Assalamu'alaikum w.w 

  Artikel dibawah ini dari media Indonesia, ditulis oleh H.H.Al-Banjari. 
  Intinya sebuah pertanyaan kepada yth Ibu Mega. 
  Nah,...di mailis ini kita semua boleh bicara apakah kapasitasnya sebagai: 
  - pendukung partai PDI-P 
  - pendukung kandidat capres Megawati Sukarnoputri 
  - pengamat politik professional atau amatiran atau `pubertas' politik. 
  - simpatisan PDI-P dan Mega sebagai Capres 
  - atau sekedar pelengkap penderita diskusi politik di siayasah ini saja. 
  Apakah anda setuju atau tidak dengan tulisan pak Al-Banjari ini, 
  monggo..... 

  Wassalam, 
  Wasi'an/Swansea. 

  Media Indonesia, Kamis, 15 Juli 1999 

  Menanti Ibu Mega Bicara 
  Oleh : Husin M Al-Banjari, Alumnus Technical 
  University of Braunschweig, Germany; Ketua Yayasan Muslim Alumni Eropa 
  di Bandung 

  BENARKAH Ibu Mega mau dan bersedia menjadi kandidat presiden? Atau hanya 
  keinginan segelintir elite kepentingan? Pertanyaan ini kita tujukan 
  khusus kepada yang terhormat Ibu Mega. Tidak sama sekali ditujukan 
  kepada fungsionaris atau simpatisan PDI Perjuangan (PDI-P) mana pun. 
  Apalagi kepada pengamat partisan yang provokatif. Kita butuh jawaban 
  orisinal dari Ibu Mega langsung alias tanpa perantara. Kita sudah bosan 
  mendengar jawaban-jawaban dari orang-orang sekeliling Ibu Mega dan 
  pengamat partisan yang sering kurang bijak dan malah tidak bersahabat. 
  Kita, rakyat, sangat ingin tahu siapa sebenarnya yang ambisius menjadi 
  kandidat presiden keempat RI itu; Ibu Mega atau orang di sekelilingnya? 
  Pertanyaan ini perlu diujikan karena melihat gelagat yang seolah-olah 
  Ibu Mega sendiri ''ogah'' atau ''terpaksa mau'' menjadi kandidat 
  presiden keempat RI. Gerak-gerik Ibu Mega sendiri tidak menunjukkan 
  minat kepada publik untuk menjadi kandidat presiden. Layaknya seorang 
  yang memposisikan dirinya sebagai kandidat presiden, semisal Amien Rais 
  dan Sri-Bintang Pamungkas, tampak begitu sibuknya mereka ''menyetel'' 
  diri secara maksimal, termasuk dalam membangun komunikasi dengan luar 
  negeri dan pers. Ibu Mega tidak. Yang ramai berteriak-teriak orang lain. 

  Ibu Mega tampak begitu anteng, bergeming dengan ''setelan'' kandidat 
  itu. Padahal secara etika politik, seperti diungkapkan Prof Bagir Manan, 
  Ibu Mega memiliki kesempatan paling besar. Justru yang banyak memasang 
  stil-yakin malah para pendampingnya. Dari fenomena ini wajar kalau orang 
  mendapat kesan kontradiktif, siapa yang mau jadi presiden: Ibu Mega atau 
  elite? 
  Bagi sebagian elite PDI-P pertanyaan ini mungkin dirasa provokatif, atau 
  sebagaimana biasa dianggap ''mengganjal Mega presiden''. Jika disimak 
  dengan hati bersih sebenarnya pertanyaan itu sangatlah wajar, tak ada 
  hal-hal yang patut dipersoalkan, tinggal dijawab saja oleh Ibu Mega. 
  Coba kita ''rasakan'' jika pertanyaan itu kita tujukan kepada Mas Amien 
  Rais, ''apa benar hati nurani Mas Amien bersedia menjadi kandidat 
  presiden keempat RI?'' Amien atau Bintang akan menjawab antusias 
  pertanyaan serupa ini. Tidak ada yang ''merasa'' terganjal. Baik diri 
  sang kandidat maupun para elite pendukungnya tak akan ada yang merasa 
  tersinggung. 
  Persoalannya amatlah primitif. Tinggal mereka mengupayakan agar Ibu Mega 
  ke depan untuk menjawabnya. Itu saja. Jangan mereka yang menjawab, sebab 
  pertanyaan itu sama sekali bukan hak mereka. Bukan pula hak para opinion 
  makers, para simpatisan PDI-P, atau kita. Yang berhak menjawabnya 
  hanyalah Ibu Mega tunggal, sendiri. Kita punya kekhawatiran, jika mereka 
  lagi yang menjawab, lagi-lagi terjebak retorika meminjam istilah Prof 
  Syafii Ma'arif, premanisme. Jawaban mereka sering terkesan hanya 
  marah-marah dan bernada intimidatif, bahkan bisa di luar dasar hukum 
  (Republika, 10/7). 
  Hanya suara tak langsung 
  Jawaban murni dari Ibu Mega dinanti oleh segenap lapisan bangsa. 
  Akhirnya Ibu Mega harus bicara. Sekian puluh juta orang ingin mendengar 
  suara (langsung) Ibu Mega dalam debat capres. Ibu Mega harus membuat 
  klarifikasi dari pertanyaan ini dan pertanyaan senada, juga menerangkan 
  sekian pertanyaan tentang arah pembangunan bangsa ke depan, jika niat 
  ingin jadi presiden itu benar-benar keluar dari dirinya sendiri. Kita 
  sudah bosan hanya mendengar suara-suara indirect Ibu Mega melalui 
  wajah-wajah bersama jawaban-jawabannya yang kurang akrab, yang kita 
  sendiri belum tentu yakin apakah seperti itu yang keluar dari Ibu Mega. 
  Kita ingin menumbuhkan berpikir sehat di negeri ini. Pendidikan politik 
  bagi publik merupakan keharusan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi, jika 
  kita mau maju dan bila kita ingin mengembangkan ''demokrasi''. Sesuai 
  namanya, Partai ''demokrasi'' Indonesia memiliki visi demokratisasi di 
  Indonesia. Salah satu implikasi sikap demokratis adalah terbuka atau 
  transparan, termasuk mau menjawab pertanyaan-pertanyaan kenegarawanan di 
  muka umum. Cara-cara perjuangan politik yang mengesankan kurang fair, 
  misalnya dengan taktik meminjam istilah Eep menjual kucing dalam karung, 
  akan menjadi bom waktu bagi PDI-P sendiri. 
  Membangun pertautan elite-rakyat menjadi sebuah keniscayaan untuk 
  seorang kandidat semisal Ibu Mega. Kita tidak berpretensi Ibu Mega 
  keberatan dengan tuntutan, atau tepatnya tantangan seperti ini tapi 
  mengapa terkesan ''dihalang-halangi'' oleh sejumlah tokoh, hingga seolah 
  hanya mereka yang ''berhak'' berbicara. 
  Dialog rakyat dengan pemimpinnya harus dibangun, pertautan elite dan 
  rakyat, kata Limas Suranto, wajib dijalin jika Ibu Mega benar-benar mau 
  dan bersedia menjadi kandidat presiden. Sebuah tuntutan wajar dalam 
  demokrasi. Jangan sampai urusan begini saja ditafsirkan tidak wajar. Dan 
  ada keyakinan dalam diri kita, bahwa yang ditanya pun (dalam hal ini Ibu 
  Mega) akan sanggup memberi jawaban bijak. Mengapa tidak diberi 
  kesempatan? 
  Inilah persoalan dilematis paling besar yang akan dihadapi Ibu Mega 
  dengan partai banteng gemuknya. Persoalan paling potensial terletak pada 
  ambisi-ambisi internal di luar dirinya. Apakah Ibu Mega mampu meredam 
  dan menyalurkan semua aspirasi mereka itu? Atau hanya sebagai 
  ''kendaraan'' belaka bagi elite tertentu sebagaimana disinyalir oleh 
  Hartono Mardjono (Republika, 15/6)? Semuanya masih tanda tanya. 
  Mengapa tidak bersedia? 
  Jika kita boleh menebak, ada beberapa alasan mengapa kiranya Ibu Mega 
  tampak tidak begitu gairah menjadi kandidat presiden. Pertama, hasil 
  olah pikir rasional dari Ibu Mega sendiri yang mengedepankan fakta bahwa 
  sebagian besar umat Islam masih berpendirian menolak presiden wanita. 
  Ibu Mega tampaknya menyadari benar posisi dirinya yang akan sulit 
  mengakses sebagian besar umat Islam. 
  Kedua, Ibu Mega tampaknya menyadari sistem demokrasi kita yang berbeda 
  dengan demokrasi di negara lain. Dalam perhitungan Ibu Mega, suatu 
  partai dengan perolehan suara sekitar 34% DPR (22% MPR) belum jaminan 
  bahkan masih jauh secara hukum untuk menjadi presiden. Angka tertinggi 
  itu baru memberikan kesempatan terbesar untuk kandidat presiden secara 
  etik, belum secara hukum. PDI-P membutuhkan sekurangnya 29% dukungan 
  tambahan suara di MPR. Dan hal ini pasti disadari oleh Ibu Mega tidak 
  mudah. Caranya yang tepat dan prosedural untuk bisa meraih cita-cita itu 
  menurut Bagir Manan adalah dengan jalan ''harus diusahakan sendiri (oleh 
  PDI-P) dan kalau PDI-P gagal memperoleh dukungan itu, ia harus 
  menyalahkan dirinya sendiri bukan orang lain''. Karena itu, guru besar 
  Unpad ini menyarankan agar PDI-P berjuang lebih dulu dan jangan 
  mengedepankan sikap apriori (Republika, 10/7). 
  Jadi pada sistem demokrasi kita, tepatnya menurut UUD 45, keputusan 
  jadi-tidaknya presiden bukan pada pemilu tapi pada Sidang Umum (SU) MPR. 
  Realitas demokrasi kita yang demikian ini pasti disadari benar oleh Ibu 
  Mega, sebab UUD 45 toh dirancang oleh, salah seorangnya, adalah 
  ayahandanya sendiri, Bung Karno. Apalagi sebagian pakar menilai, bahwa 
  PDI-P tidak begitu antusias dalam mengamandemen UUD 45. 
  Ketiga, rupanya Ibu Mega sepenuhnya menyadari tidak perlu ada premanisme 
  dalam politik. Eksekusi penentuan presiden bukan di jalanan, bukan pula 
  secara sederhana pada rapat partai. Bukan pada pernyataan pers, bukan 
  pada teken darah, tapi pada SU MPR. Yang harus ia lakukan adalah melobi 
  partai lain, sebab partai sendiri tak akan mampu mengegolkan dirinya 
  tanpa bantuan partai lain. Suara 22% MPR adalah terlalu kecil untuk 
  membangun optimisme berlebihan. 
  Seperti diungkapkan oleh Dr Moh Mahfudz MD, ''Kemenangan PDI Perjuangan 
  yang baru 34% belum dapat digunakan untuk 'memaksa' anggota MPR lain 
  agar menetapkan Megawati sebagai presiden'' (Republika, 10/7). Inilah 
  realitas demokratis kita. Membuat pernyataan di luar ini adalah suatu 
  upaya yang mencerminkan kurang menghargai bobot intelektualitas mereka 
  sendiri. 
  Keempat, sikap Ibu Mega yang diam itu mungkin sekali sulit menempatkan 
  sikap dirinya terkait dengan perilaku politik para pendampingnya. Ibu 
  Mega memilih diam seribu basa. Mereka demikian berani berbicara 
  mengatasnamakan Ibu Mega, bahkan terkesan seolah Ibu Mega sendiri tidak 
  diberi kesempatan untuk menanggapi sendiri isu-isu yang beredar. Semua 
  pernyataan terkait dengan kepentingan politik Ibu Mega diborong sendiri 
  oleh orang-orang yang berada di sekelilingnya. 
  Ibu Mega bicaralah! Ungkapkan nuranimu kepada bangsa ini. Katakan ''ya'' 
  kalau memang ingin maju menjadi kandidat presiden. Atau jangan segan 
  untuk berkata ''tidak'' kalau memang ingin mundur. Tidak ada hal aib di 
  antara keduanya. Sudah cukup lama kami menanti jawaban dari Ibu 
  Mega.***(A-2) 


____________________________________________________________________
Get your own FREE, personal Netscape WebMail account today at 
http://webmail.netscape.com.

Kirim email ke