Adakalanya sebuah dokumen milik sebuah partai dimaksudnya untuk
menjebak publik. Caranya pun dibuat sedemikian rupa sehingga memberi kesan
bahwa dokumen tersebut  bocor tanpa sengaja ke tangan publik. Ini dengan
asumsi bahwa publik senang sekali dengan berita seputar kebocoran dokumen.
     Soalnya kalau disebarkan secara langsung, seperti melalui pers release,
resonansinya diperkirakan akan jauh dibawah dibandingkan dengan cara
pertama.
    Lalu bersandiwaralah orang dalam partai dengan memperlihatkan
tindak-tanduk orang yang panik, seperti orang yang kikuk karena rahasia
pribadinya bocor. Nah kondisi tentu akan menjadi santapan para kuli tinta
dari berbagai massa mengingat nilai beritanya sangat tinggi. Malah akhirnya
masuk ke berbagai media lainnya, seperti mailing list.
    Untuk apa manover politik itu dijalankan ? Ya macam-macam. Misalkan
mencari masukan dari publik untuk strategi pertainya. Bisa juga untuk
menciptakan konspirasi sedemikian rupa sehingga opini/prediksi publik
semakin beragam tentang partainya. Karena dengan beragamnya opini ini akan
semakin susahlah menebak misi partai itu yang sebenarnya.
     Isi dokumen itu bisa saja sengaja "disalahkan". Artinya, berlawanan
dengan program partai sebenarnya. Tujuan sebenarnya adalah ke "utara",
tetapi dalam dokumen itu tertulis ke "selatan".
     Apakah pernah terjadi di Indonesia ? Entah ! Saya nggak tahu.
     Tulisan ini saya tulis dalam skop global.


Salam,

Nasrullah Idris

Kirim email ke