Saya akan gabungkan saya komentar saya
terhadap posting2 bung Nasrullah dalam subyek
yg sama yg sebelumnya dipisah2 agar tidak terlalu
banyak email.
Komentar pertama:
In a message dated 6/26/99 9:39:17 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:
> Posisi saya dalam hal ini sebagai individu mengambang. Saya kurang mengkaji
> dalam masalah itu. Jadi dalam hal ini saya tidak mempersoalkan "boleh tidak
> wanita jadi Presiden dalam ajaran Islam".
Irwan:
Oooo......
Jadi, kalau bisa saya simpulkan anda tidak keberatan
kalau presiden Indonesia nantinya dijabat oleh seorang wanita
bila dipandang dari sudut latar belakang agama anda.
Benarkah kesimpulan saya terhadap sikap anda tersebut?
Komentar kedua:
> > Nasrullah Idris
> > ---------------
> >
> > Apa contoh kegiatan tahapan pemilu yang tidak ada kaitan dengan agama ?
> >
> > Salam,
> >
> > Nasrullah Idris
>
> Irwan:
> Maaf, saya ngga ngerti arah pembicaraan anda.
> Mohon lihat kembali topik pembicaraan sebelumnya.
>
>
>
> Nasrullah : Ya jawab dululah itu. Nanti saya sambung lagi.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
Irwan:
Saya memang sengaja tidak menjawab karena topiknya
sudah anda larikan dari topik awal. Saya ulang kembali saja,
permasalahan yg saya angkat awalnya adalah kesimpulan
dari bung Jaya yg mengatakan bahwa isu agama bagi dia
pada pemilu sekarang ini adalah isu penting mengingat
banyaknya partai2 yg mempunyai latar
belakang atau berazas pada satu agama tertentu, baik Islam
atau pun Kristen. Lalu saya coba luruskan dengan mengatakan
isu tersebut menurut saya penting bagi pendiri agama tapi
tidak dianggap cukup penting oleh sebagian besar masyarakat
yg bisa dilihat dari perolehan suara dimana sebagian besar
masyarakat tidak memilih partai yg berazaskan agama tertentu
tapi lebih ke partai yg sifatnya umum atau pun kebangsaan.
Bahasa sederhananya dari saya, ada pihak atau kelompok
yg merasa isu agama adalah penting atau mencoba
menjadikannya penting tapi ternyata sebagian besar masyarakat
berkata lain, dimana bagi mereka ternyata tidak bermasalah
dengan agama karena memang mereka mungkin merasa
bahwa sementara ini ada pihak2 yg sengaja membuat agama
itu jadi bermasalah.
Dalam hal ini saya hanya mencoba menterjemahkan situasi
yg ada ke dalam bahasa Indonesia sederhana yg mudah2an
bisa dilihat poinnya. Menurut saya pribadi, pernyataan
atau pun kesimpulan bung Jaya sebelumnya itu lemah bila
dilihat dari fakta yg ada. Jadi, kalau anda ingin mengomentari
posting saya tersebut, sebaiknya anda komentari permasalahan
atau topik yg ada, kecuali anda buka masalah baru.
Kalau anda perhatikan kembali, pertanyaan anda sudah lari
dari permasalahan yg saya coba angkat.
Itulah sebabnya saya meminta anda untuk mencoba melihat topik
pembicaraan sebelumnya.
Saya memang sengaja mencoba menghindar dari kemungkinan
terperosok ke arah diskusi yg buntutnya ngga jelas, alias muter2
ngga keruan. Saya cenderung akan berhenti bila saya rasakan
diskusi sudah berjalan kurang sehat karena apa yg dibicarakan
sudah ngga jelas lagi arahnya mau kemana.
Semoga bisa dimengerti.
Komentar ketiga:
Irwan:
> > *****Numpang tanya nih bung Jaya, warna politik anda apa sih? Kuning?...:)
> >
> >
> > #####Bukan !
> >
> > Salam,
> >
> > Nasrullah Idris
Irwan:
> Lho, anda ini bung Jaya toh?.....:)
>
> catatan:
> Mohon diperhatikan topik pembicaraan sebelumnya
> sebelum anda memberikan komentar atau tanggapan.
>
> Nasrullah Idris :
> --------------
> Memang saya bukan bung Jaya. Tetapi jawaban memang "bukan". Saya lihat
> dulu topiknya kok sebelum memberi komentar/tanggapan.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris
Irwan:
Bung Nasrullah, saya tidak ingin mempermasalahkan hal
ini lebih lanjut dengan anda karena melihat anda tampaknya
memang benar2 tidak memperhatikan masalah sebelumnya.
jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu