Soal Suap, Ghalib Kejar Teten Sampai Liang Kubur
Habibie: Tuntut Segera Teten cs
Reporter Nurul Hidayati
Mardhika Wisesa Menjawab
detikcom, Jakarta-Presiden BJ Habibie memerintahkan Jaksa Agung Andi M Ghalib
untuk menuntaskan masalah dugaan suap yang menimpanya lewat jalur hukum.
Ghalib sendiri menolak untuk mundur dari jabatannya dan akan mengejar Teten
Masduki hingga ke liang kubur.
Pernyataan Ghalib disampaikan pada wartawan sebelum Sidang Kabinet Terbatas
Bidang Ekuin di Bina Graha, Rabu (09/06/1999). "Presiden memerintahkan saya
untuk menyelesaikan masalah ini dengan hukum. Tuntut mereka itu (Teten
cs-Red). Tuntut!" tegas Ghalib.
Mardhika: Presiden yang memerintahkan? Ah yang bener pak, mungkin Presiden
memerintahkan anda untuk mundur dan menyelesaikan kasus korupsi anda di
pengadilan.
Selain itu, Ghalib juga mengaku tidak mau mundur meski beberapa pihak
mendesaknya untuk mundur. "Biarpun saya dihujat, dicaci maki, saya tidak akan
mundur. Kecuali dimundurkan," tegas Ghalib.
Mardhika: Bapak Ghalib yang terhormat, Saya mengharap agar bapak bisa
menyadarkan diri bapak kalau rakyat sudah bosan dengan segala jurus-jurus
silat bapak untuk menyelamatkan muka bapak Soeharto. Kami bukan orang yang
bodoh, dari tingkah laku anda dan segala perbuatan yang selama ini anda
lakukan sudah terlihat bahwa anda tidak mempunyai niatan untuk menyelesaikan
kasus Soeharto sampai selesai
Seperti diketahui, desakan agar Ghalib mundur disuarakan oleh PBHI
(Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia) dan ICW (Indonesian Corruption
Watch) akibat adanya dugaan Ghalib menerima suap miliaran rupiah dari 2
konglomerat, The Nin King dan Prajogo Pangestu.
Mardhika: Ghalib sudah seharusnya mundur dari dulu-dulu, ngga jelas kerjaannya
di Kejaksaan Agung, kasus Soeharto saja tidak jelas kok.
Sedangkan dugaan suap itu ditemukan oleh ICW dan Koordinator Pekerja ICW,
Teten Masduki, sudah melaporkan Ghalib ke Puspom ABRI, minggu lalu.
Mardhika: Langkah yang tepat saudara Teten Masduki, tegakkan hukum dan tuntut
yang bersalah. Tinggal tunggu saja penyelesaian dari Puspom ABRI (Diragukan
juga )
Lebih lanjut Ghalib menyatakan, "Saya sudah lapor pada beliau (Habibie), Pak
saya diperlakukan begini. Sebagai manusia biasa, berhenti dari jaksa agung pun
akan saya kejar orang-orang itu (Teten cs-Red) sampai ke liang kubur. Ini
sudah masalah siri (harga diri-Red). Kebenaran harus ditegakkan," kata Ghalib
masih dengan nada tegas.
Mardhika: �Saya diperlakukan begini?�, anda sendiri memperlakukan rakyat yang
sudah selama setahun ini menunggu proses keterbukaan terhadap Soeharto apa itu
disebut manusiawi? Anda dibayar oleh Rakyat, anda bertugas dan bertanggung
jawab kepada Rakyat (Bukan Soeharto dan Habibie), Tapi apa hasil yang anda
bisa berikan? Kolusi di telepon dengan Calon Bukan President Lagi Habibie,
Soeharto masih bebas melenggang di Jakarta, masih sempat lagi untuk transfer 9
Milyar dollar dia ke tempat lain. Eh anda sekarang juga ikut menikmati uang
suapan dari para Konglomerat. Rakyat jadi ragu akan kasus2 yang anda tangani
selama ini, jangan-jangan hanya Adegan Pentas Seni Kejaksaan Agung lagi,
Adegan Pura-Puranya Ghalib.
Ghalib sendiri menilai bahwa kasus yang menimpanya itu punya motif tertentu.
"Motif-motif itulah yang sekarang saya lihat, dan ternyata benar. Di
belakangnya (Teten) ada oknum-oknum, dia ada sponsornya untuk menjatuhkan
saya," kata Ghalib lagi.
Ghalib mengaku tahu orang-orang yang ada di belakang Teten. "Teten kan hanya
sebagai alat. Orang-orang di belakang dia akan dipanggil juga," kata Ghalib.
Ketika ditanya wartawan apakah orang di balik Ghalib itu Arifin Panigoro atau
jaksa yang dipecat Ghalib, Ghalib menolak menjawab. "Tidak etis," elak dia.
Ghalib hanya menyebut,"Golongan orang-orang yang sakit hati kepada saya karena
saya bertindak. Mungkin mereka tidak terima."
Mardhika: Sedangkan tindakan anda selama ini bukan ada motifnya juga? Motif
untuk melindungi Soeharto dan melindungi muka sang muridnya yang sekarang
adalah bos anda itu. Ada juga ngga orang dibelakang anda pak Ghalib? Seperti
orang-orang suruhan Cendana?
Jaksa Agung yang baru menjabat beberapa bulan itu menganggap tuduhan Teten
sebagai fitnah. "Dia fitnah saya dengan menganggap saya menerima suap dari
Saudara The Nin King dan Saudara Prajogo. Lagi pula kalau seseorang punya
tabungan mengapa dipersoalkan selama dia tidak korupsi ?" komentar Ghalib.
Ghalib sendiri sempat mengeluarkan kata-kata kotor pada Teten.
Mardhika: Selama dia tidak korupsi, wah rasanya tidak masuk akal saja seorang
pegawai pemerintah seperti anda itu sampai mempunyai uang sekitar 9 milyar
rupiah gitu, kalau anda mempunyai seratus juta rupiah, saya bisa percaya,
namun kalau sampai milyaran rupiah, patut dipertanyakan. Pertama anda kan
berdalih kalau uang itu bisa saja uang dari Persatuan Gulat, sekarang anda
bilang uang pribadi? Mana yang bener pak Ghalieb??
Ghalib juga menuduh Teten melanggar azas praduga tak bersalah. "Masak dia
nuduh saya korupsi, nuduh saya terima suap. Pdahal dia belum tanya pada saya.
Saya belum diperiksa. Ini namanya melanggar azas praduga tak bersalah. Sudah
melanggar, dia main fitnah, dan membocorkan rahsia macam-macam. Jaksa agung
saja dikasih begini, apalagi kalian-kalian (wartawan-Red)," cetus putra
Sulawesi Selatan yang terlihat emosional ini.
Mardhika: Masa dia mau tanya anda, jelas anda akan langsung mencoba untuk
menhabisi dia kan�.Tanya sama anda berarti sama saja dengan melanggar �Azas
Menduga Andi Ghalib Korupsi�, buktinya Saudara Teten sudah melaporkan kasus
ini ke pihak yang benar, contohnya Polisi dan Puspom ABRI. Ini sudah sesuai
dengan standar-standar hukum yang sebenarnya. Anda saja mungkin yang tidak
lulus ujian hukum sehingga tidak tahu prosedur itu. Membocorkan rahasia
macam-macam? Membocorkan rahasia bahwa Andi Ghalib mempunyai uang yang tidak
jelas itu? Wah jelas para wartawan akan berkata dalam hati, bahwa bapak memang
tidak seharusnya didudukan jadi Jaksa Agung.
Untuk mengusut kasus itu sendiri, Ghalib menilai tidak perlu dibentuk tim
khusus. "Saya kira polisi dan jaksa sudah cukup. Kalau Teten dipanggil
kepolisian dan ternyata tidak datang, berarti dia memang manusia yang tidak
tahu hukum," tegas Ghalib.
Mardhika: Memang tidak diperlukan tim khusus, yang diperlukan adalah surat
pengunduran diri anda yang harus sudah diserahkan diatas meja kepresidenan.
Teten akan datang pak Ghalib, yang sekarang diragukan apakah anda akan
mengatakan yang sejujurnya, dan jikalau memang anda, sebagai Jaksa Agung bisa
mengerti dengan jelas kaidah hukum yang sesungguhnya.
Mardhika Wisesa
____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1