Rasanya saya jarang membuka sebuah tulisan dengan anekdot,
tapi kali ini mau coba... iseng-iseng mengikuti gaya Pak Christianto....

Beberapa hari yang lalu saya bercakap-cakap dengan 2 teman saya
dimana intinya adalah perbandingan antara partai-partai. Yang satu itu
adalah pendukung setia PDI-P, dan yang lain lebih baik tak saya sebut
nama partainya. Dalam percakapan itu, si B (yang mendukung partai
lain) menyatakan keberatannya tentang Megawati yang dianggapnya
terlalu mengandalkan nama Bung Karno saja. Si A (pendukung PDI-P)
otomatis membela diri. Singkat kata, dari diskusi yang santai mendadak
menjadi perang mulut, dimana si B sampai menyatakan, 'Jadi kalau
Megawati masuk sumur, kamu juga masuk sumur?' Hasilnya anda bisa
tebak sendiri, yakni diskusi ini mendadak berubah menjadi perdebatan
sengit dan jadi debat kusir dan kalau saja tak ditahan, bisa-bisa mereka
berdua jadi juru masak dengan keahlian membuat ketupat bengkulu.
Yang menarik itu, waktu sudah selesai dan saya pulang bersama-sama
si A, saya tanya dia kenapa dia mendukung PDI-P. Dasarnya ternyata
dia memang suka dan kagum kepada Megawati dan hanya itu. Dia tak
tahu dan tak peduli dasar-dasar atau fondasi atau juga asas PDI-P,
namun yang penting adalah Megawati.

Di pihak lain, waktu saya bercakap-cakap dengan teman saya yang lain
lagi, pengalaman yang ini sangat berbeda. Waktu itu saya tanya partai
apa yang dia mau pilih. Dia bilang sampai sekarang dia tak pernah
mengikuti soal ini (walau sudah mendaftar buat pemilu). Herannya, dia
bahkan kaget waktu saya bilang kali ini kita punya 48 partai. Dia pikir
dia hanya perlu memilih paling banyak 10 partai. Singkat kata, dia bilang,
'Kalau begitu, gue pilih nomor yang asal saja.... coba tolong lihat, partai
nomor 33 itu partai apa?' Kalian tentu tahu bahwa ini Golkar....
Waktu saya nyatakan bahwa ini partai Golkar, dia langsung bilang enteng
'ya sudah, pilih Golkar saja, habis nomornya pas begitu, baru sekali pilih
sudah langsung dapat pas begitu; pasti ini jodoh gua....'

Sebelum ada yang dari pendukung PDI-P yang 'menyerbu' saya, saya
tekankan dulu bahwa tak ada maksud dan niat saya menjelek-jelekkan PDI-P.
Namun, kalau ada dari pembaca yang mempertanyakan keaslian kedua cerita di
atas, saya hanya bisa menyatakan bahwa sayangnya keduanya itu cerita
asli..., dimana inti yang saya dapatkan dari pengalaman saya diatas adalah
ketidakpedulian dan kefanatikan yang tanpa dasar.

Pertama-tama, mari kita ulas tentang kefanatikan tanpa dasar.
Sekarang coba kita ambil sensus terhadap para peserta milis-milis di sini
atau juga mayoritas rakyat Indonesia. Pertanyaannya hanya satu: Apakah
mereka tahu tentang dasar, ide, dan fondasi semua partai pemilu ini.
Walau tak didukung bukti kongkrit sekarang, saya terus terang pesimis
kalau mayoritas rakyat tahu tentang program kerja dan dasar semua partai.
(48 partai.... menghapal namanya saja saya sudah kewalahan, wong
menghapal namanya enggak dapat duit lagi.... :-)   )

Hasilnya, apa yang rakyat ikuti? Hanya figur-figur di partai tersebut, seperti
Abdulrahman Wahid, Amien Rais, Megawati, dst. Kalau saya lihat, ini namanya
adalah kesetiaan buta yang mengandalkan kharisma satu orang tertentu saja,

atau kalau kita mau ambil nama dari legenda Jawa adalah 'Ratu Adil.'
Mungkin di sini sebagian pembaca mulai mempertanyakan, 'so what?'
Justru kalau menurut saya, ini adalah satu titik gawat, dimana kesetiaan
buta justru akan menimbulkan perpecahan.

Sejauh yang saya lihat sekarang, partai-partai 'besar' seperti PKB, PDI-P,
dan PAN hanya mengandalkan para pemimpinnya sebagai madu untuk
menarik massa. Partai-partai lain mengandalkan agama atau fanatisme
untuk mengumpulkan suara. Dari semua partai di atas, tak terlihat adanya
'ide' atau visi untuk Indonesia dimasa depan. Lebih buruk lagi, tak ada yang
menyatakan secara jelas akan apa yang akan dilakukan jikalau terpilih.

Di sini unsur kedua yang berbahaya juga keluar, yakni ketidakacuhan.
Akibat banyaknya partai dan para pemimpin partai yang didewakan, orang
tak peduli lagi kepada ide dasar partai; yakni apa yang mempersatukan
partai tersebut SELAIN pemimpinnya. Di sini orang tak lagi melihat
ide, mana ide yang bagus dan sesuai nurani atau ide-ide yang berlawanan
dan tak cocok untuk Indonesia. Semuanya dibuang hanya untuk mengikuti
sang pemimpin yang ada di depan. Di sini bibit-bibit perpecahan tersebar
dimana para pemimpin yang mulai didewakan tak mau bekerja sama atau
bekerja dibawah yang lain tanpa mau memberikan konsesi ataupun kerja
sama yang didasarkan persamaan ide. Jika saya merenungkan hal ini, tak
heran teman saya itu dengan santainya menyebutkan satu nomor dan menaruh
masa depan Indonesia di tangan nasib.... Jadi ingat SDSB....

Sampai sekarang persatuan oposisi hanya berdasarkan 2 hal: ketakutan atas
naiknya kembali ex-prez Suharto dan instabilitas nasional yang akhirnya akan
menghancurkan semua partai yang baru berdiri dan terutama Indonesia. Atas
dasar itu saya lihat bahwa mulai timbul koalisi-koalisi partai yang dimulai
SETELAH pemilu. Kata SETELAH ini saya tekankan berhubung banyaknya
kekuatiran dari semua pihak bahwa ada yang pada akhirnya tak puas atas
perolehan suara dari pemilu dan meneriakkan senjata konta 'PEMILU CURANG!'
Walau persekutuan antar partai membantu memberi kestabilan, tapi tetap
saja senjata konta itu akan terus membuntuti Gatot Kaca, apalagi kalau
sudah dalam saat menentukan siapa yang menjadi 'senior' atau 'junior'
dalam persekutuan tersebut.

Melalui tulisan ini, saya menyerukan kepada para pendukung partai untuk
memikirkan kembali posisi kalian, apakah kalian mendukung satu partai
hanya untuk pemimpinnya saja, atau memang idenya itu sesuai nurani
kalian. Jikalau pendukung partai bisa mengemukakan ide dasar dari partai
tersebut yang memang patut didukung, saya optimis bahwa mereka yang
tak peduli bisa menjadi peduli dan mendukung partai yang idenya memang
patut didukung. Janganlah mengandalkan pemimpin saja, dan jangan juga
untuk pengeritik partai untuk mengeritik satu partai karena pemimpinnya
saja. Tapi kita perlu hilangkan sikap ketidakpedulian terhadap ide dan
menghilangkan rasa fanatisme yang berlebihan untuk bisa bekerja sama
agar Indonesia yang sudah masuk ICU tak bernasib seburuk Russia
sekarang.



YS



Love and hatred are the same thing, the former is just aggressive and the
latter passive....
                                                                    Hans
Gustav Adolf Gross

"Criminal Psychology"

Kirim email ke