Inilah yang kita perdebatkan selama ini, yang selalu
saya tuliskan dimailing list (termasuk Permias@).
Mengapa orang asyik meributkan masalah Pemimpin dan
Wanita, setelah PDI-P meraih suara terbanyak ?
Mengapa banyak orang asyik meributkan hal ini, sehingga
kita lupa kepada arah perjuangan yang telah dimulai
oleh adik-adik Mahasiswa di-Jakarta ?
Mengapa Deklarasi Ciganjur dan Komunike Paso hanya
merupakan simbol dan strategi dari seorang pemimpin
Partai untuk meraih suara (meskipun akhirnya suara
yang diraih tidaklah sebanyak PDI-P) ?
Mengapa (terlihat oleh saya), ternyata orang lebih
menyukai status-quo daripada reformasi ??
Mudah-mudahan saya salah (doakan ya!), bahwa pada
akhirnya yang menjadi Presiden kita adalah orang
yang itu-itu juga.
Salam,
bRidWaN
At 10:31 AM 6/21/99 +0700, Frarev Sitorus wrote:
> Bung bRidWaN,
> Saya kepingin juga dengan pemerintahan baru nanti yang legitimate,
> bukan alternatif, yang bebas KKN dan bukan orang lama.
> Kenyataannya, mengapa mereka2 ( eksekutif bangsa ini) sekarang
> tampak egois ? Egoisme kekuasaan. Bukankah komunike Paso yang mereka
> jadikan untuk menghadang kekuatan status quo sangat strategis ?
> Mengapa komunike itu sekarang mengalami keretakan?
>
> jabat erat
>On Sun, 20 Jun 1999, bRidWaN wrote:
>
>> Rekan Yth.,
>>
>> Setelah kita melewati masa Reformasi selama 1 tahun,
>> akhirnya kita sampai juga pada periode pasca Pemilu,
>> dimana kita akan segera mendapatkan Pemerintahan
>> yang baru, yang bersih dan yang mendapat dukungan
>> serta kepercayaan dari masyarakat, baik dalam
>> maupun luar negeri.
>>
>> Yang dikhawatirkan pada akhirnya, apakah Presiden
>> kita yang baru nanti akan betul-betul merupakan
>> wujud serta impian yang kita harapkan selama kurun
>> waktu 1 tahun ini, ataukah akan tetap terus dipegang
>> oleh Orang-Orang Lama yang mengaku 'Baru'.
>>
>>
>> Kalau itu yang terjadi, maka layaklah kita
>> ucapkan : WELCOME TO INDONESIA !
>>
>>
>> Salam,
>> bRidWaN
>>
>
>