Ikutan ahhhhhh...... Rasanya saya udah pernah mem"posting" soal Ibu Mega nyang rada-rada memanfaatkan nama (baca: kolusi). Saya tau soalnye istri aye pernah kerja di perusahaan patungan Ibu Mega dan rekan sohibnya. Rekan beliau bercerita panjang lebar. Juga babeh aye nyang tau sepak terjang ibu Mega untuk mendapatkan proyek. Soal politik pun agak-agak menjurus ke klenik. Soalnye begini: Ibu Mega terkenal tak bisa bicara, ketika pertama kali die mesti pidato buat PDI, beliau berkata pada rekan sohib beliau(dan diteruskan ke ane) bahwa beliau melihat sosok babehnye di belakang massa dan seperti memberikan bimbingan. Tambahan: suami rekan sohib beliau(mantan boss istri ane) bekerja untuk Sigit, dan menurut mantan boss istri ane, ini direstui ibu Mega, walaupun rekan sohib beliau dan suaminya masih berjuang dalam visi politik yang sama..... Catatan: ane nggak alergi ame Mega, cuman kadang jadi bingung aje.....Mau Mega kek mau Habibie kek, mau Amin Rais, asal manfaat aje deh buat rakyat kecil.....dan ane cuman kenal ame Mega, mau komentarin nyang laennya, pada nggak tau.... Emang politik bikin pusing, mendingan mikirin orang miskin aje deh, gimana cara ngebantu mereka, politik sih biar orang pinter aje, orang pandir nggak usah pusing ikutan. Pandir semakin pandir kalo baca berita politik indonesia yuni windarti <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Saya tidak bermaksud melecehkan anda bung, tentu saja aya akui anda pintar apalagi bisa beraksi didepan komputer. Katanya belajar demokrai, selama saya hanya menulis apa yang ada dalam benak saya, emosi atau tidak seharusnya anda menerima. Apalagi sudah banyak fakta tentang Mega, apa yang saya tulis bukannya sekedar emosi. Saya punya pengalaman ketika masih di Surabaya, saya menjadi saksi orang suruhan Mega membawa surat Mega kepada Gubernur Jawa Timur untuk meminta proyek. Begitu pula di PLN, ada orang orang Mega yang meminta proyek dengan alasan untuk kelangsungan partai........ yuni bRidWaN <[EMAIL PROTECTED]> wrote: hehehehe....saya tadinya saya masuk golongan orang bodoh sendirian, ternyata berdua dengan Mas Efron ya....:) Well...well.......bagi saya yang lebih penting adalah agar Koalisi 3 Partai yang menang mayoritas, dan anggota KPU mau menandatangani berita acaranya ! Ingat, bahwa Golkar (beserta Partai besar/kecil lainnya) masih berpotensi meraih suara mayoritas. Salam, bRidWaN At 08:40 AM 6/9/99 +0700, Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote: >Iyaaapp...emang begitu. Mestinya orang-orang yang ngaku pinter itu berkaca >pada para pendukung PDIP. Mereka (pendukung PDIP) satu langkah lebih dewasa >ketimbang orang yang ngaku pintar. Buktinya mereka nggak terpengaruh dengan >isu agama pada PDIP. Kalo dibilang pendukung PDIP itu bodoh.....sangatlah >keliru. Contoh nyata adalah saya. Kalo saya bodoh...apa iya bisa saya duduk >di depan komputer sambil menulis ini? > >Efron > >-----Original Message----- >From: Mirza Raditya [SMTP:[EMAIL PROTECTED]] >Sent: Wednesday, 09 June, 1999 8:33 AM >To: [EMAIL PROTECTED] >Subject: Re: [Re: Melihat Indonesia di Tangan Mega] > >wuah sptnya saya juga setuju dgn pendpt bung blucer... >yg saya tdk setuju.... emangnya kalo yg memilih >menjadi pendukung PDI-P itu buta politik?!... >setau saya didlm PDI-P banyak org2 pintar dlm kancah >politik....kenapa jadi bil rakyat indonesia masih buta >akan politik.... ngga relevant skali. >saya liat ... dr pertama saya liat, tulisan mbak yuni >ttg mega ini hanya mengutamakan perasaan emosi... >omongan anda tdk ditunjang dgn bukti2 kuat yg bisa men >support omongan2 tsb. dimana-mana..kalo menilai >sesuatu itu hrs dgn rasio donk...jgn emosi aja... >heran jaman reformasi begini masih ada org yg >berpikiran spt anda.... >sdh begitu ngaku pendukung golput lagi... setau saya >golput itu kan ngga memihak kemana pun... dan dgn >begitu..hrsnya...tdk mengatai pilihan org lain...dgn >sikap anda yg slalu mengatai dan menhujat mega dan bil >pendukung mega itu di jalan yg salah (secara tdk >langsung)...wuah..anda lbh baik jgn mengaku golput... > > >--- Blucer Rajagukguk <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >> Mbak Yuni yang sok tahu.... >> Ucapan anda yang menuduh bahwa Mega hanya dendam >> kepada Pak Harto menambah >> kesok-tahuan anda. Kritik anda bukan saja >> keterlaluan tetapi sangat subyektif, >> sehingga dengan dasar yang sama, saya sebutkan >> sekali lagi bahwa anda sangat sok >> tahu dengan menyatakan bahwa banyak rakyat yang >> masih buta politik. >> >> Budi Haryanto wrote: >> >> > Dear Yuni, >> > >> > Kalaupun memang benar nanti PDI-P yang memenangkan >> suara di Pemilu ini, >> > selayaknyalah kita bersyukur dan dapat menerimanya >> dengan lapang dada. >> > Betapapun, ini adalah gambaran dan pilihan bangsa >> kita secara keseluruhan. >> > Suka atau tidak suka, barangkali lebih baik kita >> ambil sikap positif. >> > >> > Kalaupun nanti Mega jadi presiden dan banyak >> pengikutnya menduduki kabinet >> > mendatang kita toh masih bisa melakukan kontrol >> terhadap hal-hal 'negatif' >> > seperti yang anda perkirakan. Beberapa partai >> besar akan menempatkan posisi >> > sebagai 'oposan' dan kita-kita serta masyarakat >> banyak sudah cukup >> > berpengalaman dalam berpolitik terutama dalam dua >> tahun terakhir ini, >> > sehingga penyimpangan-penyimpangan yang mungkin >> dilakukan pemerintah baru >> > tsb nantinya bisa dikontrol dan diingatkan. >> > >> > Bukankan ini justru menjadikan suasana yang >> demokratis dan konstruktif di >> > negara kita? Apapun partai yang menang dalam >> pemilu ini, akan memperbaiki >> > tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita, >> termasuk bidang ekonomi dan >> > sosial kemasyarakatan. >> > >> > Yakinlah bahwa kita telah melangkah maju, seperti >> juga saya meyakininya. >> > >> > Salam, >> > Budi >> > >> > At 10:52 PM 6/7/99 -0700, you wrote: >> > >Saya turut berduka dengan kondisi Indonesia, >> setelah membaca berita di bawah >> > >ini. Ini jelas-jelas bukti yang menunjukkan bahwa >> sebagian besar rakyat >> > >Indonesia masih buta akan politik, mereka belum >> bisa membaca apa yang terjadi >> > >sebenarnya. Saa menyadari rakyat kita masih >> banyak yang berpendidikan rendah >> > >sehingga belum mampu berpikir panjang kecuali >> lebih banyak terpengaruh oleh >> > >nama besar seseorang. >> > > >> > >Saya tidak berani menyalahkan rakyat kalau sampai >> kondisi tidak berubah atatu >> > >memburuk dalam 5 tahun ini, tetapi Mega dan >> pengikutnya lah yang patut >> > diseret >> > >kepengadilan (kalau ada pengadilan politik >> he..he..) karena mereka memberikan >> > >harapan yang palsu. >> > > >> > >Saya kira kegigihan Mega untuk menjadi Presiden >> tidak berlandaskan >> > >keinginginannya untuk kemakmuran banga atau untuk >> demokrasi, akan tetapi >> > untuk >> > >membalas dendam suharto atas perlakuan yang >> diterima oleh bapaknya Sukarno. >> > >Kebetulan Suharto bertindak negatif terhadap >> bangsa Indonesia maka Mega >> > >mendapat angin. >> > > >> > >Semoga rakyat segera terbuka matanya dan dapat >> melihat sosok apa yang >> > >sebenarnya bersembunyi dibalik kesahajaan >> (menurut orang PDIP) saha maha >> > besar >> > >Mega. Saya tidak pernah bisa membayangkan apa >> jadinya Mega jika Mega bukan >> > >anak Sukarno, mungkinkah dia dengan kemampuannya >> sekarang ini menjadi >> > >pemimpin bangsa??? Mungkin saja bagi negara yang >> semua rakyatnya buta dan dia >> > >sendiri yang melek..........hm........itu bisa >> jadi >> > > >> > >oppppppssssss sorry mbak Mega, kritikku >> keterlaluan, habis anda juga >> > >keterlaluan sih. >> > > >> > >Kalau Mega jadi presiden gue kena cekal nggak >> ya???????? >> > > >> > > >> > >Salam hangat Yuni >> > > >> > >_________________________________________________________ >Do You Yahoo!? >Get your free @yahoo.com address at http://mail.yahoo.com > > ____________________________________________________________________ Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at http://webmail.netscape.com. ____________________________________________________________________ Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1
