In a message dated 8/29/99 10:31:01 AM Eastern Daylight Time,
[EMAIL PROTECTED] writes:

> Budi:
>  Apa anda yakin bahwa para 'juragan' tsb melakukannya sendiri tanpa
>  melibatkan para 'teri'? Apa anda tidak tahu bahwa KKN itu sudah jadi
>  penyakit kronis tidak saja di lingkup para 'juragan' namun juga di sekitar
>  kehidupan kita sehari-hari yang 'teri' juga ini? Bisa bayangkan nggak kalau
>  sebut saja 25 ribu rupiah kali 100 juta rakyat yang korupsi di kalikan
>  setiap hari?

Irwan:
???
25 ribu sehari, sebulan 500 ribu (20 hari kerja). Hmm..kalau memang
gitu maka seharusnya ngga ada masyarakat Indonesia yg miskin lagi,
sulit makan, sulit tempat tinggal, pengangguran.
Anda ngga salah ngasih contoh???

Tambahan, apakah anda di atas sedang ingin mengatakan bahwa
KKN kelas atas (sekelompok orang) yg jumlahnya bisa miliaran
rupiah bisa dibenarkan?

Budi:
>  Apa anda yakin bahwa semua orang yang di dekat anda adalah 'bersih'? Apa
>  anda yakin orang di sekitar anda tidak ada yang 'juragan'? Kalau ada, apa
>  anda yakin bahwa mereka adalah 'juragan' yang bebas KKN?

Irwan:
Saya ngga ngerti jalan pikiran anda. Apakah anda mentolerir KKN?
Apakah para pelaku KKN di tingkat pemerintahan harus dibiarkan saja,
tidak perlu dipermasalahkan dengan alasan bahwa kita semua bisa
saja terlibat KKN? Apakah anda setuju bahwa pemerintahan sekarang
sebaiknya dipertahankan saja? Saya ingin tahu sikap anda akan hal
ini agar saya bisa makin jelas dalam melihat posisi anda.

Budi:
>  Thus, yang bikin rusak negara ini kita semua terlebih para 'juragan' yang
>  'sakit KKN'.

Irwan:
Apa yg bisa dilakukan oleh guru negeri dengan gaji hanya 40 ribu sebulan
sementara pengeluaran bisa mencapai 200 ribu?
Apa yg bisa dilakukan oleh anggota TNI kelas biasa yg punya gaji hanya
100 ribu sebulan?
Apa yg bisa dilakukan oleh dosen PTN yg punya gaji hanya 100 ribu sebulan?
Apa yg bisa dilakukan oleh pegawai negeri yg punya gaji hanya 150 ribu
sebulan?
Penguasa orba menciptakan sistem agar posisi mereka yg rendahan sangat rentan
untuk melakukan pungutan2 walau sebagian lagi tetap bertahan dan lebih mencari
pemasukan tambahan dengan cara2 yg benar.

Yang bikin rusak negara ini adalah para pembuat aturan dan pengontrolnya
karena merekalah Indonesia jadi seperti sekarang. Badan legislatif, yudikatif,
dan eksekutif banyak yg tercemar. Merekalah dibayar rakyat bukan untuk
bikin susah rakyat. Mereka digaji rakyat agar membawa Indonesia ke arah
yg benar, agar Indonesia di atur dengan benar. Bukan sebaliknya, dikuras
habis2an. Semoga anda bisa membedakan permasalahan yg sedang dibahas.

Di AS itu bukannya ngga pernah ada usaha2 untuk
melakukan KKN. Cuma bedanya, disini tuh hukumnya kuat
banget. Sekali ada indikasi melakukan KKN, maka akan
diusut secara serius dan terbuka, kontrol ada di rakyat.
Jadi beda dengan kita dimana pemerintah kita bahkan
presidennya nutup2in.

>  Budi:
>  Anda mau 'menunggangi' mahasiswa?
>  Enak sekali anda, cuman 'ngompori' dari belakang sambil sembunyi sementara
>  mereka mempertaruhkan nyawa.

Irwan:
Silahkan anda membaca kembali bentuk2 perjuangan
yg bisa dilakukan. Yang jelas sikap membenarkan apa
yg dilakukan oleh para petinggi pemerintahan yg melakukan
KKN tidak bisa dibenarkan sama sekali dan bertentangan
dengan perjuangan mahasiswa dan rakyat selama ini.


>  Budi:
>  Apa yang anda temukan di berita-berita nasional? Apa ada 'juragan' yang
>  tertangkap dan diadili karena KKN? Soeharto? Andi Ghalib? Bukti banyak,
>  namun belum bisa menjadikan mereka tersangka KKN. Artinya, belum terbukti
>  ber-KKN. Lalu yang mana yang KKN? Yang mana yang merusak negara ini? Sebut
>  pula bukti kongkritnya.

Irwan:
Pantes aja gue rada susah ngomongnya dengan anda. Kita ternyata
berbeda dalam melihat persoalan yg ada.
Coba anda renungin deh, apa yg bisa anda harapkan dari sekumpulan
orang bejat yg ada di rejim yg sekarang, baik itu di eksekutif, yudikatif,
dan juga legislatif.
Apakah diantara mereka akan saling menghukum? Yang ada malah
saling melindungi.
Itulah sebabnya kenapa kelompok bejat itu harus segera dibersihkan
kalau kita mau Indonesia segera pulih. Hukum harus ditegakan dan
berpihak pada rakyat bukan penguasa.
Revolusi rakyat adalah salah satu alternatif menyembuhkan sakit
parah yg sudah kronis ini.


>  Budi:
>  Saya tidak sependapat dengan yang anda tulis di atas ini. Definisi anda tsb
>  tidak benar menurut saya.
>
>  Apa yang telah didiskusikan di milis ini tidak pernah menyimpulkan sesuatu
>  dan atau disepakati peserta. Dengan demikian, adalah absurd menggunakan
>  bagian dari diskusi di milis ini sebagai reference.

Irwan:
Silahakan anda baca penjelasan bung Donald.
Dan jangan lupa, yg sempat mengangkat masalah reformasi vs revolusi ini juga
bukan kita2 saja disini. Setahu saya kalau tidak salah ingat Cak Nur juga
sempat menyampaikan hal seperti ini (revolusi vs reformasi)

Bung Budi, anda menyatakan bahwa definisi saya salah menurut anda. Tapi anda
tidak maju dengan menyampaikan yg benar menurut anda. Jadi, dari mana
anda tahu bahwa definisi saya salah bila anda tidak tahu yg benarnya?
Silahkan ajukan definis revolusi vs reformasi yg menurut anda benar.

Ngomong2 soal reference, apakah surat gelap seperti yg sempat
dibaca oleh Amien Rais dan AM Fatwa cukup representatif untuk
dijadikan sebagai bukti? Hehehe...makanya mereka berdua sampai
sekarang ngga bisa nunjukin bukti2 atas tuduhan yg mereka lontarkan.
Yang lebih aneh lagi, malah pihak tertuduh diminta menyampaikan
bukti2 karena tampaknya pihak penuduh ngga mampu nunjukkin
bukti2. Inilah Indonesia kita yg penuh dengan elit politik bermuka 1000.
(awas aja kalau ada yg minta saya nunjukin 996 muka lainnya...hehehehe)

jabat erat,
Irwan Ariston Napitupulu

Kirim email ke