Irwan Ariston Napitupulu <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
In a message dated 7/10/99 1:07:20 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> He..he.. gue tahu deh..........
>  tapi ya mbok nyadarin bahwa melek politik bukan berarti cuma milih partai
> non
>  agamis.

Irwan:
Masih belum kapok2 juga ya bikin pernyataan sendiri
sehingga seolah2 itu pernyataan asal dari orang lain
dalam hal ini dubes.....:)
Tulisan2 seperti ini nih yg saya sering bilang suka
terlalu cempat ambil kesimpulan.

Kayaknya tulisan "melek" politik itu menjawab tulisan anda yang terdahulu,
sayang sekali saya nggak ada kopinya lagi, hanya seingat saya anda menyebut
nyebut buta politik. 

Nih, gue kutipin lagi deh posting laporannya bung
Ronald:
-----kutipan posting awal bung Ronald----
Tentang politik, rakyat Indonesia sebetulnya udah
berpikiran lebih maju dan terbuka karena kalo dilihat
dari pemilu contohnya,  partai yang andalannya cuma
agama Islam aja atau Kristen doang atau religious
group banyak yang
nggak dipilih karena seperti yang kita
tahu rakyat Indonesia sekarang lebih pentingin gimana
supaya bisa kerja lagi dan makan ayam tiap hari.
----------akhir kutipan------

Adakah dinyatakan di atas bahwa hanya mereka
yg milih partai non-agama adalah yg melek politik?

Tidak ada tapi dikatakan diatas bahwa 'rakyat telah berpikiran"maju"', kalau
kita tanya alasannya apa, jawabnya 'karena  partai agama nggak terpilih'
alasan ini khan aneh.nggak sinkron ditambah lagi, karena rakyat pentingin
kerja dan makan ayam. Secara logika membawa kita berpikir oh jadi kalau partai
yang menang di Indonesia itu partai agamis, berarti kesejahteraan sosial akan
menurun. Apakah saya salah dn mengartikan sesuatu????????

Nah akan lain lagi pemikiran saya jika Pak dubes menjelaskan alasannya, karena
politik berjalan dengan lancar, tertib , tidak ada kerusuhan,dll sehingga
menujukkan bahwa rakyat memang sudah mempunyai pemikiran politik yang maju.Ini
ada sangkut pautnya dan sebab akibatnya. Tapi kalau contoh alasan karena
mereka milih yang non agamis, tentu saja nggak masuk akal, sebagai bukti
kemajuan politik rakyat.

Bandingkan dengan pernyataan anda dulu yg mengatakan
rakyat/pendukung PDIP itu pada buta politik.
Dengan kata lain hanya pemilih yg non-PDIP saja yg melek
politik. Pernyataan anda dulu yg menurut saya
aneh bin ajaib.....:)

Jelas buta, meskipun nggak buta seluruhnya, seperti anda pasti melek. Cuma
problemnya saya khan sudah ceritakan sebelumnya. 


Yuni:
>  Gue nyadarin, mereka itu milih partai non agama karena memang mereka itu
>  sekuler, aku nggak bilang agama tertentu lho, semuanya. Itu sih nggak jadi
>  masalah karena itu memang hak dan kepercayaan mereka.

Irwan:
Nah, khan lagi2 anda ngegampangin bikin kesimpulan
sendiri.  Gue pinjem kata2 loe deh:
"Apa memang mereka yg milih partai agama saja yg pasti
tidak sekuler?"

Apa sih artinya sekuler bagi anda??????????????????Kalau dari sudut pandang
saya  sekuler, pemisahan antara agama dan kekuasaan serta pemerintahan negara.


Coba lihat lagi, anda telah menghakimi keimanan seseorang,
keimanan pemilih2 partai non-agama. Kalau di agama saya,
tindakan anda ini bisa dikategorikan berdosa besar karena
sudah menghakimi keimanan orang lain yg bukan otoritas manusia.
Yang paling tahu hubungan seseorang dengan penciptaNya,
hanya dia sendiri dan Tuhan-nya. Bukan anda, bukan manusia,
bukan kyai, bukan pendeta.


Saya tidak pernah menilai ibadah seseorang terhadap Tuhan mereka, karena saya
tahu itu urusan pribadi mereka dengan Tuhannya. Ini khan urusan menyangkut
negara. 

Sekulerisasi memang menyangkut keimanan seseorang terhadap Tuhannya. Setahu
saya, semakin seseorang itu beriman,dan cinta akan Tuhannya maka semakin
sulitlah ia menanggalkan kehidupan agamisnya dari kehidupan sehari harinya,
termasuk pada pemerintahan.Tapi saya tidak menyinggung masalah ini saya hanya
melihat dari unsur ketata negaraan.

Bahkan dari program kerjanya PDIP sendiri, justru akan memisahkan unsur agama
dengan pemerintahan. Jadi jangan salhkan saya kalau menyebut Indonesia sebagai
sekuler. Dan saya melihat sesuatu sesuai dengan penampilan mereka. Kalau
sekarang ini rakyat Indonesia memperlihatkan penampilan mereka yang yang lebih
cenderung memilih partai non agama dibanding partai agama, apakah itu tidak
boleh dikatakan sebagai sekuler.

Yuni:
>  Atau karena memang
>  partai agama tersebut nggak bisa dipercaya oleh mereka atau karena menurut
>  penilaian mereka partai agama tersebut terdiri dari orang orang munafik
>  terhadap agamanya, siapa tahu.

Irwan:
Dalam posting awal yg saya kutipkan di atas jelas
termuat perkiraan dubes yg mengatakan bahwa
rakyat tampaknya lebih pentingin dapat kerja/penghasilan
dan terpenuhi kebutuhan pangannya.
Jadi tidak bisa langsung diartikan bahwa urusan agama itu tidak
penting bagi mereka, hanya saja tampaknya mereka
menaruh prioritas urusan kerjaan dan pangan ketimbang
urusan agama karena mungkin mereka berpikir urusan
agama mereka ngga ada masalah karena mereka sadar
itu urusan pribadinya dengan sang Penciptanya dan bukan
urusan orang lain.

Itu menurut saya disebut sekuler. 

Apakah rakyat tidak percaya dengan orang2 yg ada
di partai2 agama? Hal ini tidak dijelaskan. Yang jelas,
rakyat lebih percaya pada partai2 yg sudah mereka pilih.
Lebih percaya bukan berarti otomatis ke partai lainnya
mereka tidak percaya lho.

Boleh, nggak ada yang bisa protes untuk itu. Tetapi ini bukan jawaban untuk
pertanyaan mengapa rakyat Indonesia lebih maju politiknya.

Kalau mau ditilik lebih jauh lagi, sebenarnya saya perhatikan
rakyat tuh lebih memilih partai2 yg jelas2 berseberangan dengan
Golkar. Kalau yg masih kabur2 dan plin-plan, mereka takut
milihnya. Mereka takut kalau sampai Golkar kembali yg
menang. Jadinya mereka yg berfokus deh milih PDIP, PKB, PAN.
PRD sebenarnya salah satu alternatif pilihan tapi mungkin
mereka takut kalau nanti suara mereka terbuang sia2 kalau
disalurkan ke PRD dan nantinya ngga mencukupi untuk
mendapatkan kursi. Nah, karena mereka mikirnya hanya
agar Golkar tidak menang, akhirnya mereka memilih
satu dari ketiga partai PDIP, PKB, PAN.
PAN sebenarnya favorit mendapatkan suara cukup tinggi,
tapi sayangkan Amien Rais melakukan kesalahan fatal
dengan sempat mengomentari pemimpin dari salah satu
tiga partai itu (Megawati). Ini kesalahan fatal yg saya pantau
yg mengakibatkan banyak orang jadi ragu2 memilih PAN
karena takut nanti suaranya tidak dipakai untuk mendukung
pemimpin dari salah satu partai PDIP, PKB, PAN.
Kenapa PDIP menang telak dari pengumpulan suara?
Menurut saya karena PDIP sebelumnya sudah punya
massa tetap (PKB dan PAN partai baru), trus ditambah
lagi dari rakyat yg memang ngga pengen Golkar menang
dan orang2 yg tadinya mau milih PAN jadi beralih ke PDIP
setelah kesalahan fatal dari Amien Rais akhir2 kampanye.
Tapi untunglah Amien Rais segera menyadari dan segera
memperbaiki kesalahan tersebut. Tinggal kini ditunggu
kekonsistenan Amien Rais. Bila Amien Rais konsisten,
saya yakin peluang Amien Rais atau tepatnya PAN pada
pemilu tahun 2004 menjadi semakin besar karena rakyat
tidak akan melupakan begitu saja apa yg akan dia lakukan
kini. Singkatnya, apa yg akan PAN lakukan saat ini
akan dicatat oleh rakyat untuk pemilu 2004 mendatang.

Anda benar, saya setuju.

Berhati2lah terhadap rakyat Indonesia. Walau kelihatan
anteng2 saja, tapi kalau sudah ngamuk cenderung nekad
dan susah untuk ngebendungnya.

Ha..ha.. emangnya saya juga bukan rakyat. Tapi saya nggak pernah ngamuk dan
nekad.

Yuni:
>  Gue yakin (biar adil) kalau partai kristen yang kepilih (misalnya)rakyat
> juga
>  bakal makmur. Bahkan mungkin nggak banyak kriminal, karena penyadaran
> agamanya
>  tinggi tidak ada korupsi, karena semuanya telah diberi tahu bahwa tindakan
>  seperti itu adalah dilaknat Tuhan......iya nggak siapa tahu.

Irwan:
Bagaimana pengalaman negara2 Islam dan Kristen
yg anda ketahui? Saya sengaja ambil contoh negara
agama dari sekedar partai2 agama yg menang.
Apakah perilaku rakyatnya seperti yg anda sebutkan
di atas seperti ngga banyak kriminal, ngga ada korupsi, dll?

Sementara ini memang sulit untuk memberi contoh negara yang partai agamanya
menang, kecuali itu negara agama seperti halnya Vatikan, Mesir, Iran dsb..
Tapi kalimat saya yang diatas itu hanya sekedar memberikan suatu gambaran
andakaita....jika... bagaimana kalau  misalnya....siapa tahu....dll.Dan saya
nggak berpijak pada contoh salah satu negara. Saya hanya menggaris bawahi
bahwa partai non agamis tidak selalu berita baik bagi rakyat, begitu pula
sebaliknya, partai agamais tidak selalu berita buruk bagi rakyat.

AS bukan negara agama tapi tingkat kriminalitas dan korupsinya
boleh dibilang jauh lebih rendah dibanding di Indonesia.
Kenapa?

Menurut saya, karena ada supremasi hukum. Hukum
punya kekuatan dan posisi yg tinggi. Bandingkan dengan
di Indonesia. Itulah sebabnya, saya sangat mendukung
perjuangan Megawati yg ingin menegakkan kembali
hukum. Hukum harus berfungsi. Selama ini banyak pihak
dan juga aparat hukum yg sudah memperkosa hukum.

Oh ya, MS menegakkan hukum, bagus deh tapi pertama ia harus mentaati hukum
dulu dong baru teriak tegakkan hukum. Masa, partainya sendiri nggak naatin
hukum, ia teriak untuk negakin hukum, bukannya maling teriak maling
tuh????????

Yuni:
>  Dan itu tidak  berarti rakyat juga nggak buta politik, masa kalau partai
> agama
>  yang terpilih berarti rakyatnya buta politik. Mana ada sih partai yang
>  berusaha kampanye, ini lho kalau kamu pilih partaiku, maka kamu akan makan
>  cuma sekali sehari itu pun cuma pakai kecap dan krupuk.

Irwan:
Coba tanyakan ke rakyat, lakukan survey, kenapa mereka lebih memilih
partai non-agama ketimbang partai yg sesuai dengan agama mereka
padahal sama2 akan dikasih makan?
Normalnya khan mereka akan memilih partai agama toh?
Tapi kenapa tidak dilakukan?

Jawabannya ada beberapa:(maaf,ini saya bicara dari sudut pandang Islam, saya
nggak tahu agama lain dan kebetulan mayoritas penduduk Ina adalah Islam)
1.Karena pengetahuan agama mereka tidak cukup, sehingga banyak hal yang
seharusnya menjadi bagian dari agama ternyata tidak mereka lakukan, karena
mereka tidak tahu.
2. Karena mereka dengan sengaja tidak mau menjalankan agamanya secara utuh,
ini berlaku untuk orang yang sudah tahu banyak ajaran agamanya tetapi tidak
mau atau enggan untuk menjalankan. (termasuk saya sendiri, maaf)

Karena mereka berpikir, mereka punya pendapat sendiri,
dan inilah yg dikategorikan oleh dubes bahwa rakyat
Indonesia dalam pemilu kemarin sudah berpikiran LEBIH
maju. Ini bukan berarti kalau seandainya rakyat Indonesia
lebih banyak yg milih partai agama lalu tidak berpikiran
maju. Bisa saja tetap berpikiran maju.
Yang mau ditekankan oleh dubes itu, ternyata walau
normalnya rakyat Indonesia seharusnya memilih partai agama,
tapi ternyata mereka lebih memilih partai non-agama
dengan alasan2 yg mereka anggap benar. Rakyat sudah
mau berpikir dan berani mengeluarkan pendapat walau
pendapatnya itu bisa jadi di luar normal. Dibutuhkan
keberanian dan ketegasan sikap untuk melakukan
pilihan pada partai non-agama apalagi bila diingat
kampanye2 yg sering membawa agama tertentu
dengan mengkaitkan2nya ke soal ibadah.
Bukankah seharusnya rakyat akan takut dan akan
mengikuti arahan tersebut?
Fenomena pemilu Indonesia kemarin itu bisa dibilang
unik, jangan bandingkan dengan pemilu2 lainnya.

Jawaban anda ini tampaknya mendukung penjelasan penjelasan saya diatas.

Walau demikian, saya menyadari bahwa mungkin
diantara kita bisa punya sudut pandang yg berbeda.
Bagi anda mungkin rakyat Indonesia yg milih partai
non-agama itu termasuk orang sekunder atau malah
anda mau kategorikan mereka sebagai orang2 yg
di luar agama karena sudah tidak memperjuangkan
agamanya? Mudah2an anda tidak punya pemikiran
demikian.

Saya tidak punya masalah bagi Indonesia mau jadi negara agama atau tidak,
karena Indonesia adalah suatu negara dimana rakyat banyak terlibat di
dalamnya. cuma dalam urusan kenegaraan memang ada istilah sekuler sehingga
saya menggunakannya karena istilah itu sudah tersedia dan cocok untuk kondisi
saat ini.

Yuni:
>  Jadi saya kok jadi nggak enak gitu lho mendengar partai agama(agama apapun)
>  disinggung seperti itu. Lagi pula pemerintahan baru hasil pemilu tahun ini
>  khan belum berjalan, bagaimana mungkin kita sudah tahu bahwa rakyat akan
> makan
>  ayam, siapa tahu malah akan babak bunyek.

Irwan:
Mungkin saja rakyat Indonesia akan lebih susah.
Tapi tampaknya rakyat sudah siap menerima resiko atas
peluang yg ada ketimbang harus dibawah Golkar lagi yg
jelas2 sudah bikin rakyat susah, rakyat menderita, banyak
yg diburuin, banyak yg ditekan, dirampas tanahnya,
dikorupsi dana2 yg seharusnya buat mereka, dst.

Lebih baik memilih salah satu dari 3 kucing dalam
karung ketimbang memilih 1 kucing luar karung yg
sudah jelas2 tampak borok2nya.
Ini mungkin filosofi yg dipakai oleh rakyat.
Saya pun juga akan melakukan hal yg sama dalam
kehidupan sehari2.

Saya hormati hak pilih anda.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu


____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at 
http://webmail.netscape.com.

Kirim email ke