Kekalahan bangsa Indonesia dengan bangsa Asia dan apalagi negara - negara
Barat dalam persaingan bebas di dunia adalah karena ada kebiasaan buruk yang
paling sulit dirubah. Kebiasaan saya itu adalah mendengar perkataan orang
lain atau membaca tulisan orang lain ( yang belum benar - benar saya
mengerti tulisan/perkataan orang lain itu) dan langsung melakukan kritikan
atau menilai orang itu dengan perasaan dibandingkan dengan daya pikir.
:-)))
KT
Pandir wrote:
He...he...he ane kira postingnya nggak nyambung, tapi kalopun nyambung,
tetep
aje ane bikin pernyataan nyang sama.
Kalo ane sih kagak ada pengotak-ngotakan, lha wong, dulu mahasiswa nyang
bikin
suharto terjungkel. Kalo kite bikin perbedaan dimana mahasiswa boleh preman
atau boleh bijak (bukan berarti ane anti Forkot atau pro nyang laen) bisa
diartikan juga mahasiswa cuman dagelan, yang berbeda ame kehidupan
non-mahasiswa seperti pejabat, pengacara, en laen-laennya.
Mahasiswa dimana-mana (tak hanya di Indonesia) jadi kekuatan besar nyang
emang
kadang enggak diliput dengan kadar nyang sesuai. Ane yakin walau Amin Rais
berkoar kalo mahasiswa enggak mau maju pasti Suharto masih bercokol di
Istana.
Pokoknya sih menurut ane kalo nyang namanya preman ya mesti dikikis abis,
mau
preman mahasiswa , preman pejabat, preman ABRI, preman artis, preman-preman
lainnya.
Ane men-generalisir berhubung ane baca posting Bang Sitorus, jadi apa nyang
ane posting ya ada kaitan dengan posting Abang, kalo enggak boleh
men-generalisir ya mohon di tulis dengan jelas biar saya tidak berpandir-ria
untuk men-generalisir.
Soal hidup cuman lelucon, la bagi saya yang bukan pelawak, tentu tidak
sesuai,
lha wong saya cuman seorang pandir.
Pandir
FRAREV SITORUS wrote:
hmm...
Posting saya sebelumnya untuk memberi komentar mengenai kubu mahasiswa
yang reformis dan kubu preman mahasiswa ( yang dikatakan golongan yang
tidak
tahu arti dan makna mahasiswa dan kurang reformis ). Kalau menurut saya,
esensi dari keduanya mempunyai idealisme yang baik sebagai arti dan peran
mahasiswa dengan pola yang berbeda. Yang membuat saya tersenyum
endiri( bukan bingung yang sebenarnya), karena ada posting yang menyebutkan
bahwa salah satu kubu tersebut tidak mengerti arti dan peran mahasiswa
sebenarnya. Sedangkan kubu yang satu lagi dikatakan sebagai kubu yang
benar - benar reformis dan mengerti arti dan peran mahasiswa sebenarnya.
Buat Bung Pandir, mohon dong ...dijelaskan analogi yang di-generalisir
tersebut yang dihubungkan dengan maksud saya di atas.
Jadi, bukan berarti analogi posting saya tersebut dapat di-generalisir
dengan analogi Bung Pandir tentang pak Harto, pak Habibie, pak Wiranto, dan
badut Golkar ditambah lagi dengan tragedi Trisakti . ( Yah mungkin bung
Pandir membuat asumsi bahwa bapak - bapak tersebut, Golkar dan tragedi
Trisakti merupakan kubu yang berbeda satu dengan yang lainnya dengan tujuan
yang berbeda terhadap Indonesia...ada yang reformis dan ada yang tidak
reformis)
(:-D
Melihat posting dari bung Pandir di bawah...saya semakin tersenyum lebar
karena merupakan lelucon lagi bagi Saya dan tragedi bagi Bung sendiri
mungkin... ( sorry yah). Bung Pandir setuju ngga bahwa hidup ini adalah
lelucon semata.
Koreksi lagi dong...jika ada kesalahan dalam posting ini.
:-)))
salam
KT
____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1