>Irwan wrote:
>Lho, anda ini gimana toh bung Rosadi. Di posting terdahulu
>khan yg coba anda angkat adalah masalah komposisi
>yg dikaitkan dengan kuantiti. Makanya saya komentarinya
>dengan mengikuti jalan pikiran anda, yaitu dari segi kuantiti.
>Saya katakan di atas, toh dari permasalahan kuantiti yg
>anda angkat pada posting terdahulu ternyata sebenarnya
>tidak pernah ada masalah dalam hal kuantiti selama ini.
>Saya katakan tidak ada masalah dalam hal kuantiti, kemudian
>anda sangkal dengan mengatakan ada masalah dengan
>kualiti. Jadi ngga nyambung lah....:)
Santai saja lae..., ojo kesusu begitu. Saya tidak menyangkal kok, hanya
sekedar ingin memberi informasi tambahan mengenai kualitas caleg-caleg Islam
yang sekarang. Siapa tau loh ada yang hendak mengatakan caleg-caleg Islam
yang sekarang kualitasnya tidak akan jauh beda dengan mayoritas
anggota-anggota DPR muslim jaman orba dulu, sehingga 'kemayoritasannya' sama
sekali tidak bermanfaat dan perlu digantikan..:)
>Saya jadi mulai bingung nih diskusi dengan anda.
Yah sudah..., kalau bingung pegangan saja lae....atau baringan dulu gitu..:)
>Irwan wrote:
>Nah, bung Rosadi, anda khan sudah lihat kembali bahwa
>yg anda angkat itu masalah kuantiti dan bukan kualiti.
>Tapi kalau anda mau meluaskan permasalahannya ditambah
>dengan kualiti juga ngga apa2 sih. Cuma saja mbok ya
>satu2 dituntasin dulu. Gitu lho diskusi yg enak.
>Saya juga tidak melihat usaha anda untuk meralat
>pernyataan sebelumnya sebelum mengangkat
>masalah baru.
Tidak ada masalah baru lae. Masalah kualitas kan perlu ditekankan juga,
supaya orang yg berpikiran caleg-caleg Islam hanya mengandalkan islamnya
saja dan tidak berkualitas bisa mendapat pencerahan. gitu loh..., jadi nggak
perlu ada ralat ya lae..:)
>Irwan wrote:
>Komentar saya singkat saja, sayang sekali orang sekaliber
>Kwik Kian Gie harus tersisihkan hanya karena dia
>beragama bukan Islam. Ini kalau saya mengikuti jalan
>pikiran anda.
Duileee..si lae..segitu cepetnya mengambil kesimpulan. Siapa bilang non
muslim sekaliber pak Kwik Kian Gie harus tersingkirkan dari kursi anggota
legislatif atau menteri sekalipun..? Himbauan MUI itu kan dalam rangka
mempertahankan kemayoritasan komposisi anggota legislatif muslim di DPR
nanti, supaya aspirasi 90% rakyat Indonesia yang muslim dapat diperjuangkan
dengan sungguh-sungguh. Mayoritas kan tidak berarti seluruh anggota DPR
harus muslim, karena kalau ada mayoritas tentulah ada minoritas. Nah di
tempat 'minoritas' inilah orang-orang non muslim sekaliber pak Kwik Kian Gie
bisa berkarya untuk bangsa dan negara. Tapi kalau ternyata PDI-P menang
mutlak dalam pemilu nanti, pak Kwik Kian Gie berada di tempat "mayoritas"
ya..?
Sebenarnya bagi saya pribadi yang paling penting dari semua ini adalah
CARA/CARA yang dilakukan untuk mencapai komposisi mayoritas ini. Selama
cara-cara yang dipakai TIDAK MELANGGAR peraturan dan hukum yang berlaku
serta tidak merusak HAM, siapapun/kelompok manapun boleh menjadi mayoritas
di DPR. Makanya setuju saja dengan himbauan yang dikeluarkan oleh MUI tsb,
karena HANYA ditujukan untuk umat Islam saja dan tidak melanggar
aturan/hukum yang berlaku. Lagipula pernyataan MUI tersebut kan sifatnya
cuma himbauan, dan BUKAN PAKSAAN ! Kalau tidak salah kan menghimbau tidak
sama ya dengan memaksa..? betul apa betul..?
Jadi muslim yang tidak setuju semestinya tidak perlu merasa "kebakaran
jenggot" mendengar himbauan MUI ini. Kalau memang tidak suka, ya nggak usah
diikuti..., kan tidak ada yang memaksa. Masak cuma karena himbauan MUI ini
saja lantas jadi stress terus marah-marah. Gimana nanti kalau jatuh sakit..,
kan diri sendiri juga yang rugi, hayo..?
Kemudian untuk yang non-muslim rasanya juga kurang bijaksana jika menanggapi
himbauan MUI ini secara berlebihan. Himbauan ini hanya untuk kalangan intern
muslim saja, dan tidak melanggar/merusak hak-hak anda sebagai manusia atau
sebagai umat non-muslim. Kalau anda memang ingin non-muslim menjadi
mayoritas dalam DPR atau kabinet mendatang,ya berusahalah dengan baik-baik
dengan mengikuti aturan main/peraturan yang berlaku, karena hak-hak anda
telah dijamin untuk itu. Hanya saja kalau kemudian sebagian besar rakyat
Indonesia yg muslim ini ternyata lebih percaya dan memilih orang-orang Islam
untuk menjadi caleg atau anggota kabinet, tentunya yang non-muslim harus mau
berlapang dada menerimanya. Demikian juga sebaliknya. Setuju kan..?
Bisa mengikuti jalan pikiran saya kan lae.....?
Irwan wrote :
>Tapi saya yakin, masih banyak rekan2 saya sebangsa
>setanah air yg beragama Islam yg pemikirannya jauh
>lebih terbuka dalam melihat permasalahan dan lebih
>melihat kemuka, menuju Indonesia Baru yg kita inginkan
>bersama. Melangkah maju bersama dengan menganggap
>orang yg tidak seiman dengannya bukanlah musuh yg
>harus dihindari tapi adalah partner yg harus digandeng.
Nah kan...lae mulai salah lagi. Apa ada pernyataan saya sebelumnya yang
mengatakan non-muslim itu sebagai musuh yang harus dihindari..?
Jangan gitu dong lae, kesimpulan anda menyesatkan ni. Sebagai seorang yang
sedang mencoba menjadi muslim yang baik Insya Allah saya tidak akan berlaku
'senorak' dan sebiadab itu. Dalam ajaran Islam, kerjasama dengan non-muslim
dalam masalah duniawi tidak dilarang sama sekali, asalkan dalam hal
kebaikan. Dalam ajaran Islam menjaga hubungan baik dengan sesama manusia
(hablum minannas) sangat dianjurkan sekali, tidak peduli apapun agamanya.
Kalau kemudian saya menginginkan mayoritas anggota DPR adalah muslim, bukan
berarti saya menganggap non-muslim sebagai musuh dong. Keinginan seperti ini
kan wajar-wajar saja. Orang lain boleh-boleh saja tidak setuju,tapi ini kan
hak pribadi saya yang harus dihormati.
>Irwan wrote:
> > >Kritikan saya terhadap cara pandang anda yg mengatakan
> > >bahwa karena mayoritas penduduk Indonesia itu beragama
> > >Islam, maka anggota DPR yg anda katakan wakil rakyat
> > >tersebut harus pula mencerminkan kondisi (komposisi
> > >agama) dari rakyat.
Itu kan hanya pendapat dan keinginan saya lae. Anda harus hormati dong.
Kalau ternyata yang menjadi mayoritas di DPR nanti adalah dari kalangan
non-muslim (karena PDI-P menang mutlak misalnya), Insya Allah saya ndak
bakalan protes kok, asalkan dilakukan dengan mengikuti aturan main yang
berlaku. itu saja....
>Irwan wrote:
===============delete==============
>Kemudian anda mengangkat masalah itu dengan melihat
>kewajaran tersebut dari sudut pandang mayoritas.
>Penekanan anda pada hal mayoritas. Karena kondisi masyarakat
>Indonesia mayoritas adalah X maka komposisi wakil rakyat
>yg ada di DPR juga harus mayoritas X. Kira2 begitu khan
>dasar pemikirannya? Silahkan dikoreksi oleh siapa saja
>peserta milis yg kebetulan mengikuti diskusi ini kalau
>memang saya salah menangkap titik tolak pemikiran
>dari rekan kita, bung Rosadi.
>Nah, karena titil tolak pemikiran anda adalah perihal
>mayoritas, karenanya saya juga mencoba membukakan
>sudut pandang anda juga berdasarkan tolok ukur mayoritas
>dari komposisi yg ada dimasyarakat kita.
Busyet dah..., yang bener aja lae. Kita kan lagi diskusi tentang himbauan
MUI...., jadi saya pikir hanya sebatas isi himbauan itu saja. Saya sama
sekali tidak menyangka kalau tulisan saya yang kelewat sederhana itu
ditanggapi secara jenius seperti ini...:)
Irwan wrote:
>Kalau anda menutup mata dengan mayoritas2 lainnya
>yg sudah saya paparkan dan hanya memandang mayoritas
>agama saja dalam menentukan komposisi wakil rakyat di DPR,
>itu sama saja dengan anda sudah menerapkan standar ganda
>dalam hal ini. Anda menggunakan peranan kata "mayoritas"
>hanya yg sesuai dengan pemikiran anda saja atau yg hanya
>mendukung pernyataan anda saja dan menutup mata dengan
>kemungkinan lain. Atau mungkin anda malah tidak mengakui
>adanya mayoritas2 lain dalam komposisi rakyat Indonesia?
>Lihat kembali bentuk mayoritas2 dari kondisi masyarakat
>yg sudah saya sebutkan. Silahkan abaikan kalau anda merasa
>hal tersebut adalah tidak benar.
Menutup mata....? Gelapppp dong.....hehehhehehe.
Come on lae....you've gone too far. Masak saya harus menjelaskan secara
detail lagi bahwa yang dimaksud dengan mayoritas tsb adalah mayoritas
agama..? Kita kan sedang mendiskusikan himbauan MUI kepada umat islam untuk
memilih caleg-caleg yang muslim, jadi ya konteks masalahnya cuma sekitar
agama para caleg saja. tidak lebih dari itu.
Kemampuan menulis saya yg rendah ini pastinya tidak akan sanggup mengikuti
hal-hal lain yang lae sebutkan diatas tsb.
Irwan wrote:
>Saya koq tiba2 jadi terlintas ya, gimana nih kalau seandainya
>komposisi wakil rakyat di DPR itu dilihat dari komposisi
>penyumbang terbesar terhadap pendapatan negara?
>Wah, bisa2 rakyat Irian yg notabene mayoritas penduduknya
>adalah Kristen bisa nuntut komposisi yg lebih besar lagi
>untuk kursi DPR. Bukankah itu juga hak mereka yg merasa
>telah banyak menyumbang pada negara ini. Coba deh anda
>renungin, kalau2 sampai ada pemikiran dari mereka,
>ngapain juga gue yg Kristen ngidupin orang Islam yg
>membeda2kan antara Kristen dan Islam.
>Nah lho, jadi ramai khan?
Ya nggak papa kalau lae mau berpikiran seperti itu. Bahkan kalau lae mau
ikutan menghimbau rakyat irian agar memilih caleg yang orang Irian juga..,
ya monggo atuh. Cuma ya kalau bisa jangan sampai menuntut gitu..., menuntut
kan tidak sama dengan menghimbau... ya lae.....:-)
Irwan wrote:
>Makanya bung Rosadi, saya tuh kemarin mengkritik
>cara berpikir anda yg memang banyak lemah dan
>lubangnya itu.
Iya..., saya memang tidak sepandai anda lae....., masih banyak kelemahan dan
lubang (lubang apaan ya...?).
Irwan wrote:
>Kalau anda anggap hal tersebut adalah
>kebenaran yg harus anda perjuangkan, ya saya mah
>ngga bisa ngapa2in, wong setiap orang bebas koq
>untuk memperjuangkan sesuati yg dia yakini.
Beeee.........tullllllll......:-).
Eh..tapi "sesuatu" ya...bukan "sesuati"...hehehehhe.
Irwan wrote :
>Sayangnya, cara berpikir anda tersebut bisa2 menjadi
>bumerang setelah saya memperhatikan bahwa tampaknya
>rakyat Indonesia saat ini lebih banyak yg sudah berpikiran
>lebih maju dari anda dalam masalah seperti ini.
>Ini pendapat pribadi saya saja lho....:)
Yah namanya juga orang bodo lae, makanya sampai sekarang saya masih terus
sekolah. Kalau lae kan level pemikirannya sudah tinggi ya...?
Irwan wrote:
>Bung Rosadi, sebagai penutup posting saya kali ini,
>saya ajak anda untuk merenungi kembali ucapan dan
>ajakan KH. Syamsi Ali, wakil dari Partai Keadilan, partai
>dimana anda menjadi salah satu kader, dalam pertemuan
>di DC yg anda postingkan di milis ini.
>Sikap dan cara berpikir anda saya perhatikan bertentangan
>dengan semangat yg dilontarkan oleh beliau. Jangan
>jadikan ajakannya menjadi ajakan kosong atau pun semu
>dengan bertingkah laku atau berpola pikir yg bertentangan.
Terima kasih deh atas sarannya. Saya memang selama ini cukup banyak belajar
dari ustadz Syamsi Ali,MA yang hafal banyak ayat al-qur'an dan sangat baik
bahasa arab serta Inggrisnya itu. Bacaan Al-qurannya
pun..subhanallah...bagussss sekali.
Baiklah..,saya akan mencoba merenuyng (sambil nutup mata ni...:)
Irwan wrote:
>Saya kutipkan saja ucapan KH Syamsi Ali, wakil dari PK
>dalam pertemuan di DC yg dilaporkan oleh bung Rosadi
>dalam posting terpisah dibawah judul:
>"[PPLN DC] Berita Santiaji Pemilu dan dialog Parpol!"
======================================================================
>---------kutipan--------
>Sementara wakil dari Partai Keadilan (PK) yang mendapat giliran kedua
>menyampaikan salam persahabatan atas nama seluruh jajaran pengurus partai
>keadilan kepada masyarakat Indonesia di Washington DC. Selanjutnya wakil PK
>yang sengaja didatangkan dari New York ini,menyampaikan betapa Islam yang
>dipakai sebagai azas PK sangat menghargai perbedaan-perbedaan (agama,
>suku,dsb) yang ada di masyarakat. Sambil menyitir sebuah surat dalam
>Al-qur'an, pak Syamsi Ali mengatakan kita seharusnya bisa menerima
>perbedaan-perbedaan yang ada tersebut dengan lapang dada, karena hal itu
>merupakan suatu sunatullah (hukum alam). Hanya dengan sikap saling
>menghormati dan menghargai satu sama lain, kita dapat meredam timbulnya
>gejolak akibat dari perbedaan-perbedaan tsb.
>----------akhir kutipan------
======================================================================
Irwan :
>Hargailah perbedaan agama yg ada, terimalah dengan lapang
>dada perbedaan tersebut. Mari kita bangun kembali Indonesia
>yg porak poranda ini menuju Indonesia Baru dengan dasar yg
>benar. Jangan lagi kita pakai cara2 Golkar yg sering memperalat
>agama atau menggunakan isu2 agama untuk mencapai tujuan
>dan kepentingan sendiri serta kelompoknya.
>Menggunakan isu2 agama adalah cara2 Golkar. Kalau anda
>menggunakan cara2 seperti itu, tampaknya bridwan bisa
>mengkategorikan anda ke dalam kategori orang2 lama.....:)
Busyetttttttttt..dah....., apa lagi ni maksud si lae. Masak hanya menyatakan
setuju dengan himbauan MUI dan mengungkapkan argumen-argumen pendukungnya
dikatakan tidak menghargai perbedaan agama..? Apa karena saya menyatakan
dukungan dengan himbauan MUI lantas hak-hak anda sebagai non-muslim menjadi
rusak/hilang..?
Saya ini sedang mencoba menjadi muslim yang baik lae. Kalau tidak salah sih
syarat mutlak menjadi seorang muslim yang baik adalah mengikuti dengan
sungguh-sungguh apa-apa yang diperintahkan dan dilarang oleh Allah swt dan
rasulnya (yang terdapat dalam Al-qur'an dan hadits). Kalau kemudian apa yang
dihimbau MUI itu sesuai dengan perintah agama saya (Islam), apa saya lantas
harus menolaknya dan mengikuti jalan pikiran orang lain yang belum tentu mau
atau pernah mempelajari Islam..?
Kalau menurut saya sih, andalah yang seharusnya mulai belajar menghargai dan
menerima perbedaan agama ini dengan lapang dada. Tolonglah mengerti bahwa
sebagai muslim saya punya hak untuk mengikuti ajaran agama saya dengan
sebenar-benarnya. Kalau kemudian hal ini lae anggap sebagai kemunduran
berpikir dan memperalat agama untuk kepentingan sendiri/kelompok, tak
tahulah awak ini harus berkata apa lagi....:(
Untuk bung bridwan.., terserah ente dah kalau mau memasukkan saya sebagai
'orang lama' seperti kata lae Irwan. Biarin dah dibilang orang lama.., kan
ane lahirnya juga udah puluhan tahun yang lalu. Orang baru kan lahirnya pada
saat atau setelah reformasi 21 mei 1998 ya...:)
Irwan wrote:
>Yuk dah, saya ajak anda untuk mau berpikiran lebih maju lagi....:)
Awas...jangan terlalu maju lae..nanti kebablasan loh....:)
Salam,
Mohamad Rosadi
(orang bodo yang pikirannya belum maju...:)
>jabat erat,
>Irwan Ariston Napitupulu
______________________________________________________
Get Your Private, Free Email at http://www.hotmail.com