From: zUlFaN K <[EMAIL PROTECTED]> To: _ACI/SCI <[EMAIL PROTECTED] .edu> Date: Monday, June 14, 1999 3:39 AM Subject: [Sabil] ISSUE BERKOALISI DENGAN PDI-P, BOM WAKTU BAGI PKB Republika Online edisi: 14 Jun 1999 Berkoalisi dengan PDI-P, ''Bom Waktu'' bagi PKB JAKARTA -- Isu koalisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dengan PDI Perjuangan (PDI-P) menimbulkan reaksi kiai dan pengamat politik. Mereka menilai selain tidak menguntungkan bagi Nahdlatul Ulama, koalisi kedua partai tersebut akan menjadi ''bom waktu''. Pengamat politik Prof Dr H Imam Suprayogo menyebutkan koalisi PKB dengan PDI-P lebih merupakan kemauan jajaran elite saja. Sedangkan di tingkat akar rumput, hubungan warga Nahdliyin dan kalangan kiai di pedesaan, kurang harmonis dengan PDI-P. Kalaupun selama ini ada semacam kerja sama, sifatnya administratif dan tidak betul-betul mengakar ke masyarakat. ''Kalau jajaran pengurus PKB tidak melihat ada masalah antara kader PKB dengan PDI-P, itu akan menjadi bom waktu, karena kiai-kiai di bawah mesti akan berontak,'' kata Imam, yang juga ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malang, kemarin. Peneliti perilaku politik kiai pedesaan itu melihat, kendati PKB menyatakan sebagai partai terbuka dan nasionalis, tetapi tak bisa dipungkiri bahwa konstituen PKB adalah masyarakat agamis yang tentu resonansi dan agregasi politiknya berdasarkan referensi agama. ''Karena itu, jangan sampai ada pemaksaan kehendak dari elite. Hal itu justru akan berbenturan dengan aspirasi konstituennya sendiri, dengan umat kiai di pedesaan,'' papar Imam. Analisis Imam itu dibenarkan pengasuh Pesantren An-Nur III Murah Banyu Malang, KH A Qusyairi Anwar Nur. Menurutnya, jika jajaran pimpinan PKB berkoalisi dengan PDI-P itu, berarti jajaran pengurus PKB mengingkari dan bahkan mengkhianati hati nurani kiai-kiai di daerah. ''Nanti yang mendapat keluhan dari masyarakat bawah langsung adalah kalangan kiai yang rata-rata tidak aktif di politik, kiai-kiai yang hanya mengabdikan dirinya untuk mengajarkan agama kepada santri dan masyarakat sekitarnya,'' ujarnya kemarin. Qusyairi mendesak PKB tidak berkolisi dengan PDI-P. Menurutnya, kalangan kiai merasa tidak sesuai bergandengan dengan PDI-P. Itu karena sikap dan perilaku kader-kader PDIP banyak yang bertentangan dengan paham yang dianjurkan kalangan kiai. ''Tak bisa diabaikan begitu saja, kalangan kiai banyak yang tersinggung dan sangat masygul ketika mengetahui kader-kader PDI-P merayakan kemenangan dengan minuman keras dan berbagai perilaku yang bertentangan dengan agama,'' paparnya. Selain itu, menurut Qusyairi, kekalahan PKB atas PDI-P di beberapa basis NU merupakan tamparan memalukan bagi kalangan kiai di Jawa Timur. Kekalahan itu disebabkan tokoh-tokoh PDI-P menghembuskan isu bahwa mendukung PDI-P sama saja dengan mendukung PKB, yang sama-sama direstui Ketua PBNU Abdurrahman Wahid (Gus Dur). ''Kini justru menguatnya perolehan PDI-P di legislatif sangat menggelisahkan kalangan kiai di Jawa Timur. Dominannya caleg non-Muslim akan mempersulit perjuangan umat di masa depan,'' ujarnya. Soal caleg non-Muslim itu, lanjutnya, sudah didengar kalangan kiai dan Nahdliyin. Bahkan kalangan kiai juga mendengar, Gus Dur tidak lagi digubris Ketua Umum PDI-P Megawati. ''Saya mendengar, pengaruh Gus Dur ke Ibu Mega sudah kalah dengan Theo Syafe'i yang pernah menyakiti perasaan umat Islam karena kasetnya yang menghebohkan itu,'' ujar Qusyairi. Ihwal koalisi, Ketua PDI-P Soetardjo Soerjogoeritno menyatakan partainya bersedia berkoalisi dengan partai manapun asal syaratnya mendukung Megawati menjadi presiden. ''Yang akan kami ajak koalisi adalah yang mendukung Ibu Megawati menjadi Presiden RI,'' katanya kemarin. Sejauh ini, menurutnya, garis politik resmi partai adalah melapangkan jalan Megawati menjadi presiden. Ini karena amanat kongres nasional PDI-P menjelang akhir tahun lalu di Bali. Meski demikian pihaknya baru akan serius membahas koalisi jika seluruh hasil akhir pengumpulan suara sudah diketahui. Kalau soal koalisi dibicarakan sekarang, menurutnya, hanya akan menyentuh bagian-bagian tepi saja dari koalisi. 'Jika semua sudah lebih jelas, baru kita bisa berbicara tentang koalisi, problem-problem yang dihadapi sekaligus cara-cara pemecahannya,'' ujarnya. Soetardjo tidak menampik asumsi bahwa koalisi paling mungkin bagi pembentukan suatu pemerintahan baru adalah dengan PKB dan PAN. ''Bagaimanapun koalisi harus berfungsi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mempertahankan stabilitas politik, serta meratakan jalan bagi Ibu Megawati menjadi Presiden Indonesia berikutnya,'' tegasnya. Pengamat politik AS Hikam berpendapat PDI-P lebih mudah berkoalisi dengan PKB dibandingkan dengan PAN. Alasannya, PDI-P dan PKB mempunyai visi yang sama soal reformasi. Ia juga berpendapat dalam berkoalisi partai yang mendapat banyak suaralah yang berhak menentukan syarat. ''Mau tidak mau itulah harga yang harus disepakati. Biar bagaimanapun Amien Rais jika memang ingin berkoalisi dengan PDI-P, ia harus kompromi,'' katanya. Ini, menurutnya, karena posisi PAN sangat kecil dibandingkan dengan PDI-P. ------------------------------------------------------------------------ BrainPlay.com has your favorite interactive friend. Each Furby has its own unique personality. Train them to sing, dance and perform their own tricks. Visit BrainPlay.com to order your friend today! http://clickhere.egroups.com/click/344 eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/sabili http://www.egroups.com - Simplifying group communications
