Kompas: Kamis, 24 Juni 1999 Mengais Rezeki PBB di Timtim REZEKI bisa berasal dari mana saja. Bagi sebagian orang Timor Timur, rezeki bakal datang dari ratusan anggota United Nations Assistance Mission on East Timor (UNAMET/PBB) yang muncul di Dili. Itu sebabnya sejumlah orang muda pencari kerja dua pekan terakhir ini terus menyatroni markas UNAMET di Balide, Dili Barat. Pintu gerbang markas itu sejak pagi sampai hari gelap selalu penuh orang. Sementara ratusan mobil keluar masuk, sehingga jalan selebar tiga meter itu macet. Tak sedikit dari mereka dengan antusias langsung menemui anggota UNAMET untuk melamar kerja. Namun umumnya tak terjadi komunikasi karena para pendatang tidak mampu berbahasa Indonesia, sementara pelamar sulit berbahasa Inggris. Sudah tentu minat besar melamar kerja itu dipicu oleh kabar tentang gaji yang antara Rp 1 juta sampai Rp 5 juta. Jenis pekerjaan yang disebut-sebut di dalam kabar itu adalah sekitar operator, cleaning service, penerjemah, mengetik. Sebagian besar mereka langsung mundur ketika ditanya kemampuan menguasai berbagai jenis kerja kantoran itu termasuk komputer dan bahasa Inggris. Menurut Ratu, salah satu staf di Balai Penataran Guru Balide Dili, juga anggota pegawai Kanwil P dan K Timtim, ia bersama 15 rekan anggota Pegawai Negeri Sipil di balai tersebut diminta oleh tim PBB tetap bekerja membantu mereka di kantor itu. "Kami tidak diberitahu, berapa gaji kami. Tetapi informasi yang kami dengar, para cleaning service dan penjaga taman digaji Rp 1 juta/bulan, sedangkan penerjemah sampai Rp 5 juta/ bulan," kata Ratu. Tidak berarti mereka kapok. Esoknya mereka muncul lagi. Kehadiran PBB dilihat sebagai dewa penyelamat segala-galanya: sikap ramah dan senyum tawa kepada orang PBB jauh lebih mengagumkan ketimbang dengan sesama saudara orang Timtim. Tak ketinggalan, beberapa petani kecil dari desa, sambil memikul buah-buahan dan sayur mayur masuk ke dalam markas. Namun mereka segera keluar lagi, karena tidak ditanggapi. *** YANG sudah menangguk untung adalah penjual jasa penginapan. Tiga Hotel di Dili, yakni Mahkota Timor Diak, Resende dan Turismo penuh sesak oleh tamu asing, baik anggota UNAMET maupun wartawan. Tamu-tamu lain menginap di rumah dinas pemerintah atau losmen. "Kami di Hotel Mahkota tidak terima tamu lagi. Tamu hanya orang PBB, sejak April-Agustus 1999. Ini sudah dikontrak, satu kamar sekitar Rp 500 juta selama empat bulan," kata seorang operator. Sekitar lima unit rumah di Perumahan Delta Comoro, Dili Barat dikontrak selama tiga bulan senilai Rp 150 juta. Namun, pemilik rumah harus memenuhi keinginan anggota PBB, yakni memperluas kamar, dari 3 x 4 m menjadi 5 x 5 m, memasang shower bath, WC duduk, dan memperluas garasi mobil. Para sopir taksi setiap hari berjaga-jaga di depan hotel atau di depan Markas PBB. Namun para anggota PBB tidak berminat pada taksi, tetapi tidak demikian dengan wartawan asing. Antonio Soares (32) sopir taksi mengakui bisa mendapat Rp 300.000-Rp 500.000 per hari bila wartawan minta diantarkan ke daerah, pergi-pulang. Maka banyak taksi direnovasi, diberi aksesori, termasuk memasang AC taksi. "Sampai bulan Agustus 1999 wartawan asing masih banyak di Timtim. Mengantar wartawan asing ke daerah jauh lebih menguntungkan daripada mencari penumpang di Dili, hanya sekitar Rp 50.000-Rp 60.000 per hari," kata Soares. *** TERNYATA para petugas UNAMET menderita tinggal di Timtim yang serba kekurangan. Di Hotel Dili, kamar seluas 3 x 3 m ditempati tiga wanita polisi sipil. Namun mereka, Maria asal Selandia Baru, serta Sandra dan Kate asal Australia, tidak mau berkomentar. Di ruang depan, sebuah kamar berukuran sekitar 6 x 4 m ditempati 24 anggota polisi sipil. Tidak ada kelambu atau kamar pembatas. Suasananya mirip tempat pengungsian atau di medan perang. Pimpinan polisi sipil PBB dan panitia akomodasi dan logistik UNAMET, menyiapkan Hotel Dili bagi polisi sipil PBB, mengingat merupakan satu-satunya hotel yang belum diminati pengunjung. Hotel tua milik orang Australia itu memang miskin fasilitas. Menurut sebuah sumber, sejak tiba di Dili hari Senin, dari 41 anggota polisi sipil, hanya 21 orang yang sempat makan di hotel itu. Mereka lebih banyak minum minuman ringan dan bir. Sisanya, makan di tempat lain karena menu yang dicari tidak tersedia. "Mereka dari berbagai negara, misalnya Kamerun, Kongo, Australia, Amerika, Spanyol, dan sebagainya. Orang Kamerun dan Afrika Selatan senang makan pisang dan singkong rebus, tetapi orang Amerika dan Spanyol tidak doyan. Mereka menetapkan menu yang sama sekali tidak dimiliki di sini," kata seorang pelayan Hotel Dili. Tarif kamar hotel, sebelum kedatangan UNAMET Rp 150.000/kamar untuk dua orang, kini harganya meningkat menjadi Rp 1.500.000/kamar per malam. Demikian pula fasilitas hotel lain. Walau demikian, 320 kamar di hotel itu telah dipesan oleh wartawan dari luar negeri. *** SEMENTARA itu di depan Hotel Dili, ratusan warga Dili berjubel memandang anggota polisi sipil yang sedang duduk-duduk di pendopo hotel. Kerumunan massa ini hanya sekadar melihat penampilan orang-orang Barat, yang konon pernah berdiam di Timtim selama 450 tahun. Ketika melihat sepiring ubi rebus di atas meja di depan pendopo, salah satu dari kerumunan massa berkomentar spontan, "orang kaya di dunia Barat pun harus menderita di Timtim, hanya karena menjalankan misi perdamaian. Mudah-mudahan pengorbanan mereka membawa perdamaian bagi rakyat Timtim". (kornelis kewa ama) ;-)
