Dari Republika
Tanggal 1 Juni 1999

==============================================================

KEBOHONGAN
Oleh Syaefudin Simon

Seorang Badui datang kepada Rasulullah saw menanyakan cara masuk Islam termudah. ''Ya Muhammad, aku belum bisa shalat, belum bisa meninggalkan minum khamr, dan kebiasaan buruk lainnya. Maukah Anda memberi petunjuk yang mudah agar aku bisa mengikuti Islam?'' tanya sang Badui. Dengan bijak Rasulullah menjawab, ''Cukuplah kamu tidak berbohong.''

Tampaknya mudah sekali syarat ber-Islam yang dipaparkan Rasulullah. Namun, dalam kisah itu, orang Badui kembali datang kepada Rasul, menyatakan betapa syarat berkata jujur tersebut mengubah seluruh jalan hidupnya.

Secara pasti, kejujuran adalah hukum alam. Kejujuran bukan sekadar dua kali dua sama dengan empat. Tapi lebih jauh dari itu, kejujuran merupakan platform dari mekanisme kerja makro dan mikrokosmos. Cahaya matahari dalam bahasa sufistik adalah simbol kejujuran. Cahaya, suka atau tidak suka, akan menerangi segala sesuatu yang bisa ditembusnya. Terang cahaya adalah simbolisasi kejujuran.

Kejujuran adalah conditio sine quanon dari penegakan kebenaran. Sedangkan kebenaran adalah prasyarat menegakkan keadilan. Demikian tingginya nilai keadilan sehingga Sayyidina Ali menyatakan, jika keadilan dilanggar maka bumi dan langit akan runtuh.

Dalam Alquran, misalnya, Allah mengutuk orang-orang yang mengukur takaran secara tidak jujur. Kesalahan tersebut, meski terkesan sepele, sesungguhnya mempunyai dampak yang sangat prinsip. Takaran yang tidak benar tidak hanya menipu orang, tapi juga menyelewengkan akurasi perhitungan gaya gravitasi bumi yang secara integral menyatu dalam keseimbangan universal.

Alquran mengaitkan secara sistematik antara dosa mendurhakai anak yatim serta menegakkan keadilan dalam menimbang dan dalam berkata. ''Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat sampai ia dewasa. Dan sempurnakan takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, hendaklah kamu berlaku adil.'' (QS 6:152).

Dalam ayat ini, Allah menyuruh umat manusia untuk menegakkan keadilan dalam semua sendi kehidupan. Secara sosio-ekonomi, disimbolkan dalam menegakkan keadilan pada harta anak yatim, secara fisika-mekanika dalam menyempurnakan timbangan secara adil (yang benar sesuai perhitungan gravitasi), dan secara sosio-kultural berbuat adil dalam konteks kesatuan antara kata dan perbuatan.

Selain itu, kebohongan adalah dosa awal yang dilakukan setan dengan menipu Adam. Setan membujuk Adam agar memakan buah terlarang sehingga diberi hukuman oleh Allah. Mengingat intervensi setan yang terus menghantui manusia, Allah menciptakan hati nurani. Melalui hati nurani inilah Allah 'memancarkan kebenaran' pada kalbu manusia. ''Tanyakan kepada hati nurani jika menginginkan perilaku kita selalu terbimbing wahyu,'' kata Rasul.

Kirim email ke