Saudara Priyo, Irwan yang terhormat,
Terima kasih atas tanggapa saudara-saudara atas posting saya. Saya minta
maaf bila ada unsur emosi yang anda rasakan dalam tulisan saya. Tapi
kemudian, ada saya tulis juga bahwa saya pengin lihat langsung script
pembicaraan antara kawan2 kita di Hawaii dengan pak Dubes. Dengan ini saya
bisa menyerang atau menyanggah langsung bukan ?
Saudara Priyo punya pandangan subjectif tentang pak Dubes dan itu saya hargai
dan tidak akan saya ulas. Tapi saudara harus juga melihat bahwa apa yang saya
tulis semuanya bersangkutan dengan tulisannya saudara Roland. Saya memukul
rata kualitas pejabat2 kita karena saya tetap tidak percaya dengan
pemerintahan transisi sekarang ini. Kita belum keluar dari era Orde Baru.
Jatuhnya Suharto hanya kelihatan di badan tapi bukan di jiwa. Masih banyak
koruptor2 bercokol dimana2. Menteri2 dan para wakil2 rakyat di DPR dan MPR
masih penuh dengan bibit pro-Status Quo. Apakah kita bisa berbicara bahwa
orde baru sudah lewat kalau para pelaku2 utamanya masih berada di mana-mana?
Reformasi harus berada dijiwa anda2 semuanya. Yang saya himbau bukanlah untuk
menjatuhkan sang Dubes tapi menyerang apa yang dikatakan tentang masalah2
akhir2 ini. Saya mau melihat pak Dubes memberikan kita informasi yang benar
dan mendetail tentang mengapa PEMILU tetap saja ngadat, saya ingin melihat
Pak Dubes memberikan pandangan yang jujur dan blak-blakan tentang
pemerintahan transisi sekarang ini. Ataukah kawan2 di hawaii yang tidak
sempat menggali informasi tentang hal tsb? Sebagai seorang ambassador, Dubes
kita adalah sumber informasi, channel penting yang tau pasti keadaan di tanah
air. Wajar bukan kalau saya mau penjelasan tentang semua kebohongan2 dan
keteloran yang selama ini tetap saja terjadi di Indonesia. Hal ini yang
selalu saya dapati dalam melihat komment2 para pejabat2 kita di INdonesia.
Terlalu umum dan hati-hati. Seakan-akan tidak berani diserang oleh para
pendengar. Ini yang saya maksudkan sebagai pejabat type "orde baru."
Reformist adalah orang2 yang berani mengambil resiko dan berani menunjukkan
yang mana yang salah dan sebaliknya. Informasi tentang jangan pulang dulu
and kerja di AS itukan semua orang sudah tahu. Saya pun sedang cari kerja
disini, anda pun kalau sekolah di Amerika pasti cari kerja dulu. Keluar dari
mulut pak Dubes yah sama saja keluar dari mulut siapa2. Ya nggak saudara
Irwan? Kalau waktu yang sangat berharga untuk bertemu dengan pak Dubes di
habiskan dengan membicarakan hal2 yang terlalu umum (plus, pak Dubes mau
nggak membicarakan hal2 yang lebih detail) maka saya rasa tidak ada gunanya
saudara2 di Hawaii bertemu dengan pak Dubes. Ini yang saya katakan terlalu
hambar (sorry kalau tukang2 becak merasa tersinggung ... ucapan saya hanyalah
"figure of speech" -- bukan di artikan sebenarnya). Kalau saya boleh tahu,
apa sebenarnya tujuan pak Dubes ke Hawaii ?
Mengenai sanggahan saya tentang mahasiswa Indonesia di US kenapa sebaiknya
pulang (bukan langsung pulang , boleh kerja dulu) ialah bahwa kita punya
kesempatan melihat Indonesias dari luar selama ini. Hal2 ini sebaiknya di
bawa pulang ke Indonesia dan di share dengan kawan kita di sana. Kehidupan
kita disini bukan untuk fashion dan technology semata tetapi juga untuk
melihat system kehidupan kita dimata orang luar negeri dan memperbaiki
moralitas kita yang sudah dicemari oleh pemerintahan orde baru (dari pusat
sampai ke kelurahan2 ). Mahasiswa dari LN adalah contoh konkrit proses
perkembangan negara sendiri. Contohnya, kekerasan dan kesemena2 an ABRI
selama ini ... hal ini biasa saja buat rakyat di Indonesia, tapi tidak bisa
dilanjutkan terus menerus. ABRI harus membayar semua kerugian jiwa dan
material yang selama ini telah di lakukannya. Anda dan saya semuanya tahu
bahwa sebagai negara demokrasi kita semua punya hak mengeluarkan pendapat.
Kalau hak ini di kekang oleh pemerintah , berarti pemerintah telah bersalah
kepada kita. Dan dalam hal ini, ABRI sebagai alat negara, telah banyak
berdosa kepada rakyat Indonesia. Apakah ABRI pernah merasa malu atas fakta2
ini? Saya ragukan, kenapa ? Karena selama orde baru, kebiasaan 2 jelek ini
tidak pernah digubris. Karena disebahagian besar benak masyarakat Indonesia,
hal ini sudah terlalu biasa. Belum puas lagi, coba kita lihat dwi-fungsi
ABRI, kalau pak Dubes seorang yang blak2kan .. coba tanyakan kenapa ABRI
masih saja bercokol didalam DPR/MPR ? Apa peran ABRI dibadan negara tsb ?
Netral ? Kalau netral, ngapain masuk di dalam badan tertinggi negara ? Contoh
berikutnya, saya melihat bahwa modernisasi di Indonesia adalah berpusat
kepada fashion dan pop art dari Amerika. Memakai sepatu NIKE, celana GUESS
dll adalah ciri modernisasi dan tahu melihat perkembangan jaman ? Makan
McDonald, KFC dan lain lain adalah budaya modern (begitu yang saya tangkap
dalam kepulangan saya ke Indonesia) untuk teman2 kita di Indonesia. Sudah
saatnya kita2 yang sudah melihat sendiri ethic kerja, system pendidikan dan
cara berpikir yang progressive yang di junjung tinggi di Amerika di
masyarakatkan di Indonesia. Dalam hal ini (untuk bung Irwan Ariston) saya
tidak mengatakan bahwa "semua" orang Indonesia itu belum berkembang, tetapi
pandangan umum di Indonesia masih seperti di atas. Saya percaya bahwa kita
bisa berkembang dan kita adalah masyarakat luas dan bukan hanya segelintir
orang saya. Modernisasi di dalam otak adalah modernisasi yang sesungguhnya
dan ini yang belum banyak terjadi di Indonesia dan kawan2 kita disana masih
belum sadar. Pengetahuan bahasa inggris adalah sangat perlu karena kita perlu
membaca buku2 yang belum/tidak di terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Hal2
diatas yang ingin saya lihat teman2 kita disini bawa ke tanah air. Kita
semuanya adalah reformist dan ini harus sebab masa depan Indonesia bukanlah
di tangan para pejabat2 di jakarta. Mengenai kemungkinan menjadi
pengangguran, ini hanya berlaku untuk para individual. Tidak ada orang yang
tidak struggle dalam masalah pekerjaan tapi anda boleh juga main safe (bila
or-tu atau kerjaan tetap bisa membiayai) by tinggal di AS dan menimba
pengalaman dulu. Asal ingat saja, anda2 semua dibutuhkan di tanah air untuk
membangun dan memperbaiki citra Indonesia di era globalisasi ini.
Anyways ... apa yang saya sudah tulis diatas adalah tanggapan saya kepada
bung Priyo dan Irwan. Bilamana tulisan ini tidak ada hubungannya dengan
initial comment saya ini berhubung saya tidak mungkin bisa mengulas lebih
jauh tentang ucapan2 pak Dubes berhubung kita tidak punya script yang
lengkap. Sekali lagi, trims atas tanggapannya.
Donald
PS: Sorry kalo tulisan ini terlalu penajang!