Satu tahun Reformasi dan tiga hari masa kampanye Pemilu, membuat banyak pihak mencoba menengok catatan, menganalisa dan merenung, sudah sampai dimanakah perjalanan kita sebagai bangsa, dan apa yang kita akan peroleh dalam Pemilu nanti.
 
Banyak pihak, seperti kalangan mahasiswa yang melakukan renungan di Tugu Proklamasi semalam, menilai bahwa tidak ada perubahan yang berarti dalam dalam era reformasi ini. KKN masih merajalela dan tokoh-tokohnya masih berleha-leha, sementara jutaan keluarga menderita karena kehilangan lapangan kerja dan naiknya harga kebutuhan pokok sehari-hari. Struktur dan sistem pemerintahan, hanya berganti pucuknya saja.
 
Komunike bersama tiga parpol, PDI Perjuangan, PKB dan PAN, yang diperkirakan akan meraih dukungan besar masyarakat dalam pemilu nanti, diikuti dengan ikrar tiga partai PAN, PPP dan Partai Keadilan hari ini, nampaknya berfikir serupa. Mereka bersepakat untuk menggalang kerja sama guna menekuk rezim orde baru agar menyingkir, dan memberikan kesempatan kepada orang-orang baru, yang selama ini di pinggiran, untuk membenahi pemerintah.
 
Kalangan yang lebih moderat, seperti yang ditunjukkan oleh PB HMI dalam evaluasi rapor pemerintahan Habibie, mencoba membuat daftar keberhasilan dan kegagalan kabinet reformasi pembangunan. Catatan serupa juga banyak dikemukakan dan dibahas orang. Tajuk rencana harian KOMPAS, pada tgl. 21 Mei 1999, memberikan gambaran yang pas tentang pemerintahan Habibie.
 
Habibie, by character, by personality benar-benar tidak ada masalah. Penampilannya santai, tak terlalu terikat pada aturan protokoler, "un-presidential" kata KOMPAS, dan bahkan melahirkan kesegaran. Habibie memberikan kesan sangat ramah dan manusiawi dalam penampilan dan sikapnya ketika menerima tamu-tamunya. Ia berbicara rileks dengan wartawan lokal maupun asing, tidak segan-segan ikut menyanyi dalam beberapa kesempatan. Ia berbicara bebas, tanpa teks, ketika harus memberikan pidato resmi.
 
Habibie, yang dikecam lawan-lawan politiknya, sebagai anak emas dan murid kesayangan Soeharto, boros dalam pembelanjaan uang negara, tak berbakat sebagai politikus dan diragukan kemampuannya dalam mempertahankan kesatuan dan persatuan bangsa, sebenarnya telah memberikan kebebasan pers, pembebasan napol, dan kebebasan berpolitik. Orang kini bebas berbicara dan mengecamnya, secara terbuka di depan umum,  di media massa, cetak maupun elektronik, tanpa harus takut masuk bui, di breidel ataupun dicap tidak berbudaya timur dan tidak Pancasilais.
 
Di lain pihak, ada tokoh yang banyak disebut orang sebagai calon kuat Presiden RI keempat, di dukung oleh rakyat kecil dan mendapat simpati besar atas perlakuan rezim Orba atas dirinya, justru bersifat sebaliknya. Cenderung tertutup, sukar dan pelit memberikan keterangan kepada wartawan dan publik, sampai sempat mengundang boikot oleh Aliansi Jurnalis Indonesia - cabang Ujung Pandang. Gaya yang lebih banyak memberikan kesempatan pembantu-pembantunya memberikan keterangan pers, dianggap sama dengan tokoh masa lalu, yang walau sukses memerintah selama 32 tahun, memberikan kesan angker dan kultus pada jabatan Presiden. 
 
Syukur, kita mempunyai tokoh reformasi lain, yang terbuka kepada pers dan publik, tidak segan-segan melipat lengan baju dan berbicara dengan masyarakat, aktif menggalang kerjasama dan koalisi dengan berbagai pihak yang pro-reformasi dan anti status quo, bersih dan bebas dari lumpur KKN rezim lama, dan jelas serta transparan sikapnya dalam berbagai issue hangat di masyarakat. 
 
Sikap yang terlalu terbuka, memang mengundang kritik dan dianggap menyalahi pakem sebagai penguasa yang agung dan disegani.  Namun berbagai aksi mahasiswa di hari ulang reformasi, nampaknya meminta tokoh dan rezim yang bisa mengambil jarak dan berbeda dengan rezim sebelumnya. Kita butuh pemimpin baru, yang mempunyai visi jelas dalam perjalanan bangsa di milenium baru, mumpuni, bersih dan teruji, namun juga manusiawi dan tidak menciptakan jarak antara penguasa dan rakyat,
 
Pilihan ada pada kita semua, Rakyat Indonesia yang berdaulat. Gunakanlah hak pilih anda sesuai dengan nurani dan pandangan anda, tapi berikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Salam reformasi.
 
 
visit : www.suratkabar.com
 
 
 

Kirim email ke