan
Golkar yang masih
                                 menggunakan birokrasi dan politik uang,
diperlukan sebuah front
                                 untuk bisa membendungnya. "Bukan soal
baik atau tidak, tetapi ini
                                 keharusan sejarah," tegas Hikam.

                                 Koalisi sebelum pemilu, menurut Hikam,
tidak harus diartikan
                                 membagi kursi, tetapi lebih pada upaya
menggalang kerja sama di
                                 lapangan. Koalisi riil baru dipikirkan
setelah jelas berapa kursi yang
                                 diraih masing-masing partai.

                                 "Kalau PAN, PKB dan PDI Perjuangan
sudah sepakat bekerja sama,
                                 dia akan menjadi pimpinan di lapangan
untuk menyatakan sebagai
                                 kekuatan pro-reformasi. Dengan begini
peluang Golkar
                                 memanfaatkan birokrasi dan politik uang
makin sempit," tegasnya.

                                 Kerja sama semacam itu, tegas Hikam,
akan lebih meyakinkan para
                                 pemilih yang pro-reformasi dalam
menentukan pilihannya dan akan
                                 menarik partai kecil yang pro-reformasi
untuk bergabung. "Kerja
                                 sama seperti itu, menjadi sarana paling
efektif membendung Golkar,"
                                 ujarnya.

                                 Tak terdongkrak

                                 Prof Dr Ichlasul Amal MA menilai,
pencalonan Habibie sebagai calon
                                 presiden tunggal oleh Partai Golkar
sama sekali tidak akan
                                 menaikkan atau mendongkrak dukungan
suara bagi Golkar. Sebab,
                                 lapisan masyarakat bawah pada umumnya
tidak memiliki hubungan
                                 emosional dengan Golkar maupun pimpinan
Golkar, kecuali
                                 kebutuhan untuk memproteksi posisi
mereka.

                                 Menurut dia, Golkar saat ini memang
dalam posisi yang sangat sulit.
                                 Dan Habibie merupakan pilihan the best
among the worst (terbaik di
                                 antara yang terburuk-Red). Karenanya,
Ichlasul sependapat, pada
                                 sisa pemerintahannya, Habibie harus
bisa menunjukkan bahwa dia
                                 betul-betul figur hasil reformasi, dan
bukan kontinuitas figur Soeharto.

                                 Komentar senada dikemukakan Siswono
Yudohusodo. Dikatakan,
                                 berbagai keterpurukan selama ini sudah
lebih dari cukup untuk
                                 menunjukkan betapa pentingnya
pergantian kekuasaan politik dari
                                 Golkar dan ABRI kepada penguasa politik
lainnya. Keinginan Golkar
                                 untuk tetap berkuasa, merupakan
cerminan budaya politik yang
                                 buruk, tidak memberikan pendidikan
politik yang sehat. Golkar
                                 sebaiknya menempatkan diri sebagai
oposisi untuk tampil kembali.

                                 Pencalonan BJ Habibie, katanya,
merupakan langkah politik yang
                                 tidak edukatif dan tidak bijaksana,
karena masih banyak pemimpin di
                                 negara ini yang cukup baik memimpin
negara ini.

                                 Ketua Eksponen '66 Jawa Barat, Thomas
Sitepu di Bandung, Minggu
                                 malam, mengatakan, penunjukan Habibie
sebagai calon presiden
                                 dari Partai Golkar masih meniru pola
Orde Baru, di mana sosok
                                 presiden yang berkuasa dicalonkan
kembali tanpa alternatif
                                 pendamping.

                                 Dengan rasa prihatin, tokoh eksponen
'66 Jabar itu menilai, cara-cara
                                 Golkar sudah mengkhianati semangat
reformasi yang diperjuangkan
                                 rakyat dan mahasiswa selama ini. "Nyawa
dan pengorbanan
                                 mahasiswa bakal sia-sia, jika
pencalonan tunggal itu tidak digugat,"
                                 katanya.

                                 Sementara Emil Salim, Senin, di
Jakarta, menilai, pencalonan
                                 Jenderal TNI Wiranto sebagai wakil
presiden cenderung mengundang
                                 ketidaknetralan ABRI terhadap parpol
lain.

                                 Menurut Emil, Wiranto adalah pimpinan
tertinggi angkatan
                                 bersenjata, sehingga tetap ada
pengaruhnya ke bawah jika
                                 dicalonkan partai tertentu. Anggota TNI
memang tidak boleh memilih,
                                 namun keadaan anggota TNI di daerah dan
masyarakat bisa
                                 memberikan pengaruh kepada para pemilih
untuk melaksanakan
                                 pilihan yang paling menguntungkan
pimpinannya.

(wis/mba/hrd/nar/tri/ika/yul/kor/hers/lam)

Kirim email ke