Republika Online edisi:
27 Jun 1999

Presiden Peringati Maulid Nabi di Istana Negara 'Rasulullah Larang Umat
Islam Lakukan Pengkultusan'


JAKARTA -- Presiden BJ Habibie mengungkapkan, nama Nabi Muhammad tak mungkin
terlupakan sekejap pun oleh kaum muslim. ''Dengan nama yang begitu mulia,
jutaan bibir setiap hari mengucapkan dan menyebutkan namanya. Bagi kaum
muslimin setiap saat jantung berdenyut berulangkali nama Muhammad sudah
terpatri di dalam kalbunya,'' ujar Habibe saat memberi amanat pada
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jumat malam.

Menurut Presiden, salah satu akhlak mulia yang dimiliki Nabi Muhammad adalah
sifat rendah hati. ''Walaupun beliau telah diangkat sebagai Nabi dan Rasul
Allah, namun tetap menunjukan sifat-sifat kebaikan manusiawi dan kedekatan
dengan sesama, serta jauh dari sikap sombong atau takabur,'' paparnya.

Bahkan, Nabi Muhammad melarang para sahabat dan pengikutnya untuk memuja
apalagi mengkultuskannya. ''Melukis atau menggambarkan sosok beliau pun
termasuk dilarang dalam Islam,'' paparnya.

Ilustrasi ini, kata Habibie, hendaknya menyadarkan kaum muslimin bahwa
tauhid semestinya terpancar pada akhlaq seorang muslim. ''Pelajaran sejarah
di masa Nabi Musa menunjukan bahwa upaya pemujaan dan pengkultusan Firaun
dapat menjadikan Firaun lupa diri dan menganggap dirinya Tuhan, yang tak
terjangkau rakyatnya. Namun sejarah juga mencatat justru karena 'Firaunisme'
itulah mereka jatuh,'' ujar Habibie.

Pada bagian lain amanatnya Kepala Negara bicara mengenai pemilu. Menurut
Habibie, pemilu yang telah dilaksanakan 7 Juni lalu merupakan salah satu
upaya bangsa Indonesia untuk memperbaharui dan menyempurnakan kehidupannya.
Sesuai konstitusi, pemilu yang sudah diakui berlangsung jujur dan adil ini
adalah untuk memilih wakil rakyat, bukannya presiden. Maka rakyat hendaknya
bersabar dalam menjalani proses dan tujuan Pemilu itu.

Lebih jauh Habibie menjelaskan, Pemilu dilakukan untuk memilih 462 dari 500
anggota DPR. Selanjutnya, 500 anggota DPR bersama 200 anggota Utusan Daerah
dan Utusan Golongan akan duduk sebagai anggota MPR. MPR inilah yang nantinya
menetapkan GBHN dan memilih Presiden dan Wakil Presiden.

''Dengan pemahaman ini saya mengajak seluruh lapisan masyarakat bersabar
dalam menjalani setiap proses dan tahapan tersebut, dan memberikan
kepercayaan penuh kepada sistem yang sudah disepakati bersama,'' ujarnya.
Menurut Habibie, apapun hasilnya harus diterima dengan baik. Bagi yang
menang hendaknya tetap rendah hati, sebaliknya yang kalah harus berlapang
dada.

Pesan senada dikemukakan Presiden dalam acara pembukaan festival Walisongo
di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Sabtu kemarin. Festival Walisongo
merupakan acara pameran akbar bagi pengusaha industri, khususnya industri
kerajinan rakyat. Produk-produk yang dipamerkan berupa hasil kerajinan
pengusaha berskala kecil dan menengah. Sebanyak enam negara OKI (Organisasi
Konperensi Islam) ikut bergabung dalam acara festival tersebut.

Di bagian lain amanatnya di Istana Negara, Habibie mengajak semua pihak agar
pandai-pandai memperdebatkan masalah politik. Selain dilakukan dengan
pikiran jernih, perdebatan juga harus didasari dada yang lapang dan hati
yang penuh kearifan. ''Sehingga dengan demikian kita memberikan pendidikan
politik yang sehat kepada rakyat,'' ujarnya. Ia menambahkan bahwa setiap
membahas masalah politik hendaknya tetap mengacu pada kerangka UUD 1945.

Dalam kaitan itu, Kepala Negara mengharapkan agar setiap penilaian dan
penyampaian aspirasi tentang Pemilu hendaknya jangan sampai terlena hingga
melupakan persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab, kelengahan hanya akan
merugikan perkembangan demokrasi itu sendiri. ''Janganlah kita menjadi orang
yang merugi karena kita sudah tidak saling mengingatkan lagi dalam kebenaran
dan dalam kesabaran seperti dikemukakan firman Allah dalam surat Al-'Asr,''
ujar Habibie.

Menyinggung pemilihan presiden yang sekarang sedang menjadi perdebatan
hangat, Habibie mengulang penegasannya bahwa ia sendiri menilai idealnya
presiden dipilih langsung oleh rakyat. Habibie sendiri berpandangan idealnya
Presiden dipilih langsung oleh rakyat. ''Beberapa waktu lalu saya sudah
mengemukakan hal ini, termasuk meminta DPA untuk mengkaji,'' ujar Habibie.

Namun, tambahnya, ternyata konstitusi bangsa Indonesia saat ini tidak
memungkinkan pemilihan Presiden secara langsung. ''Karena itu sekali lagi
saya mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menerima kenyataan yang
ada,'' papar Habibie.

Pada acara yang juga dihadiri sejumlah pejabat tinggi dan tertinggi negara
itu, juga dipaparkan hikmah Maulid Nabi Muhamad SAW oleh DR Sofyan Tsauri,
Ketua LIPI. Dalam uraiannya Sofyan antara lain mengungkapkan pentingnya
meneladani perjuangan Nabi Muhammad dalam mewujudkan masyarakat Madani.

Pada acara peringatan ini pula Presiden BJ Habibie atas nama bangsa
Indonesia menerima bantuan dari Kuwait sebesar 200 ribu dolar AS. Bantuan
yang langsung diterima Habibie dari Dubes Kuwait untuk Indonesia itu
ditujukan membantu perbaikan Masjid Istiqlal. Seperti diketahui masjid
kebanggaan umat Islam Indonesia itu bangunan bagian bawahnya rusak akibat
peladakan bom beberapa waktu lalu.

Kirim email ke