Ada apa nih dengan Mas Efron...? Belakangan ini tulisannya kok terkesan agak lain dari biasanya...? Salam, Budi Efron Dwi Poyo (Amoseas Indonesia) wrote: > > Ha..ha...ha....kalo Dede Oetomo tidak menyukai Megawati wajar-wajar saja. > Lha wong doi itu hombreng. > > Efron > > Nasrullah Idris <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > -----Original Message----- > From: zUlFaN K <[EMAIL PROTECTED]> > To: _ ACI/SCI > <[EMAIL PROTECTED] > .edu> > Date: Friday, June 25, 1999 7:22 AM > Subject: [Sabil] HAMPIR DIPASTIKAN ULAMA NU SEJAWA AKAN MENOLAK MEGAWATI > > 25 Jun 1999 > > Ulama NU Soal Capres Wanita > > SURABAYA -- Sejumlah ulama di kalangan NU (Nahdlatul Ulama) di seluruh > Jawa akan membuat kesepakatan bersama untuk menolak Ketua Umum PDI > Perjuangan (PDI-P) Megawati menjadi Presiden RI keempat. Penolakan > tersebut, menurut Ketua Syuriah Pengurus Wilayah NU (PWNU) Jatim, KH > Imron Hamzah bukan masalah gender tapi soal kapabilitas figur kandidat > presiden. > > Hingga kini masalah presiden wanita memang masih dibahas oleh sejumlah > ulama NU. Namun, para ulama cenderung menyikapi pembahasan kandidat > presiden bukan hanya soal gender saja. ''Jadi, masalah kualitas dan > kapabilitas dari para calon presiden juga menjadi pertimbangan yang > sangat penting,'' tandas Kiai Imron kepada Republika di Surabaya, > kemarin (22/6). > > Kiai Imron mengungkapkan bahwa adanya pro-kontra tentang boleh-tidaknya > wanita menjadi presiden memang tidak bisa selesai, jika tidak segera > dituntaskan melalui perspektif hukum agama serta kajian para ulama. > ''Berdasarkan empat Madzhab, yakni Imam Suafi'i, Hambali, Maliki, dan > Hanafi, jelas melarang seorang wanita menjadi pemimpin negara,'' ujarnya > memberi alasan. > > Namun demikian, katanya, ada sebagian ulama yang berpendapat bahwa > kalangan perempuan bisa menjadi pemimpin dengan persyararatan kondisi > dan situasi sangat darurat. ''Nah, yang menjadi persoalan, sejauh mana > arti darurat tersebut. Namun ukuran darurat itu kan sangat nisbi. Untuk > itu para ulama sebenarnya tidak hanya menyoal tentang presiden wanita, > tapi kini telah mengarah pada pembahasan soal kemampuan calon pemimpin > itu,'' papar pengasuh Pondok Pesantren 'Ngelom' Sepanjang, Sidoarjo, > Jatim ini. > > Ia memberi penilaian bahwa calon presiden mendatang harus punya > intelektual bagus dan tentunya harus mendapat legitimasi dari rakyat. > ''Negara kita saat ini kan dilanda krisis. Itulah sebabnya, saat ini > sangat dibutuhkan seorang pemimpin yang punya kapasitas intelektual > bagus,'' urainya. > > Saat ditanya secara pribadi soal kapabilitas dan intelektualitas Mega, > ''Secara jujur saya mengakui bahwa Mbak Mega itu tidak punya kemampuan > untuk menjadi pemimpin. Tapi kalau soal kejujuran dan komitmen > kerakyatannya, saya tidak meragukan lagi,'' tukasnya. > > Seorang mantan anggota MPR dari NU bahkan mengungkapkan, bahwa Mega > selama duduk sebagai anggota DPR-MPR dari FPDI memang terkesan tidak > mempunyai kapabilitas memadai. ''Saya tahu persis ketika sama-sama duduk > di MPR, Mbak Mega ternyata terbukti tidak bisa apa-apa. Saya buktikan > itu ketika bersama-sama duduk semeja dan saya pancing untuk berbicara > tentang beberapa hal,'' kata seorang mantan anggota MPR yang keberatan > disebut jatidirinya. > > Secara terpisah, Wakil Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jatim, > KH Fuad Amin Imron mengemukakan, para ulama pengasuh pondok pesantren > se-Jawa kini tengah melakukan pembahasan tentang boleh-tidaknya wanita > menjadi presiden. ''Pembahasan masalah wanita presiden memang bukan hal > yang utama. Namun, yang sangat penting adalah soal kemampuan calon > presiden itu. Pembahasan para ulama ini diharapkan selesai pada 10 Juli > mendatang,'' kata Kiai Fuad yang juga pengasuh Ponpes Syaichona Cholil, > Kademangan Bangkalan, Madura. > > Menurut Kiai Fuad, kebanyakan ulama NU secara tegas menyatakan menolak > wanita menjadi presiden. Namun demikian, sambungnya, para ulama tetap > menunggu keputusan Ketua Umum PB NU Gus Dur yang kini masih berada di > Singapura. > > Pengamat sosial dari Universitas Airlangga Surabaya, Dr Dede Oetomo > mengakui, dalam beberapa hal Habibie justru lebih mampu menarik simpati > pengamat ketimbang Mega. ''Kita harus jujur mengakui, paling tidak dalam > retorika politik, Habibie lebih baik daripada Mega. Tapi itu bukan > berarti saya mendukung Habibie,'' tutur Dede. > > Ia memberi contoh sikap Habibie, yang setuju diadakannya referendum bagi > masyarakat Timtim, amandemen UUD 1945 dan tawaran pemilihan presiden > secara langsung, memiliki bobot politik yang positif. Sedangkan sikap > Mega, yang beranggapan bahwa Timtim merupakan bagian sah dari Indonesia > serta cenderung apriori amandemen UUD 1945 dan usulan pemilihan presiden > secara langsung, dianggap tak responsif terhadap tuntutan masyarakat. n > afa/yon > > ( sumber Republika )
