Mungkin ini akibat jaman ketertutupannya ORBA, sedikit sedikit wartawan di
larang nulis ini itu. Nah sekarang karena jamannya yang bebas dan keterbukaan,
akhirnya mereka jadi balas dendam sedikit diomongin protes akhirnya lupa akan
batas batas keprofesionalan, bahwa seharusnya seorang wartawan tidak boleh
terlibat secara praktis. Namanya juga manusia.............suka lupa akan
dirinya sendiri.

Yuni


FNU Brawijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Menanggapi berita di bawah ini, ane kok jadi bingung dan linglung. Terbukti
tata
aturan di segala macem bidang termasuk bidang jurnalistik kok belum tertata
dengan baik. Dengan asumsi bahwa berita tentang wartawan yg ikut mendobrak
ruang sidang pleno KPU bersama dengan Adnan Buyung dan Andi Malarengeng
kemaren adalah benar, maka tuntutan wartawan seperti di bawah ini menunjukkan
kepongahan wartawan (yang merasa selalu benar, dengan mengatas-namakan
kebebasan pers).

Dalam kasus di bawah ini Rudini mengalah, tapi ane ndak masalahin rudini vs
wartawan
ini. Nyang ane masalahin mengapa kok ikut mendobrak masuk ruang sidang yang
dinyatakan tertutup? Habis itu tidak terima disebut mengganggu jalannya
sidang.....
Enak sekali? Apakah yang seperti inikah yg kita harapkan dari kebebasan pers?
Kita memang tidak mengharapkan kejadian pelecehan wartawan seperti pemukulan,
penghinaan, dlsb, tetapi bila menengok accident kayak di bawah ini sih....
Hmmmm...




'----------- dari Tempo.co.id ----------------
                  Rudini Didemo Wartawan

                  Pernyataan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Rudini yang
menganggap
                  wartawan telah mengganggu jalannya sidang pleno pada Kamis
kemarin
                  (24/06), membuat wartawan merasa tersinggung. Seusai shalat
Jumat
                  (25/06), semua wartawan yang bertugas di KPU mendemo ketua
KPU Rudini
                  dan menuntut permintaan maaf atas pernyataan itu.

                  Sekitar 40 wartawan dari berbagai media mendemo Rudini di
ruang kerjanya
                  di KPU. Mereka menggelar poster-poster yang antaranya
berisi; �Jangan
                  lecehkan profesi Wartawan�, �Jangan jadikan wartawan kambing
hitam
                  masalah intern KPU�, �Rudini harus meminta maaf pada
wartawan�.

                  Untuk menjernihkan permasalahan, Rudini kemudian melakukan
dialog di
                  salah satu ruang rapat di KPU. Dalam dialog itu para
wartawan meminta
                  Rudini untuk mencabut pernyataannya yang menuding wartawan
                  mengacaukan dan menghambat persidangan di KPU dan jika hal
itu tidak
                  dilakukan mereka mengancam akan memboikot seluruh kegiatan
di KPU.

                  Menanggapi permintaan itu, Rudini lalu balik bertanya, "Saya
diminta minta
                  maaf, untuk masalah apa?" Pernyataan itu tak pelak membuat
sebagian
                  wartawan tidak puas. Setelah didesak akhirnya Rudini sedikit
mengalah dan
                  menyatakan pernyataannya kemarin mungkin sekali masih
terbawa emosi
                  setelah mendamaikan anggota KPU yang berselisih.

                  Sebelum meminta maaf, Rudini meminta kepada wartawan yang
meliput di
                  KPU untuk bersikap sopan. "Saudara-saudara kalau jumpa pers
itu tolong
                  tertib sedikit dong. Jangan sradak-sruduk begitu. Recorder
yang banyak itu
                  jangan sampai kemuka saya," katanya. (elfis)

--
Salam,
Jaya


--> I disapprove of what you say, but I will
    defend to death your right to say it. - Voltaire

               \\\|///
             \\  - -  //
              (  @ @  )
------------oOOo-(_)-oOOo-----------
FNU Brawijaya
Dept of Civil Engineering
Rensselaer Polytechnic Institute
mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------Oooo------------
           oooO     (   )
          (   )      ) /
           \ (      (_/
            \_)


____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at 
http://webmail.netscape.com.

Kirim email ke