Believe it or not... :-)



Kompas
------

Sabtu, 17 Juli 1999

Pasukan Indonesia "Serbu" Australia

"PROKLAMASI. Dengan ini saya umumkan, wilayah yang selama ini
disebut Australia Barat, telah bergabung ke Republik Indonesia dengan
memakai nama baru, Irian Selatan. Polisi akan memulihkan kamtibmas
dan kepada semua warga sipil diingatkan, tentara Indonesia akan
menumpas segala macam bentuk perlawanan. Kecuali itu juga
diumumkan, sejak tengah malam tadi, Jenderal Sudorno ditetapkan
sebagai Gubernur Militer dengan kekuasaan mutlak. Hal ini dilakukan
untuk melestarikan proses integrasi damai yang sedang berlangsung."

Pernyataan mengejutkan ini disampaikan Gubernur Australia Barat lewat
pemancar ABC dari Perth, menyusul keberhasilan operasi militer yang baru
saja dilakukan Indonesia. Rincian operasi untuk membebaskan Australia
adalah sebagai berikut.

Dengan gerak cepat pasukan komando Indonesia dipimpin Kapten Ali
Behari mendarat di Bandara Perth. Pasukan kemudian bergerak ke kota,
memakai beberapa truk yang sebelumnya sudah disiapkan oleh satuan
intel. Seiring dengan keberhasilan pendaratan, secara serentak operasi
militer serupa juga tertuju terhadap sejumlah pangkalan RAAF, Angkatan
Udara Australia.

Satu-satunya korban di pihak Indonesia terjadi di Darwin, saat seorang
prajurit digigit anjing penjaga pangkalan. Tetapi, hanya dengan satu
korban luka ringan, pasukan komando Indonesia dengan menggunakan
pesawat Boeing 747 Garuda, segera menguasai pangkalan RAAF. Sesudah
landasan dikuasai, Indonesia segera mendatangkan pesawat angkut
Antonov eks Rusia.

Kesulitan ekonomi yang baru saja melanda, ternyata tidak menyurutkan
kemampuan militer Indonesia. Perth, ibu kota Australia Barat, adalah kota
pertama yang diduduki pasukan Indonesia. Penyerbuan berlangsung
mendadak, karena pesawat pengangkut mengikut di belakang pesawat
Qantas yang sedang menjalani penerbangan rutin Bali-Perth.

Pemandangan memilukan terlihat ketika sejumlah prajurit Australia
bercelana kolor atau selimut tidur, menyerah dengan menaikkan tangan ke
atas. Mirip pemandangan di Singapura pada waktu pasukan Inggris
menyerah kepada Jepang, awal Perang Dunia II.

Pada awalnya Pemerintah Federal Australia memang tidak bersedia
menyerah. Sidang kabinet darurat berlangsung di Canberra. Dengan nada
keras Perdana Menteri Australia berteriak, "Apa saja kerja kalian? Kita
diserbu pasukan Indonesia, usir mereka sekarang juga. Hancurkan mereka..."

Panglima militer menjawab, "Tidak mungkin musuh dihancurkan dengan
bom, karena yang bakal jadi korban penduduk kita sendiri. Apalagi, musuh
sudah mengumumkan, setiap perlawanan akan ditumpas habis. Musuh
punya rudal, kita tidak punya. Pasukan musuh sangat besar, kita minim
pasukan. Mereka sudah telanjur menguasai sebagian besar pangkalan
RAAF, darimana kita bisa membalas serangan?"

"Jadi, tak ada lagi yang bisa dilakukan? Apakah Australia harus menyerah
kepada Indonesia dengan segampang itu?" nada suara Perdana Menteri
mulai terdengar sangat memelas.

                                                         ***

TENTU saja, ceritera di atas sekadar khayalan. Mana mungkin ada gagasan
membebaskan Australia dan menggabungkannya ke dalam wilayah
Indonesia. Tetapi, meski fiksi, buku karya John Harper-Nelson yang terbit
akhir tahun 1998 dengan judul The Day They Came serta memakai
sub-judul The Indonesian Incident itu, digarap serius. Dalam buku terbitan
Access Press di Perth, Australia, ini tidak saja suasananya dilukiskan
secara cermat, tetapi kemungkinan bahwa Australia bisa takluk dengan
mudah, diyakini punya dasar pemikiran brilyan.

Disebutkan, dalih Indonesia menduduki Australia Barat adalah membantu
memulihkan hak asasi warga Aborijin, yang dulunya migran dari Indonesia
ribuan tahun silam. Pemerintah Australia akhirnya menyerah, mengacu
kepada pengalaman Perang Dunia II ketika mereka hanya bertahan di
Brisbane dan kota-kota di bagian selatan benua tersebut. Dan itu artinya,
membiarkan wilayah luas di Australia Utara dan Barat, praktis tanpa
pertahanan berarti.

Kisah menghebohkan tersebut hanya dicetak dalam 500 eksemplar buku.
Meski begitu, sambutan masyarakat ternyata sangat hangat. Bayangkan
saja, bagaimana tidak kaget membaca buku yang meramalkan, Australia
dengan sebuah serangan pasukan komando (dan bahkan tanpa meletuskan
senjata) langsung rontok dan digabungkan ke Indonesia.

Letak Indonesia dan Australia memang bertetangga. Kalau Australia
memandang ke utara, mereka selalu dihadapkan wilayah Indonesia yang
begitu luas, bagai mengepung negara tersebut dari lalu lintas dunia. Afrika


di sebelah barat begitu jauh, sementara di arah timur Amerika ada di
belahan dunia lain. Dan di selatan, tak ada lain kecuali laut luas terbentang


sampai kutub selatan.

Dengan demikian, segala macam tetek bengek tentang Indonesia, baik yang
nyata maupun guyonan, selalu tampil menjadi perbincangan serius. Tidak
hanya dalam buku non-fiksi, malahan buku fiksi juga memperoleh
tanggapan serius.

Geoffrey Archer, koresponden jaringan TV ITN, tahun lalu menulis buku
Java Spider. Buku terbitan Random Hause ini tampil sebagai buku laris
karena mengkisahkan penculikan terhadap Stephen Bowen, menteri Inggris
yang sedang berada di Jakarta untuk merundingkan penjualan senjata.

Buku lain yang sampai sekarang juga masih tetap dibicarakan adalah trilogi
karya Kerry Collison. Mantan atase militer Australia ini pernah tinggal di
Jakarta, sehingga dia mampu melukiskan latar belakang dunia politik
Indonesia. Bukunya menjadi lebih menarik karena mengemukakan
permasalahan seusai lengser-nya Presiden Soeharto. Karya Collison
dimulai dari The Tim-Tim Man, kemudian Merdeka Square, dan ditutup
dengan judul Jakarta.

                                                         ***

APAKAH Australia memang mudah dikalahkan, terutama kalau serangan
tersebut datang dari Indonesia?

John Harper-Nelson menunjukkan, Amerika Serikat yang jauh letaknya
tidak mungkin turun tangan membantu Australia. Sedangkan
 negara-negara Eropa, karena serangan Indonesia tidak memakan korban
jiwa, sulit diharapkan tergerak membantu. Bahkan juga Jepang, kalau sudah
memperoleh jaminan tak bakal ada gangguan atas kiriman minyak bumi dan
gas alam cair Indonesia, mustahil bersedia ikut berkorban. Kesimpulannya,
baik ditinjau dari segi militer dan juga diplomatik, nasib dan masa depan
Australia sebenarnya sangat rawan.

Tetapi, perdamaian dunia memang tidak terwujud sesudah Australia Barat
direkayasa bergabung dengan Indonesia. Laksamana Pratap Singh di New
Delhi mulai merasa perlu menjamin keselamatan imigran India yang tinggal
di Fiji, tengah Lautan Pasifik. India agaknya masih ingat, bagaimana dulu
Presiden Soekarno dengan seenaknya mengubah nama Lautan India
menjadi Samudera Indonesia. Inilah sebabnya, sesudah Australia Barat
diintegrasikan ke Indonesia, India mengirimkan armada kapal selamnya ke
Fiji, menyusup lewat perairan Nusantara.

Bergeraknya armada India tentu saja tidak lepas dari pengamatan Pakistan,
musuh abadi India, sehingga insiden di Kashmir hanya sekadar pemicu
lokal. Sementara itu di sisi lain, Beijing juga tidak tinggal diam menghadapi


ekspansi Indonesia, terutama sesudah mereka secara tak langsung ikut
merasakan dampak aksi kerusuhan massal di Jakarta pertengahan Mei
tahun lalu. Melihat Cina sudah mulai bersiap, Jepang juga tergerak untuk
mempersiapkan diri.

Kalimat terakhir karya John Harper-Nelson sangat memukau, "...it may will
be that the full story had only just begun." Dunia terus berputar dan
perdamaian dunia selalu dalam harapan. Kisah yang sebenarnya, bisa
muncul pada setiap saat. (Julius Pour)

Kirim email ke