Sulit...sulit. Selama masih banyak pimpinan yang bersifat primordial seperti
Hamzah Haz atau AM Syaefudin, sedangkan orang yang cukup demokrat seperti Emil
Salim sudah mulai habis, maka konsep persamaan--persaudaraan sulit terwujud.
Mungkin alternatif lain adalah ditegakkannya keadilan hukum dan
anti-diskriminasi. Kedua alat ini mungkin akan memperkecil penganak-tirian
rakyat. Mengutip ucapan Clifford, bahwa Indonesia sangat majemuk, siapapun
yang mencoba memaksakan value kelompoknya kedalam negara ini, entah memaksakan
nasionalisme, Islam, Kristen ataupun komunisme akan bertabrakan dengan
kehendak rakyat. Value suatu kepercayaan lebih baik diperuntukan untuk pribadi
atau kelompok. Baiknya hukum saja yang ditegakkan dan disempurnakan. Jangan
seperti sekarang, UUD 1945 soal calon Presiden saja dilawan dengan aturan
agama yang tidak jelas. Kalau kita sendiri saja tidak menghormati UUD dasar
kita yang kita anggap sumber hukum dinegeri kita apalagi hukum yang lain. MUI
bilang tidak boleh presiden wanita (sesuai tujuannya Hamzah Haz), sedangkan
Ulama Pesantren Nasional boleh ditambah beberapa pendapat ahli agama Islam
dalam maupun luar negeri. Jadi memang ada perbedaan pendapat intern Islam
sendiri. Sedangkan kelompok non-Islam boleh. Hal ini telah ditunjukkan oleh
peserta Pemilu yang mayoritas memilih PDIP (yang memilih dari berbagai agama
dan golongan), artinya percaya bahwa tidak ada masalah jika Mega jadi Presiden
(karena Mega yang dicalonkan oleh PDIP). Lalu apalagi???

Nasrullah Idris wrote:

>      Subject di atas memang terasa indah untuk diucapkan, dipropagandakan,
> sampai disosialisasikan. Negara berkembang, termasuk Indonesia, termasuk
> objek untuk ketiga itu.
>      Tidak heranlah bila banyak dari mereka yang merasa dirinya sebagai
> cendekiawan di negara berkembang ikut juga mengucapkan, mempropagandakan,
> dan mengsosialisasikannya.
>      Tetapi yang jelas, banyak cendekiawan di negara maju yang bersikap
> skeptis terhadap slogan "Persamaan - Persaudaraan - Kebebasan". Mengapa ?
> Karena bagi mereka, itu hanya mimpi untuk bisa terwujud dalam waktu
> bersamaan.
>
> Salam,
>
> Nasrullah Idris

Kirim email ke