In a message dated 8/13/99 7:36:47 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Saya ingin melemparkan isue disini, apakah
>  betul atau apakah mungkin PDIP dan Golkar
>  bersatu atau bekerja sama atau berkoalisi ?

Selama yg memegang pemerintahan adalah dari
PDIP, menurut saya ini satu keuntungan buat
PDIP. Toh kita sudah lihat sendiri, Amien Rais
tampaknya sudah sulit dipegang omongannya.
Tampaknya Amien Rais tidak sadar kalau permainan
politiknya sangat berbahaya, tepatnya bagi nasib
ratusan juta rakyat Indonesia. Mungkin Amien Rais
merasa enjoy dengan permainan politiknya, lompat
kiri lompat kanan, buat statement kiri buat statement
kanan, tapi satu hal yg seharusnya perlu dia ingat,
akibat ulahnya tersebut nasib ratusan juta rakyat
Indonesia kita diambang bahaya. Pemulihan ekonomi
bisa terhambat dan bisa berlangsung lama.
Saya jadi ragu dengan semangat reformasi dari
Amien Rais. Semangat reformasi yg benar bukan hanya
ucapan di bibir saja tapi di tindakan nyata yaitu tindakan
nyata mendahulukan kepentingan rakyat banyak.
Saya catat, sudah beberapa kali Amien Rais menjilat
ludahnya sendiri. Tampaknya kini saya sudah tidak
terlalu berharap lagi pada Amien Rais. Karir politiknya
dimata saya sudah mati, gelap, tidak ada harapan lagi.
Coba saja bayangkan, bagaimana mungkin dulu dia sama2
tanda tangan kesepakatan Ciganjur, eh belakang dia malah
tidak memperdulikan lagi apa yg sudah dia tekeni.
Dari PAN, kini saya berharap pada Faisal Basri dan Christianto
Wibisono. Mudah2an mereka berdua bisa menjadi motor
PAN untuk kembali ke jiwa reformasi yg sebenarnya, dan
bukan reformasi dibibir saja.

PDIP dengan Golkar? Jelas, PDIP tidak akan menghianati
pemilihnya. Megawati bukanlah tipe pemimpin seperti Amien
Rais. Megawati tipe pemimpin yg konsisten dengan perjuangannya.
Kedekatan Megawati dengan sebagian orang Golkar saya lihat
hanyalah sebagai strategi untuk menyelamatkan perjuangan
reformasi ini setelah melihat dan menyadari Amien Rais ternyata
telah menjauhi semangat reformasi. Saya jadi ingat apa yg pernah
bung Efron tulis, hanya teman yg bisa berhianat.

Kalau mau jujur, kita harus akui di Golkar memang ada orang2
yg punya semangat reformasi murni seperti Marzuki Darusman.
Tapi tentu saja saya tidak setuju kalau Golkar diberi kesempatan
untuk memimpin pemerintahan kembali. Mereka, harus menunjukkan
tindakan nyata terlebih dahulu sebelum bisa diterima kembali.
Lima tahun ke depan ini lah saat untuk membuktikan diri bahwa
mereka bertobat penuh dan kembali ke sisi rakyat, memperjuangkan
nasib rakyat kebanyakan seperti apa yg saat ini sedang diperjuangkan
oleh PDIP dan PKB.

Koalisi yg seperti apa yg pantas antara PDIP dan sebagian Golkar
tersebut?

Menurut saya, koalisi dalam pemilihan presiden saja.
Bila sebagian Golkar itu memang benar2 ingin bertobat, maka
sebagian Golkar tersebut harus mendukung perjuangan PDIP
dan PKB, dalam hal ini menggolkan capres PDIP, capres dari
partai pemenang pemilu. Selebihnya, biarkan PDIP dengan
memperhatikan masukan2 dari partai2 lain serta masyarakat
menyusun kabinetnya.

Setelah itu, bentuk kerjasama yg pas adalah sebagian
Golkar tersebut kembali ke posisi semula, memperjuangkan
nasib rakyat. Mengontrol jalannya pemerintahan yg dipimpin
oleh partai pemenang pemilu, PDIP.

Saya tidak setuju dengan pemikiran2 bagi2 jabatan, bagi2
kekuasaan. Hal ini karena memperbesar kemungkinan terulang
kembali peristiwa orba. Kontrol terhadap pemerintah jadi lemah.
Selain itu, pemimpin pemerintahan jadi bisa lepas tangan dari
tanggung jawab karena bisa saja nanti katakanlah menteri
P & K yg dipegang dari partai "A" yg merupakan titipan dari
partai "A" atas bagi2 jabatan tersebut, melakukan kebijakan2 yg
ngawur. Nah, bagaimana presiden dari partai pemenang pemilu
melakukan teguran? Khan jadi rumit masalahnya. Mau dipecat,
nantinya partai "A" protes, mau didiamkan rakyat yg protes dan
juga jadi merusak kabinet. Kalau partai pemenang pemilu, PDIP,
dibiarkan menyusun sendiri kabinetnya, maka dengan mudah
partai2 lain dan juga rakyat meminta pertanggung jawaban dari
PDIP terhadap orang2 di kabinetnya bila melakukan kebijakan2
yg tidak menguntungkan rakyat. Kontrol jadi jauh lebih mudah
dilaksanakan.

Jadi, koalisi PDIP-PKB-Sebagian Golkar-TNI, sangat dimungkinkan
dengan tujuan menyelamatkan perjuangan reformasi yg murni
yg memang ingin menyelematkan nasib bangsa ini dari
kepurukan yg lebih jauh. Dan koalisi tersebut terbatas hanya
pada pemilihan presiden saja.

Kita harus memberi kesempatan pada sebagian Golkar dan TNI
yg memang benar2 ingin bertobat serta menyelamatkan
perjuangan reformasi yg murni dengan cara mengajak mereka
bergabung pada perjuangan PDIP dan PKB untuk menggolkan
capres dari pemenang pemilu menjadi presiden periode mendatang.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke