In a message dated 8/26/99 10:46:27 PM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Komentar Priyo:
>  Yang ini anggaplah komentar saya "pribadi" - bukan atas nama Madani,
>  karena kelompok Madani ndak lagi merasa perlu menanggapi sentimen
>  pribadi bung Irwan yang macam begini-an.

Irwan:
Saya pun tidak terlalu berharap Kelompok Madani menanggapi tulisan saya.
Yang saya harapkan adalah Kelompok Madani mau lebih peduli terhadap
nasib demokrasi di negeri kita. Ini jauh lebih penting dari pada nanggepin
tulisan saya. Jangan menyebar virus demokrasi.
Sekarang ini semangat reformasi sedang digelorakan yg dimotori oleh
mahasiswa2 Indonesia, tapi koq kenapa justru mahasiswa Indonesia
di AS (tepatnya sebagian kecil mahasiswa Indonesia di AS) malah merusak
semangat reformasi tersebut, semangat untuk menegakkan demokrasi
secara benar dengan penuh konsekuensi.
Ini yg sangat saya sayangkan dari Kelompok Madani kemarin.

Priyo:
>  So far, Madani setidaknya
>  sudah mempunyai andil (sekecil apapun) meng-convinced berbagai pihak di
>  tanah-air....;-))

Irwan:
Silahkan saja, tapi tolong jangan menodai semangat reformasi yg sedang
digelorakan oleh mahasiswa di Indonesia, tolong turut bantu menegakkan
demokrasi secara benar. Taruhlah suara rakyat ditempat yg paling tinggi.

Priyo:
>  Heheeeeeeehhhhhhh....lha ini bung Irwan lha kok malah jadi "blingsatan"
>  sendiri...., nyantai aja lah...

Irwan:
Saya tetap santai. Tapi bukan berarti kalau santai kita lalu ngga bisa
tegas toh?...:)
Saya tetap tegas dan konsisten memperjuangkan reformasi dengan
menegakkan demokrasi secara benar.

Priyo:
>  Saya rasa (dan yakin), justru keberadaan kelompok Madani secara
>  langsung atau tidak ikut menyuburkan demokrasi. Salah satu esensi
>  demokrasi itu: berbeda pendapat adalah wajar dan sah-sah saja -- asal
>  caranya halal & tanpa paksaan. Betul khan?

Irwan:
Apakah penolakan terhadap pihak pemenang pemilu adalah wujud nyata
dari demokrasi yg benar? Bisa anda bayangkan kalau Bob Dole (capres
AS pemilu lalu) menggugat kemenangan Clinton (setelah pemilu selesai)
dengan mengatakan sekitar 64% rakyat AS tidak memilih Clinton
sehingga Clinton tidak layak menjabat presiden.
Atau bisa anda bayangkan bila setelah pemilu selesai, lalu kelompok2 yg
tidak suka Clinton menjabat sebagai presiden lalu komplain dengan mengatakan
negara bisa dalam bahaya bila presiden AS adalah orang yg dulunya pernah
menghisap mariyuana (catatan: Clinton masa muda nya pernah menghisap
mariyuana). Saya beri penekanan pada kata: SETELAH PEMILU.
Apakah demokrasi seperti itu yg sedang disuarakan oleh Kelompok Madani?
Inilah sebabnya kenapa saya katakan apa yg Kelompok Madani lakukan itu
termasuk kategori menyebar virus demokrasi. Tidak kelihatan, tapi tiba2 yg
terkena virus itu bisa menjadi sakit kalau daya tahan tubuhnya tidak kuat.
Silahkan berbeda pendapat, itu sah2 saja dalam demokrasi. Yang tidak
benar dalam demokrasi adalah menolak hasil demokrasi bila ternyata
hasil demokrasi tersebut tidak sesuai dengan kita.
Pemilu sudah berlangsung, rakyat sudah memberikan suara. Dari hasilnya
kita ketahui bersama rakyat mempercayai pemerintahan mendatang dipimpin
oleh PDIP. Dengan kata lain, pernyataan Kelompok Madani tersebut
ingin menentang suara rakyat.

Priyo:
>  Wahhh...lha kalo semua orang yang nggak mendukung Megawati dianggap
>  "memberaki" dan nyebarin virus anti-demokrasi, ya...apa ini namanya
>  ndhak "$oeharto" ganti wajah tho?

Irwan:
Anda ini gimana toh? Saya sudah sering menjelaskan disini, bahwa tidak
ada kaitan antara mendukung Megawati dengan memberaki demokrasi.
Sejak sebelum pencoblosan, saya sering kali dengan tegas mendukung
partai2 reformasi (PKB, PDIP, PAN). Apa waktu itu (sebelum pencoblosan)
saya pernah mengatakan "memberaki" demokrasi kepada orang2 yg tidak
mendukung Megawati? Apa saya pernah mengatakan anti-demokrasi
kepada pihak2 yg mendukung Amien Rais. Bahkan terhadap pendukung
Habibie pun saat itu (sebelum pencoblosan) saya tidak pernah mengeluarkan
kata2 anti-demokrasi karena saya sangat menghargai perbedaan pendapat.

Masalahnya sekarang sudah berbeda. Rakyat sudah memberikan suara
melalui pemilu yg kita yakini bersama sebagai wujud nyata dari demokrasi.
Pemenang pemilu sudah jelas dan sudah diumumkan. Penolakan2 dengan
tidak mengakui dengan jalan tidak memberikan haknya partai pemenang
pemilu, itulah yg masuk kategori memberaki demokrasi. Kebetulan yg
menang pemilu saat ini adalah PDIP dengan Megawati sebagai capresnya.
Seandainya pemenang pemilu kemarin adalah PAN, saya akan dukung
Amien Rais jadi presiden. Begitu pula kalau PKB yg menang, saya akan
dukung capresnya PKB.

Priyo:
>  Cuman, kalo dulu, $oeharto pakai istilah: kalo ndak konstitusional saya
>  gebug!
>  Jadiiii...kalau tidak mau mendukung saya = inkonstitusional =
>  "memberaki" & memvirusi demokrasi = PKI = harus DIGEBUG.
>  Saya berdoa, mudah2an para elite PDI-P tidak mempunyai jalan pikiran
>  seperti anda bung! ;-(

Irwan:
Silahkan anda renungkan kembali kata2 anda dengan memperhatikan
apa yg saya sampaikan di atas.
Semoga anda bisa membedakan antara perbedaan pendapat dengan
menerima konsekuensi dari demokrasi.
Anda ingin lihat contoh nyata dari menerima konsekuensi demokrasi?

Saya ambil contoh yg lagi hangat saja, dia adalah Faisal Basri, sekjen
dari PAN. Saya yakin dia tidak terlalu suka dengan Megawati. Dia lebih
senang dengan Amien Rais serta garis kebijakan PAN. Karena itulah
maka Faisal Basri memilih PAN sebagai partai tempat menyalurkan
aspirasi politiknya. Sudah kita ketahui bersama, Faisal Basri akhirnya
setelah melihat hasil dari pemilu, kini menerima capres partai pemenang
pemilu yg dalam hal ini adalah PDIP untuk menjadi presiden Indonesia
mendatang demi tegaknya demokrasi di negeri kita. Kenapa saya ambil
contoh Faisal Basri? Karena Faisal Basri termasuk orang yg tidak terlalu
suka dengan Megawati tapi dia tahu betul apa itu demokrasi dan apa
itu konsekuensi dari demokrasi. Dia termasuk ksatria demokrasi yg tampaknya
masih langka di jaman reformasi ini.
Tampaknya Kelompok Madani harus belajar lagi agar mengetahui
apa sih konsekuensi dari demokrasi itu?
Apakah alasan perbedaan pendapat boleh digunakan untuk membenarkan
sikap penolakan terhadap hasil demokrasi seperti pemilu kemarin?

Priyo:
>  Monggo,
>  ~yo
>
>  PS: Kalo memang Gus Dur terbukti terlibat skandal, saya rasa kelompok
>  Madani dengan tulus akan segera mencabut kembali dukungannya.

Irwan:
Weleh, apa yg saya tanya koq lain yg anda jawab. Coba anda lihat lagi
bagaimana saya langsung menjawab pertanyaan anda dengan tegas.
Saya ulang lagi deh pertanyaan saya ke anda yg tampaknya anda hindari
untuk menjawab (mbok ya jadi jubir itu tegasan sedikit dong, jangan
seperti sebagian elit politik kita yg suka mencla-mencle...hehehehe)
Nih, saya kutip ulang lagi:

--------kutipan pertanyaan lalu------
Irwan:
Nah, satu pertanyaan balik buat anda.
Kalau ternyata Megawati tidak terlibat skandal Lippogate,
akan kah kelompok Madani anda mencabut petisi
yg lalu demi tegaknya demokrasi yg benar di negeri kita?
---------akhir kutipan--------

Ditunggu jawaban tegas dari anda, jubir Kelompok Madani....:)

catatan:
Saya sengaja menulis posisi anda sebagai jubir Kelompok Madani
karena jawaban anda nantinya terhadap pertanyaan saya itu
akan saya jadikan jawaban resmi dari Kelompok Madani.

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke