Cuman peluru karet kok.....ditambah sedikit tongkat karet atau rotan,
sepakan sepatu lars..... Well, mereka memang dibayar untuk melakukan itu...
(salah satunya...). Ironisnya, duit yang dipakai untuk membayar mereka itu
duit anda, saya dan orang yang digebuk itu sendiri, yang ditarik melalui
pajak....
T
>Saya nggak habis pikir, hanya segitu tingkat kemanusiaan sebagian orang
>Indonesia. ada aja yang lebih memntingkan harta dibanding nyawa seseorang.
>(mengenai orang KPU yang nggak mau minjamin mobil untuk angkut korban ke RS).
>
>Satu hal lagi, suruh tuh polisi beli gas air mata dan peluru karet jangan
>peluru beneran digunakan terus menerus.
>
>Kayaknya nyawa orang murah amat, mentang mentang Indonesia penduduknya
>berjubel.
>
>Yuni
>
>
X-WM-Posted-At: MailAndNews.com; Fri, 2 Jul 99 02:58:45 -0400
Date: Fri, 2 Jul 1999 02:58:45 -0400
Sender: NGSCOM <[EMAIL PROTECTED]>
From: NGSCOM <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
X-EXP32-SerialNo: 00000001
Mailing-List: list [EMAIL PROTECTED]; contact
[EMAIL PROTECTED]
Delivered-To: mailing list [EMAIL PROTECTED]
Precedence: bulk
List-Unsubscribe: <mailto:[EMAIL PROTECTED]>
Reply-to: [EMAIL PROTECTED]
Mime-Version: 1.0
Subject: [WartaBerita] Dhyta, Wajahnya Bonyok, Giginya Rontok
From: NGSCOM <[EMAIL PROTECTED]>
KEMANISAN wajah Dhyta Caturrani (24), sedikit pun tidak tersisa kini. Wajah
mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) jurusan sosiologi angkatan 1994 ini
bonyok. Dahinya bengkak karena pukulan benda keras, batang hidungnya remuk,
bibirnya bengkak, dan satu gigi atasnya rontok. Derita Dhyta ditambah lagi
dengan sebuah lubang di pinggang belakang sebelah kanan di mana bersarang
sebutir peluru karet.
Oleh rekan-rekannya, Dhyta sebenarnya dilarang ikut demo karena kondisi
fisiknya kurang baik. Ia akhirnya memang benar-benar terpuruk. Di ranjang
perawatan di Unit Gawat Darurat RS St Carolus, sepanjang sore kemarin ia hanya
bisa melenguh keras, tersengal-sengal mencoba menghirup udara. Para suster
agak kerepotan saat memasang jarum infus.
Setelah jarum infus menancap, Dhyta agak tenang. Dr Gitorejo memerintahkan dua
suster membawanya ke lantai empat, untuk tindakan operasi atas luka-lukanya
itu. Sekitar satu jam, ia ditangani dr Joshep di meja bedah. Akhirnya pukul
20.35, ia keluar dari ruang operasi dalam keadaan masih terbius, untuk
menjalani rawat inap di ruang Fransiskus nomor 46.
Dhyta adalah aktivis PRD dan menjadi salah seorang dari puluhan korban bentrok
antara PRD dan polisi di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Di ruang Fransiskus ada tiga orang teman Dhyta yang dirawat inap, tetapi
memang Dhyta merupakan korban paling parah. Sampai tengah malam, belum ada
sanak keluarganya yang tahu. Ayah Dhyta di Surabaya, sedangkan ibunya masih di
Amerika Serikat. Hanya rekan-rekannya dari PRD yang menemani. Juga beberapa
anggota Tim Relawan. Namun, ia barangkali tak sadar ketika Koordinator Tim
Relawan Romo Sandyawan datang ke ruang UGD RS St Carolus untuk menjenguknya.
Seluruh anggota dan simpatisan PRD korban insiden Imam Bonjol yang dilarikan
ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) berjumlah 12 orang. Mereka adalah
Nurely Yudha Senaningrum (25), Rani (18), Yayan Ardianto (27), Rio Kristian
Utomo (19), Imansyah Cahyadi (22), Hubert (24), Kuncoro A (23), Anto Susianto
(26), Are Salendra (24), Rustianingsih (26), Iwan Nugroho (20), dan Ariyanto
(19).
Hubert, Are Salendra, dan Iwan Nugroho menderita luka tembak. Hubert, anggota
Komite Pimpinan Kota (KPK) Bandung, terkena tembakan di paha kanan, Are
Salendra, anggota Komite Pimpinan Pusat (KPP) tertembak di pangkal lengan
kanan, sementara Iwan Nugroho, anggota PRD dari Sukoharjo tertembak di kaki
kanan. Mereka yang juga menderita cidera berat antara lain Kuncoro (kaki kanan
bagian bawah patah) serta Imansyah yang terkena pukulan keras di bagian kepala
dan tak sadarkan diri saat dilarikan ke RSCM.
Semua korban yang dibawa ke RSCM, menurut Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD)
RSCM dr Akmal, kondisinya tidak ada yang bisa dikategorikan sebagai kritis.
Namun, ada yang patah kaki atau cidera berat.
Sementara di Unit Gawat Darurat (UGD) RS St Carolus hingga sekitar pukul 20.00
ada 22 korban. Mereka adalah Indah Lestari Ningsih (21), Eddy Rianto (21),
Dhyta Caturrani (24), Dimas (19), Adrian Budisantoso (21), Olis (21), Egy
(19), Moy (23), Roni Agustinus (19), Budi (33), Timbul Siregar (21), Suprito
(23), Irin Winachto (37), Elim (22), Aris Jefri (27), Maryadi (23), Nursutoro
(22), Ateng (19), Ardian (21), Boy (18), Bayu Rahmawan (19), dan Iwan Gunawan.
Enam di antara para korban itu menderita luka tembak. Mereka adalah Dhyta (KPP
PRD) yang tertembak di pinggang belakang sebelah kanannya, Kuncoro (PRD
Mampang Prapatan) terkena luka tembak di kakinya. Budi (KPK PRD Solo)
tertembak di dada bagian kanan. Elim dari Bekasi tertembak di kaki kanan.
Ardian dari Palembang terkena hantaman peluru di punggung sebelah kiri. Bayu
Rahmawan, anggota (PRD Boyolali) tertembak di bagian samping luar paha kiri.
Setelah mengeluarkan proyektil peluru yang bersarang di tubuh tiga korban, dr
Gitoredjo dari UGD RS St Carolus menyatakan, peluru-peluru yang mencederai
mereka semua adalah peluru karet.
Dengan demikian seluruh korban yang dirawat di RSCM dan RS St Carolus
berjumlah 34 orang, sembilan di antaranya menderita luka tembak. Semua korban
yang dibawa ke RS St Carolus menjalani rawat inap. Empat dirawat di ruang St
Fransiskus, dua di ruang UGD, sementara sisanya diinapkan bersama-sama di aula
RS St Carolus.
Sampai 21.30, puluhan rekan korban masih berkumpul di sekitar ruang IGD RSCM
maupun ruang UGD RS St Carolus. Di RS St Carolus, sebagian dari mereka
terlihat duduk bergerombol dan tidur-tiduran di sepanjang lorong menuju aula
di mana rekan-rekan mereka dirawat.
Interesting? Pick out the above subject and discuss with others at:
[EMAIL PROTECTED] or [EMAIL PROTECTED]
Sign up free NGSCOM Webmail at http://come.to/MailAndNews