Wah bung Irwan, 
Yang menjadi tanda tanya bagi saya, mengapa butuh waktu yang lama bagi dia
untuk bisa menilai penyelewengan Golkar??????saya kuatir ia akan butuh waktu
yang cukup lama pula untuk bisa menilai PDIP. 
apalagi semangat yang ia dapat dari PDIP adalah sama dengan yang ia dapat dari
Golkar pada awalnya ia bergabung.Seperti yang kutipan tulisan:
"Tetapi dalam perjalanan berikutnya, saya merasakan ada yang salah dengan
permainan politik di Golkar. Semangat yang ingin dicapai ketika partai
itu didirikan, di tahun 1968-an, kian jauh. Wawasan kebangsaan yang dulunya
menjadi semangat untuk menumbuhkembangkan Golkar, mulai
memudar. Saya mulai merasa sendirian."

Kalau orang memang bener ia berjiwa pejuang, secara logika ia dengan mudah
dapat mencium ketidak beresan seawal mungkin.Atau mungkin ia mbalelo karena
tidak diberi jabatan eksekutif oleh golkar, itu bisa jadi, mengingat hasil
kerjanya  yang katanya bukan main untuk membesarkan golkar, ini berdasarkan
ucapannya yang merasa "sendirian".

dilain pihak ia mengakui bahwa ia sebelumnya  tidak mampu mendorong
komunitasnya bermain politik yang baik, apakah kepindahannya berarti
menunjukkan kemampuannya?????????

Disamping itu jika kaderisasi Golkar selama ini adalah hasil kerja beliau maka
saya kuatirkan PDIP akan melakukan pola yang sama seperti yang dilakukan oleh
Golkar, lha wong pemikirnya sama kok dengan Golkar, apakah tidak berarti ia
akan menggunakan system yang sama seperti yang ia terapkan ke golkar, dimana
semua pegawai negeri adalah anggota Golkar. 
Wah ini benar benar mengerikan.

Apapun alasannya, pantas aja jika orang lain menilai dia sebagai kutu loncat.
Meskipun ia seorang yang kuat daya ciumnya terhadap ketidak beresan suatu
partai, akan tetapi saya salut pada beliau atas kekuatan daya ciumnya untuk
memprediksi kejayaan dan kejatuhan suatu partai. Ini terbukti dari
keinginannya untuk bergabung dengan Golkar, ketika ia mencium bahwa Golkar
akan menjadi partai yang berjaya, dan ketika ia mencium Golkar akan jatuh,
maka ia memutuskan keluar. 

Dan sekarang ia sekali lagi membuktikan ketajaman penciumannya bahwa PDIP akan
berjaya. Saya salut dan angkat topi Pak Tobing.

yuni


Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
http://www.mediaindo.co.id/publik/1999/07/10/SEC17.html

Bersama Megawati Ingin Mengukir Sejarah Baru

PEMAHAMAN Jacob Tobing terhadap praktek politik di Indonesia, mungkin sulit
ditandingi. Sebab pada dirinya melekat kemampuan multiguna:
cendekiawan (bergelar Master of Public Administration), dan praktisi politik
dengan spesialisasi pengembangan organisasi.

Di Golkar, yang kemudian berubah menjadi Partai Golkar, ayah empat anak
kelahiran Padang ini, selalu diberi tanggung jawab pada bidang rekrutmen,
keorganisasian, dan kaderisasi. ''Pertama kali masuk Golkar tahun 1984-an,
saya berada di bawah Pak Jacob Tobing di KKO (Kaderisasi, Keanggotaan,
dan Organisasi). Jadi saya tahulah bagaimananya,'' ujar Ketua Departemen
Pemenangan Pemilu Partai Golkar Rully Chaerul Azwar.

Selain ada di 'jantung'-nya Golkar, Jacob Tobing dipercaya sebagai wakil
rakyat, sejak tahun 1968. Dia duduk di Senayan sejak zaman MPRS hingga
1997. Jadi enam periode tanpa henti.

Dengan kapasitas seperti itu, Jacob memutuskan untuk meninggalkan Golkar
tahun 1996. Setahun kemudian, secara formal dia menyatakan
bergabung dengan kubu Megawati Soekarnoputri.

Respons masyarakat waktu itu macam-macam, ada yang menilai, itu sebagai
langkah strategis, tetapi banyak juga yang menyebutnya sebagai kutu
loncat. ''Yah, saya mendengar semua itu. Tetapi ada beberapa faktor yang
mungkin tidak diketahui secara luas, mengapa saya sampai pada
keputusan itu. Tetapi itu semua menjadi cambuk bagi saya untuk terus
megabdikan diri di PDI Perjuangan,'' ujarnya.

Pada pemilu kali ini, Jacob Tobing masuk dalam daftar caleg PDI-P dari daerah
pemilihan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Berdasarkan
penghitungan yang dilakukan PPI kemarin, di daerah itu, partai pimpinan
Megawati Soekarnoputri ini, meraup suara yang cukup untuk menutup
bilangan pembagi. Artinya, Jacob lolos ke Senayan.

''Saya tidak tahu apakah benar atau tidak, saya juga tidak tanya ke DPP. Bagi
saya, keanggotaan di DPR itu bukanlah target politik. Saya sudah
senang dengan kebersamaan di PDI-P, karena spiritnya luar biasa,'' katanya.
Apa yang mendorongnya bergabung dengan PDI-P dan apa
harapannya? Berikut penuturannya kepada Media.

Keterlibatan saya di Golkar, memang sudah sangat lama. Ya, hampir 30 tahun.
Sejak 1968-an saya sudah masuk di organisasi ini, karena itu sedikit
banyak, saya tahu tentang 'dalamnya' Golkar.



Kegundahan saya itu menjadi kian mengkristal karena berbagai peristiwa
politik, di antaranya yang menonjol adalah ketika Megawati Soekarnoputri
dilengserkan dari posisinya sebagai Ketua DPP PDI. Kondisi itulah yang
mendorong saya dan teman-teman mendirikan Yayasan Kesatuan dan
Persatuan. Di dalamnya ada KH Abdurrahman Wahid, Bambang Triantoro, Kharis
Suhut dan lain sebagainya. Ini terjadi di tahun 1996, dalam posisi
saya masih sebagai anggota DPR.

Singkat kata, karena saya merasa sudah tidak bisa lagi bersama dengan Golkar,
maka tahun itu pula saya kian intensif melakukan diskusi dengan
orang-orang PDI Mega. Ada Kwik Kian Gie, Sabam Sirait, dan lain sebagainya.
Akhirnya, saya diterima sebagai anggota PDI Mega dan duduk sebagai
Wakil Ketua Balitbang menggantikan Prof Dr Mucthar Buchori.

Di PDI Perjuangan, saya merasakan adanya semangat kebersamaan yang luar
biasa. Mereka semua satu visi, yaitu ingin mewujudkan Indonesia lebih
baik, tanpa membincangkan apa yang bakal mereka peroleh. Dengan situasi itu,
saya merasakan kegairahan yang saya alami ketika berusia 35
tahun. Saat itu, saya ikut ambil bagian bagi kelahiran Golkar.

Persamaan semangat inilah yang membuat saya merasa bahagia, sekaligus ingin
mengurangi rasa salah karena tidak berdaya mendorong komunitas
saya untuk memainkan politik secara baik.

Sudah barang tentu, ketika saya bergabung dengan PDI, ada banyak komentar.
Tetapi komentar yang paling umum adalah apakah saya akan
membocorkan rahasia-rahasia yang dimiliki Golkar untuk mengembangkan PDI
Perjuangan. Sampai saat ini, saya masih memegang etika bahwa apa
yang saya kembangkan di PDI-P adalah untuk mewujudkan masa depan yang lebih
baik. Jadi, saya merasa tidak bertanggung jawab dan amoral jika
melakukan hal seperti itu.

Dalam perjalanan selanjutnya, saya semakin merasa muda bersama dengan PDI-P.
Ini karena semangat yang dimiliki kader-kader PDI-P luar biasa
besarnya. Militansi mereka juga luar biasa. Saya masih ingat, bagaimana
kediaman Megawati dipenuhi oleh massa di setiap acara-acara kerohanian.
Ini sungguh membahagiakan.

Militansi itu juga muncul ketika mereka menghendaki agar Megawati menjadi
presiden. Dan saya rasa, kans Mega untuk itu sangat besar. Karena
bagaimanapun juga, kader-kader PDI-P yang lolos ke Senayan mempunyai tanggung
jawab moral untuk melancarkan jalan Mega menuju istana. Hal
itu sekaligus merupakan amanat dari rakyat, yang tercermin dari hasil pemilu.
(Edi/P-4)


____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at 
http://webmail.netscape.com.

Kirim email ke