Dear saudara-i,
--menanggapi soal pemimpin bangsa ...---
Rakyat Indonesia sudah terlalu lama mencicipi sistem kenegaraan yang
otoriter, yang hanya mendengarkan kepada satu orang, Suharto atau Sukarno.
Kebiasaan ini yang menyebabkan kita merindukan seorang pemimpin tunggal
sebagai pengganti Suharto. Even our politicians nggak sadar2 bahwa kita butuh
infra-structur dan bukan a solo leader seperti yang sudah terjadi yang
lalu-lalu. Mentalitas Feodalistic kita ( Kepulauan Indonesia adalah terdiri
dari kerajaan2 tunggal di masa lampau) menyebabkan rakyat selalu mengidam2kan
seorang raja yang baru. Presiden adalah public servant, pembantu kita, uang
pajak dan harta kita adalah gajinya ... maka kita tidak perlu seorang
pemimpin yang sangat kuat, sakti mandraguna yang bakalan menyetir negara ini
tanpa bantuan siapa2. Megawati disetir oleh sekelilingnya ? Yes, that's the
way it is. Harusnya memang begitu , lebih demokratik, ya nggak ? liat aja tuh
Amien Rais yang belagak jagoan sendiri karena kepentingan pribadi. Apa
jadinya PAN sekarang ? Kasian lah para pemikir2 seperti Christianto Wibisono,
Gunawan Muhammad,  dll yang bergabung didalamnya ... seperti dikhianati.
Seharusnya mereka ikut menyetir Amien Rais. Kesimpulannya, seorang pemimpin
yang bisa disetir adalah suatu hal yang tidak jelek2 sekali. Tentu saja
seorang pemimpin haruslah seorang yang kuat, intelligent dan berkharisma,
tetapi bukan berarti tuli telinganya, buta matanya, kebal hatinya ... dia
harus bisa di setir. Saya pribadi, tidak memilih siapa2. Mega bukanlah calon
pemimpin yang bisa diharapkan untuk jangka panjang. Give her one term and
let's search for another one while she's in power.

Reform, revolutionize MPR dulu ( For example--can we kick those ABRI -
useless dwifungsi stupidity- out of the MPR?), baru ngomong soal presiden.

salam,
Donald

Kirim email ke