Susulan posting Surabaya tadi pagi:
NB: Baca dengan hati yang lapang, tanpa kecurigaan, tanpa
perasaan bahwa ada yang ingin menyudutkan kita.
Mardhika
_____________________________________________________________________
Date: Tue, 20 Jul 1999 22:49:52 -0400 (EDT)
From: Sudrun Kii <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Salawat Nabi, Loudspeaker dan saran kepada NU
To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
Ini pengalaman saya semenjak saya sadar menjadi manusia. Sejak kecil
kebetulan saya tinggal tidak jauh dari Mesjid (yang mengurusnya orang)
NU.
Sebelum meneruskan tulisan ini, saya akan jaga diri supaya saya tidak
terjebak kedalam masalah khilafiah. Saya tak bicara soal khilafiah !
Saya hanya mau bicara bahwa telinga saya merasa berisik. Pusing juga
saya terhadap suara-suara yang sangat berisik dari Mesjid di kampung
saya itu. Berisik-nya itu mulai dari sebelum Shalat Shubuh, sampai
menjelang Shalat Isya. Tidak terus menerus tapi sering bener. Karena
seringnya berisik itu, maka saya dulu sering kasihan melihat ayah saya
sampai putar-putar kayak gasing mencari posisi yang agak kedap sambil
menutup sebelah telinga pada saat terima telepon.
Percaya atau tidak, ada Cina tetangga saya itu malahan dia bikin ruang
tidurnya kedap suara, pake bahan kedap suara yang biasa ada di Bioskop
21. Aje gile ! Saya sih kelas nggak mampu punya, kalau harus bikin
begituan.
Ribut ngapain sih mesjid di kampung saya itu ? Ya ribut karena di
menara itu ada Loudspeaker TOA yang ukurannya agak gede dan menghadap
ke tiga penjuru. Bagus untuk adzan ! Panggilan Allah SWT kepada
muslim untukshalat, bagus dah !
Tapi, lewat dari soal bagus buat adzan, saya melihat adanya abuse
terhadap fungsi speaker tersebut. Mengapa saya sebut abuse ? Karena
hampir segala urusan kegiatan yang ada di mesjid itu di-speaker-kan.
Tetek bengek- pun di-speaker-kan, gile bener ! Paling banyak adalah
segala macam shalawat kepada Rasulullah SAW dan kegiatan ibu-ibu, kalau
zaman sekarang disebut majlis Ta'lim-an Lain-nya ada juga tapi tak
terlalu dominan.
Saya kecil, waktu itu tak terlalu perduli dengan persoalan itu. Toh
waktu itu saya lebih banyak bermain daripada belajar. Tapi saya waktu
jadi mahasiswa mulai pusing dah. Giliran harus belajar karena ada
ujian semester, menjadi sama sekali tak dapat belajar karena speaker di
mesjid itu bunyi terus dan keras bener suaranya. Memang berabe !
Sebagai sesama muslim, toleransi memang dibutuhkan. Apalagi muslim
Indonesia yang macam-macam pula golongannya. Orang muslim NU memang
dikenal sebagai muslim traditional. Orang awam akan mengenal NU dengan
kegiatan keagamaannya yang khas. Orang awam akan bisa membedakan
mesjid (yang dikelola) NU karena ,antara lain, loudspeaker-nya yang
benar-benar ter "utilize" !
Ngomong soal toleransi, kita tak akan mengkritik orang NU karena
keseringan shalawat. Kita tak akan kritik orang NU karena keseringan
semacam majlis Ta'lim-an, tidak ! Itu urusan orang NU, dan kita
musti hargai mereka punya point di situ. Soal ibadah itu diterima atau
tidak oleh Allah SWT bukan urusan kita, tapi urusan Allah !
Yang saya mau kritik adalah peng-louldspeaker-an segala kegiatan itu
yang bener-bener bikin orang susah, biarpun untuk sekedar terima
telepon ! Belum lagi, tetangga sebelah punya anak bayi !
Saya mau bertanya kepada ikhwan-ikhwan saya muslim dan muslimah, di
ayat apa dalam al Qur'an dan dalam Hadits Shahih mana bahwa kegiatan
kegiatan agama itu musti di-teriak-kan ? Kalau di zaman Rosul
di-teriak-kan, maka kalau zaman sekarang adalah di-luodspeaker-kan ?
Setahu saya hanya Bilal r.a yang diperintahkan Rosul SAW untuk
me-"neriak"-kan ...mengumandangkan adzan.... which is find !
Panggilan Shalat !
Dan lagian Adzan itu enak bener didengar ! Syahdu bener di dengar,
apalagi saat Shubuh dan Maghrib.
Jadi, kegiatan me-loudspeaker-kan itu mustinya dibatasi. Untuk Adzan
dan untuk Pengumuman saja. Lainnya ya...sudahlah... tidak usah pake
loudspeaker juga toh Allah SWT Maha Mendengar. Boro-boro ceramah
ataupun shalawat, sedangkan suara hati manusia pun Allah SWT mendengar
!
Jadi, saran saya kepada orang NU (ataupun pihak lainnya), tolong
batasi pemakaian loudspeaker. Mengapa ?
Karena :
1. Allah SWT Maha Mendengar.
2. Tidak ada perintah Allah dan RosulNya untuk ceramah dan shalawat
di-teriak-kan.
3. Bisa jadi malah orang lain menilai ada unsur ria didalamnya,
misalnya supaya kedengar banyak ibadah oleh pihak lain.
4. Rosullulah hanya menyuruh Bilal r.a untuk me-ngumandang-kan adzan,
tentunya dengan volume suara yang keras, ajakan shalat !
5. Mengganggu orang lain.
Is it make sense ? Any other ideas are welcome !
----- End of forwarded message from Sudrun Kii -----
____________________________________________________________________
Get free e-mail and a permanent address at http://www.netaddress.com/?N=1