Akur akur aja deh
yuni
Ramadhan Pohan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Tarigan: Buatan Manusia, UUD Bisa Diubah
Wanhankamnas Keluarkan Kriteria Calon Presiden
Jakarta, JP.-
Gerakan reformasi memperoleh dorongan yang sangat berarti. Kemarin, Dewan
Pertahanan dan Keamanan Nasional (Wanhankamnas) yang dikenal sebagai lembaga
think-tank pemerintah, dalam sidangnya, memutuskan bahwa UUD 1945 boleh saja
diubah.
Salah satu alasannya, UUD itu buatan manusia dan tidak perlu ada sakralisasi
terhadapnya. "Apalagi, waktu pembuatannya buru-buru," ujar Sekjen
Wanhankamnas Letjen TNI Arifin Tarigan seusai sidang di Bina Graha, kemarin.
Menurut Tarigan, perubahan UUD �45 itu tidak haram. Sebab, UUD �45 itu
bersifat ringkas dan supel sehingga perlu mengikuti dinamika masyarakat
nasional maupun internasional. Diakui, sesuai perkembangan keadaan,
bagian-bagian UUD �45 sudah banyak yang tidak sesuai sehingga perlu
diperhatikan untuk bisa diubah.
Juga dijelaskan, kedudukan UUD secara de facto sudah diakui sejak 1945. Tapi,
secara de jure MPR belum pernah menetapkan, sesuai pasal 3 UUD �45. Tarigan
menyebut, sejauh ini ada tiga versi UUD �45. Pertama, versi BPUPKI. Kedua,
versi Dekret Presiden 5 Juli 1959. Lalu, yang ketiga adalah versi penataran
P4 dari BP7.
Menurut dia, tiga versi tersebut berbeda, dan belum pernah ditetapkan oleh
MPR mana versi yang baku. "Nah, ini kita harapkan nanti. Kita sarankanlah
agar di MPR nanti ditetapkan dulu mana yang kita anut," papar Tarigan.
Menyinggung kuatnya aspirasi bagi amandemen UUD 1945, Tarigan mengatakan
bahwa keinginan ke arah itu memang kuat. Tetapi, ia mengingatkan, seharusnya
perubahan itu melalui pendekatan evolusi yang dipercepat (accelerated
evolution).
Selain memperbolehkan amandemen UUD �45, Wanhankamnas memutuskan bahwa setiap
calon presiden, wakil presiden, bersedia memberikan biodatanya secara
lengkap. Dengan begitu, setiap calon bersedia benar-benar plus-minusnya
diketahui rakyat. "Itu penting agar rakyat tahu, siapa sebenarnya calon
presiden itu. Ini yang kita harapkan," ujar Tarigan.
Dengan biodata itu pula, lanjut dia, identitas dan riwayat calon presiden
harus jelas. "Ini perlu agar mekanisme pemilihannya transparan dan
benar-benar aspiratif."
Pada masyarakat yang demokratis, sambung Tarigan, hampir mustahil kriteria
capres ditentukan secara rinci dan dilembagakan secara permanen oleh
pemerintah. Pemerintah, selaku fasilitator kehidupan nasional, hanya dapat
menyelenggarakan pendidikan politik bagi rakyat agar mereka dapat menggunakan
haknya.
"Jadi, dalam hal ini, seseorang yang dicalonkan harus bersedia membuka diri,
biodatanya. Istilahnya ya �ditelanjangilah�, agar rakyat itu bisa tahu dia
ini sebenarnya bagaimana. Ini yang kita harapkan," katanya lagi.
Ditambahkan, soal kriteria calon presiden, prioritas pertama adalah harus
dipilih rakyat dulu. "Meski memenuhi semua kriteria, tetapi tidak ada yang
memilih, sulit bisa diterima. Selain itu, akan dipertimbangkan
kriteria-kriteria akademik," urai Tarigan.
Selain itu, imbuh dia, disepakati kriteria yang bersifat khusus. Misalnya,
calon ini mempunyai IQ atau kecerdasan yang memadai. Bahkan, calon ini juga
memiliki tingkat kematangan emosi yang stabil. "Jadi, jangan sampai nanti
belum apa-apa sudah pukul-pukulan," tutur Tarigan.
"Yang lain, ya mempunyai tingkat kreativitas yang dinamis. Tidak hanya
menunggu, kira-kira begitu, ada ide-ide yang kreatif. Dia juga mempunyai
tingkat religiusitas, keimanan, moral yang teguh. Ini kriteria kita,"
tambahnya.
Tarigan juga menyebut kriteria umum. Misalnya, warga negara Indonesia,
beragama, mempunyai hak pilih, bersedia mempertahankan Pancasila,
mempertahankan negara kesatuan RI, serta memahami dan menghormati kondisi
alamiah, demokrasi, dan budaya.
Selain itu, mempunyai kadar kearifan dan kenegarawanan, pengalaman yang
cukup, khususnya pada layanan masyarakat, baik swasta maupun pemerintahan.
Termasuk, punya pengalaman di forum internasional, nasional, maupun regional..
"Jadi, kita harapkan dia tidak hanya nasional. Ke depan nanti, dalam
kecenderungan global, harus punya kredibilitas. Termasuk, pendidikannya
minimal setara SMU�S-1," katanya.
Tarigan mengatakan, kriteria ini memang yang baru disampaikan ke permukaan.
Kriteria itu, kata dia, bermisi membantu agar rakyat bisa menyadari bahwa
pemilihan presiden tidak bisa hanya mengandalkan emosi. "Tapi, pemilihan
presiden itu juga menggunakan logika, bukan sekadar emosi. Ini baru bisa
mendapatkan presiden yang ideal," tegasnya kemudian. (zen/jpnn)
____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at
http://webmail.netscape.com.