Kecurigaan gue ternyata cukup beralasan. Perhitungan
yg amat sangat lambat ini memang patut dicurigain.
Dan lagian, kemana tuh bantuan 2 juta dolar yg semula
diperuntukan untuk melengkapi peralatan perhitungan
suara agar bisa cepat dan dilakukan secara online dari
daerah2. Gile bener aja dah kalau sampai disalahgunain lagi.
Dana JPS dan KUT udah disalahgunain, eh yg ini naga2nya
juga disalahgunain. Gue dukung penuh tindakan Gus Dur
yg akan mengambil alih tindakan darurat bila ternyata
terlihat gejala2 tidak benar dalam perhitungan suara
di pusat.

Dari pemilu yg udah2 dulu, dalam 1-2 hari biasanya udah
bisa ketahuan diatas 40 juta suara. Eh ini koq paling banter
juga baru 1.5 juta padahal total pemilih ada 112 juta.
Mau kelar kapan kalau gini caranya? Mau tunggu kerajinan
tangan agar dapat memenangkan golkar? Gile bener,
udah banyak salah dan bikin rakyat menderita, koq ya
ngga tobat2 sih dan ngga kapok2?
Apa memang udah addicted untuk nyiksa rakyat terus?
Atau mungkin lagi pada sibuk nyelamatin kekayaan2
hasil KKN selama ini karena tahu bakalan kalah?

Gue yg makin bingung aja nih melihat situasi yg berkembang.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Indonesia's Wahid says could set up emergency govt


JAKARTA, June 8 (Reuters) - Opposition leader Abdurrahman Wahid said on
Tuesday he would consider setting up an alternative emergency government if
he found counting of votes in Indonesia's historic election had been tampered
with.

Wahid said he had conveyed this to armed forces commander General Wiranto and
another leading opposition figure, Megawati Sukarnoputri.


Wahid gave few details about under what circumstances he would take such
action or who any emergency government would comprise. It would only be taken
if he found the operations of the General Election Commission (KPU),
overseeing the vote, were being tampered with by outside forces.

"I will take action to set up an emergency government if the KPU is being
intervened by outside forces," Wahid told a news conference. "I have reported
this to armed forces commander Wiranto and Megawati."

Wahid, the figurehead of the opposition Nation Awakening Party (PKB), said he
had yet had no reaction from either Wiranto or Megawati. Early results from
Monday's poll put the PKB in second place to Megawati's party. But counting
has been painfully slow. Wahid said he had heard reports that voting boxes in
some areas were being guarded by elite Kopassus troops.

"How could that be? Kopassus is untrustworthy," Wahid said.

11:50 06-08-99

Kirim email ke