Lha orang kayak gini kok dijadikan caleg nomor 4.
Kalau mau menghendaki rakyat benar-benar berdaulat dalam memilih presiden,
sudah barang tentu UUD45 juga mesti diganti. Biar saja rakyat memilih langsung
presidennya. Caranya ya sudah barang tentu ngganti dulu UUD yg ngatur.

Sekarang maunya nggak ngganti UUD, tapi mau meniadakan peran MPR. Lha
kalau MPR cuman jadi cap jempol ya sudah dibubarin saja. Ini baru melihat peluang
kalah voting saja sudah sibuk. Nanti kalo voting menang baru kaok-kaok bahwa
bentuk voting adalah yg paling demokratis. Model-model bunglon kayak gini kok
ya masih ada.

Kemarin mereka-mereka sepakat kalo faktor pembagi suara berbeda-beda,
di mana suara di Jawa faktornya lebih besar. Waktu belum tahu bakal panen di Jawa
lalu sibuk nuntut tentang pemerataan wakil rakyat dari luar Jawa. Giliran dengan tata 
cara
ini disusul parte lain lalu sibuk menggunakan isu jumlah absolut 23 juta pemilih....
Orang sudah mau masuk liang kubur kok ya nggak malu sama anak kecil yang
kalo eker-ekeran sama persis dengan dia.

Caranya gini mending PKB sama PAN ndak usah ikut-ikut dengan pemerintahan
PDIP sajalah. Biar saja PDIP menang....ndak apa-apa. Yang penting ndak usah
ikut-ikut dosa dan plin-plan kayak Aberson si lholhak-lholok ini......
Hih...ngisin-ngisini waris saja....



'--------------suara merdeka----------

Tolak Voting

Secara terpisah tokoh PDI Perjuangan, Aberson Marle Sihaloho, berpendapat PDI
Perjuangan sebaiknya menolak ajakan pemungutan suara atau voting, jika hal itu 
ditawarkan
dalam sidang umum MPR mendatang.

'Kami akan menolak pemungutan suara, kalau mereka memaksa kami akan walk out,''
katanya kepada wartawan di press room Gedung DPR, kemarin.

Tentang alasan penolakan, calon legislatif (caleg) nomor empat dari DKI Jakarta (caleg 
jadi)
itu menjelaskan, sidang umum MPR mendatang seharusnya tinggal menetapkan kehendak
rakyat mengenai calon presiden. ''Karena rakyatlah yang berdaulat, bukan MPR,'' imbuh 
dia.

Kini rakyat yang berdaulat telah melaksanakan hak melalui pemilu, dan 23,5 juta memilih
Megawati sebagai calon presiden melalui PDI Perjuangan. Dia mengatakan, hasil itu
merupakan suara terbesar dibandingkan dengan perolehan suara partai lain.
(D19,bu,nas-50g)

Kirim email ke