-----Original Message-----
From: zUlFaN K <[EMAIL PROTECTED]>
To: _ ACI/SCI
<[EMAIL PROTECTED]
.edu>
Date: Thursday, June 24, 1999 1:26 AM
Subject: [Sabil] SEJUMLAH USTADZ MENGAKU DIANIAYA SATGAS PDI-P


24 Jun 1999

Sejumlah Ustadz Mengaku Dianiaya Satgas PDI-P


JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemarin meminta kepada umat
Islam agar mampu mengendalikan diri. Permintaan itu berkaitan dengan
pengaduan sejumlah ustadz (guru agama) ke MUI sehari sebelumnya. Mereka
mengaku telah diculik dan dianiaya oleh sejumlah orang yang
mengatasnamakan satgas PDI-P menjelang pemungutan suara lalu.

''Kita meminta agar mereka (yang datang ke MUI) bisa menahan diri dan
menyerahkan masalah itu ke pihak kepolisian dan jalur hukum. Jika ada
unsur pemilunya, kita laporkan ke Panwaslu,'' jelas Sekretaris Umum MUI
Pusat Nazri Adlani kepada wartawan di Jakarta kemarin.

Pada hari yang sama, MUI juga dikunjungi sekitar 30 orang dari kelompok
Front Pembela Islam (FPI). Mereka menyatakan siap melakukan pembelaan
terhadap tindakan yang dinilai menghina umat Islam.

Selasa (22/6) lalu sejumlah ustadz dan pemuda dari Jakarta Utara
mendatangi kantor MUI. Mereka mengaku menjadi korban penganiayaan
sejumlah orang yang mengaku satgas PDI-P, karena telah membagikan seruan
resmi MUI yang melarang memilih partai yang calegnya banyak non-Muslim.
Atas pengaduan itu, MUI Pusat melalui Sekum Nazri Adlani meminta semua
pihak tidak melakukan hakim sendiri.

Menurut Muhtar Beni Biki, wakil dari pemuda yang melapor itu,
penganiayaan terhadap 16 ustadz dan pemuda itu terjadi setelah shalat
Jumat tanggal 4 Juni, tiga hari sebelum pemungutan suara. Satgas PDI-P
mengangkut lalu menganiaya ustadz dan pemuda yang telah menyebarkan
seruan ulama yang berisi imbauan kepada umat Islam agar tidak memilih
partai yang calegnya banyak non-Muslim. Ke-16 korban penganiayaan satgas
PDI-P ini, menurut Muhtar, diculik dari tempat yang berbeda-beda. Ada
yang diculik di rumahnya dan ada yang dicegat di jalanan.

Muhtar mengatakan setelah dianiaya, para ustadz dan pemuda itu lalu
diserahkan ke Polres Metro Jakut yang tak bisa berbuat apa-apa. ''Mereka
ada yang disundut rokok, dipukuli, diintimidasi, dan dianiaya. Bahkan,
sampai sekarang para korban dan keluarganya masih trauma akibat sering
menerima teror,'' katanya.

Menurut dia, tindakan satgas PDI-P sudah keterlaluan. ''Mereka mengaku
sebagai partai yang demokratis, tapi mengapa main hakim sendiri.
Padahal, itu bukan selebaran gelap, tapi sikap umat Islam yang ingin
menindaklanjuti seruan dari MUI. Seruan tersebut juga tidak dibagikan di
sembarang tempat, tapi di masjid-masjid, mushala, dan rumah warga.''

Salah seorang korban, Muh Nurjaya (28), mengatakan bahwa seruan itu
dibawanya dari Masjid Al-Husna Tanjung Priok, dan akan dibagikan di
Masjid Nurul Iman, Rorotan, Jakut. Seusai shalat Jumat, seruan itu
sempat dibacakan di Masjid Nurul Iman oleh Suparno (salah seorang
ustadz). Tapi, setelah membacakan seruan itu Suparno 'ditangkap' dan
diinterogasi soal selebaran tersebut.

Karena selebaran itu diperoleh dari Nurjaya, selanjutnya warga Semper
Timur ini pun menjadi incaran satgas PDI-P. Nurjaya 'diciduk' satgas
PDI-P Sabtu (5/6). ''Saya sempat diintimidasi dan dituduh sebagai
provokator. Selanjutnya saya digiring ke Polres Jakut,'' tutur pria
berperawakan kecil ini.

Di Kantor Polres Metro Jakut ternyata Nurjaya tidak seorang diri. Ada 15
orang lainnya yang 'ditangkap' satgas PDI-P karena kasus yang sama.
Tapi, delapan orang sempat mendekam semalam dalam tahanan, tutur Nurjaya
meyakinkan. Kondisi mereka umumnya babak belur. Bahkan, tambahnya, salah
seorang korban yang bernama Saiful, warga Kebantenan, Cilincing, sekujur
tubuhnya penuh darah.

Selain melaporkan tentang penganiayaan itu, mereka juga menyayangkan
sikap aparat. Menurut laporan para ustadz tersebut, hingga kini mereka
dikenakan wajib lapor oleh Polres Jakarta Utara. Padahal, masih menurut
laporan mereka, seruan yang mereka sebarkan adalah resmi dari lembaga
tertinggi ulama Indonesia.

Sekum MUI Pusat Drs Nazri Adlani yang menerima delegasi tersebut
menyatakan prihatin atas terjadinya peristiwa penganiayaan itu. Atas
kasus penculikan itu, Majelis Ulama Indonesia mengimbau semua pihak
tidak main 'hakim sendiri' atau melakukan 'tindakan liar' berupa
penculikan terhadap para ulama dan kiai.

''Jika tindakan demikian itu diteruskan, jangan merasa kaget ada pihak
lain hendak melakukan pembalasan,'' kata Nazri Adlani, seraya meminta
agar umat Islam mengendalikan diri dan tidak melakukan pembalasan serta
menyerahkan masalah itu kepada pihak yang berwenang, termasuk Panwaslu.

Imbauan senada juga disampaikan oleh Ketua Umum Persatuan Islam (Persis)
KH Shiddiq Amien. Menurutnya, penganiayaan oleh satgas PDI-P terhadap
ustadz yang menyebarkan seruan MUI adalah tidak pada tempatnya. ''Kalau
memang tidak sepakat dengan isi seruan tersebut, kenapa tidak langsung
datang ke MUI dan berargumen di sana?'' tukas KH Shiddiq Amien kepada
Republika kemarin.

Ia mengingatkan kasus penganiayaan terhadap ustadz sangat potensial
memicu kemarahan umat. ''Ingat, sewaktu ulama di Tasikmalaya ditempeleng
aparat, amuk massa merembet ke sektor lain,'' kata Shiddiq mengingatkan
kasus kerusuhan di Tasikmalaya 1997 lalu. Apalagi, lanjutnya, kasus
penganiayaan terhadap ulama ini tidak hanya terjadi di Jabotabek.

Shiddiq menegaskan kasus serupa terjadi di Bandung, Lembang, Ciparay
Kabupaten Bandung, dan Tasikmalaya. Di Tasimalaya, ujarnya, 12 ulama
dianiaya tapi untungnya aparat tanggap dan mengamankan penganiaya.
Sedangkan di Bandung, pemuda yang menyebarkan seruan tersebut ditangkap
dan digebuki, tepatnya pada masa kampanye. ''Tapi di Lembang belum
selesai karena pihak satgas PDI-P ngotot,'' katanya.

Menurut Shiddiq, sebuah kesalahan besar apabila pihak yang
menyebarluaskan seruan tersebut dinilai menyebarkan selebaran gelap dan
fitnah. ''Ini kan hanya seruan moral dari MUI dan 47 ormas. Dalam ajaran
Islam, dakwah itu tidak hanya bisa dilakukan ulama,'' tegasnya. Ia
menganggap penyebarluasan seruan tersebut sah-sah saja, apalagi
kepemilikan media massa sendiri belum merata.

''Aparat keamanan harus tegas dalam hal ini, begitu juga pimpinan parpol
dan media massa, jangan sampai menunggu kekecewaan mengakumulatif,''
jelas Shiddiq. Ia mengaku khawatir kasus SARA akan kembali terjadi.

''Pimpinan parpol juga harus proaktif, jangan lepas tangan melihat
massanya berperilaku demikian,'' tambah Shiddiq. Ia kemudian mengutip
sebuah hadis Nabi yang menyatakan bahwa pemilih atau pengikut merupakan
cerminan dari kualitas pemimpinnya. Di masa keterbukaan seperti ini,
Shiddiq menegaskan yang terbaik dilakukan adalah adu otak bukan adu
otot.

( sumber republika )




------------------------------------------------------------------------
Make the News Come to you! FREE email newsletters sent directly to
your in-box USAToday, Forbes, Wired, and more. Sign-up NOW!
http://clickhere.egroups.com/click/316


eGroups.com home: http://www.egroups.com/group/sabili
http://www.egroups.com - Simplifying group communications

Kirim email ke