Republika hari ini.

Gus Dur akan jadi Presiden.
Siapa wakilnya ? Matori atau Amien Rais ?
Atau ditengah jalan terjadi perubahan, bisa saja karena kesehatan Gus Dur
mundur, kemudian WaPres menjadi Pres.

Akhirnya.

Dan partai "reformasi" (katanya) Golkar kemungkinan besar akan berkoalisi
dengan partai reformasi (katanya) PDIP. Jadinya apa ya ? :-)

Ingin lihat konsistensi dukungan dari masing-masing anggota permias di ML
ini terhadap partainya :-)

Soe

http://www.republika.co.id/9909/03/23375.htm
http://www.kompas.com/kompas-cetak/9909/03/UTAMA/berb01.htm

----------------------------------------------------------------------------
--------------------------------

Gus Dur: Pencalonan Megawati sudah Macet


JAKARTA -- Ketua Umum PBNU KH Andurrahman Wahid menyatakan secara politik
pencalonan Megawati Soekarnoputri sebagai presiden sudah macet. ''Secara
politik pencalonan Megawati itu macet, karena dia tidak mencapai mayoritas
sehingga mekanisme UUD tidak bisa diberlakukan sepenuhnya,'' tegas Gus Dur
kepada wartawan usai tasyakuran atas keberhasilan operasi matanya, tadi
malam di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Menurut Gus Dur, berdasarkan formulasi agama, apabila tidak mencapai
mayoritas maka proses pemilihan presiden harus dikembalikan kepada Allah dan
Utusannya. Jika ditafsirkan dalam pengertian sekarang, berarti mekanisme
pemilihan presiden harus dikembalikan kepada MPR. ''Karena itu, siapa pun
yang terpilih sebagai presiden oleh MPR harus didukung oleh semua pihak,''
papar Gus Dur.

Gus Dur kemudian menjelaskan, pencalonan Megawati oleh Ketua Umum PKB Matori
Abdul Djalil dari segi agama dapat dibenarkan karena pencalonan itu adalah
hak PKB. Sedangkan pencalonan dirinya oleh Poros Tengah, Gus Dur menyatakan
menerima karena secara agama juga dibenarkan. ''Sebab, pencalonan Poros
Tengah terhadap saya, dan pencalonan Megawati oleh Matori sama-sama
dibenarkan menurut agama,'' ujarnya.

Dalam tasyakuran itu, hadir Ketua Umum PBB Yusril Ihza Mahendra, Ketua PAN
AM Fatwa, Ketua PPP Zarkasih Nur, Ketua Umum PKB Matori Abdul Djalil,
Presiden PK Nurmahmudi Ismail, Fuad Bawazir, Mari'e Muhammad, dan Eki
Syahrudin. Juga hadir tokoh-tokoh agama Hindu dan Budha, tokoh ulama NU,
Dubes Palestina, Arab Saudi, Iran, dan Irak.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Ketua Umum Golkar Akbar Tanjung tidak
hadir dalam acara itu, meski menurut Gus Dur, mereka diundang. Sedangkan
Ketua Umum PAN Amien Rais tidak dapat hadir kerena sedang melaksanakan
umroh.

Dalam tasyakuran itu, yang menarik perhatian wartawan adalah kehadiran Ketua
Umum PKU KH Yusuf Hasyim (Pak Ud). Pak Ud -- yang selama ini dikenal kritis
kepada Gus Dur -- saat menyampaikan sambutannya, di luar dugaan menyatakan
dukungan terhadap pencalonan Gus Dur. ''Warga NU yang tidak mendukung Gus
Dur, perlu diteliti kembali kadar ke-NU-annya,'' ujar paman Gus Dur itu,
yang disambut ''Allahu Akbar...'' dari Nahdliyin.

Tasyakuran menjadi berwarna ketika KH Mustafa Bisri diminta memberikan
sambutan, malah membacakan puisinya berjudul Apakah Kau Terlalu Bebal, yang
isinya menyindir tingkah pola politisi di Tanah Air.

Syukuran ini, Zarkasih Nur sebelum pertemuan, menunjukkan keseriusan Gus Dur
menjadi capres dari Poros Tengah. ''Semestinya rekan-rekan wartawan sudah
bisa menebak arah pertemuan akan ke mana. Itu namanya tanda-tanda zaman,''
katanya berkelakar.

Mengenai dukungan PKB kepada Megawati Soekarnoputri, ditengarai bergeser.
Ketua PKB Alwi Shihab usai pertemuan dengan ulama NU kemarin menyatakan,
para ulama NU baru akan menentukan sikap akhir soal calon presiden sebelum
berlangsungnya Sidang Umum MPR.

''Saya kira sebelum Sidang Umum MPR para kiai akan mengeluarkan imbuan. Dan
sampai hari ini kami terus mencermati proses politik. Jadi keputusan PKB
untuk mendukung Megawati itu keputusan semifinal saja,'' kata Alwi Shihab,
kepada wartawan di kantor PBNU, Jakarta, kemarin (2/9).

Perubahan sikap PKB itu diduga setelah beberapa kiai terkemuka -- di
antaranya KH Mustofa Bisri, KH Abdullah Faqih, KH Abdullah Abbas, dan KH
Mukhid Muzadi -- mengadakan pertemuan dengan Gus Dur. Dalam pertemuan itu
juga hadir salah seorang anggota Dewan Syura PKB KH Yusuf Muhammad.

Soal pencalonan Megawati, sebelumnya mendapat reaksi keras sejumlah kiai dan
fungsionaris PKB. Musyawarah Pimpinan (Muspim) PKB 16 Agustus lalu, akhirnya
memutuskan mendukung calon presiden dari partai pemenang pemilu tanpa
menyebutkan nama calon yang dimaksud. Namun, pada hari yang sama Ketua Umum
PKB Matori Abdul Djalil dalam pertemuannya dengan Megawati menyatakan PKB
mendukung Megawati. ''Hari ini PKB dan PDI Perjuangan sudah besanan
[menikahkan anak-anaknya],'' katanya ketika itu.

Ihwal pertemuan dengan ulama itu, Alwi Sihab menyatakan sebagai pertemuan
silaturahmi biasa. Dan dalam pertemuan itu tidak disinggung mengenai soal
calon presiden Poros Tengah atau soal politik lainnya.

''Para kiai hanya mendoakan agar Gus Dur tabah menghadapi segala tantangan
serta diberi kekuatan untuk memikul tanggung jawab demi keutuhan bangsa dan
negara. Jadi pertemuan itu tidak menyinggung soal pencalonan presiden,''
kata Alwi lagi.

Anggota Dewan Syura PKB, KH. Yusuf Muhammad kepada pers mengatakan,
pertemuan itu memang sekadar silaturami. Para kiai hanya ingin mendoakan
agar Gus Dur diberi terus dikarunai ketabahan dan kesehatan.

''Kami hanya berdoa saja. Untuk masalah presiden diserahkan sepenuhnya ke SU
MPR. Dan para ulama sebelum SU MPR memang akan mengadakan pertemuan terakhir
guna memberikan nasihat mengenai apa yang harus nantinya dilakukan. Jadi
semuanya sekarang masih dalam proses. Dan putusan terakhir itu ada pada
sidang umum tersebut,'' tandas KH Yusuf Muhammad.

Pertemuan Gus Dur dengan para kiai itu berlangsung mulai pukul 14.00 hingga
15.30 WIB. Selain para kiai, Timmy Habibie, siang itu juga ikut terlihat
datang ke kantor PB NU. Timmy terlihat pulang beberapa saat setelah para
kiai meninggalkan kantor tersebut. ''Saya tidak tahu soal kedatangan Timmy.
Kami dan dia ada di ruang terpisah,'' tegas Alwi. lha/uba/zis

Kirim email ke